Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Ibn Rusyd Seorang Analis Masyhur

Ibn Rusyd mempunyai nama lengkap Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ahmad ibn Rusyd. Ia lahir dari keluarga yang memiliki tradisi dan peran intelektual yang besar, serta keahlian yang diakui dalam dunia yuridis. Kakeknya dari pihak bapak adalah seorang hakim agung di Cordoba, di samping kedudukannya sebagai salah seorang ahli hukum terkemuka dalam madzhab Maliki, salah satu madzhab yang sangat dominan dalam wilayah Maghrib dan Andalusia. Ayahnya, Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd pernah menjabat hakim di Cordoba. Selain jabatan dan kedudukan di atas, ia juga sangat aktif dalam kegiatan politik dan sosial.

Ibn Rusyd Seorang Analis MasyhurPada tahun 520 H (1126 M), ketika Ibn Rusyd lahir, Cordoba tengah berada pada zaman keemasannya (golden era) sebagai salah satu ibu kota ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ibn Rusyd dilahirkan 150 tahun sepeninggal khalifah Hakam II Al-Mustanshir, seorang khalifah yang sangat antusias dan tinggi cita-citanya untuk memajukan ilmu pengetahuan. Ia senantiasa berupaya bagaimana agar Cordoba menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang sanggup bersaing dengan Baghdad pada masa pemerintahan al-Makmun. Keadaan yang begitu semarak dan kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan seperti di atas terus berlangsung hingga masa kelahiran Ibn Rusyd. Untuk itu, Ibn Rusyd dari kecilnya hidup di ibukota kelahirannya dengan suasana kehidupan yang penuh dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Ibn Rusyd sangat menguasai disiplin-disiplin Ilmu kalam, fiqh, sastra dan bahasa Arab. Dalam semua bidang ilmu ini, ia tidak mendapatkan saingan yang berarti dari para ilmuwan lainnya yang hidup pada masanya. Mengenai masalah ini, Ibn al-Abbar menceritakan bahwa kajian analisis tampaknya lebih menarik perhatian Ibn Rusyd dibanding ilmu-ilmu perawian. Pada tahun 1169 M, Ibn Tufail membawa Ibn Rusyd ke hadapan sultan yang berpikiran maju dan memberi perhatian di bidang ilmu, yaitu Abu Ya'qub Yusuf yang memberinya tugas untuk menyeleksi dan mengoreksi berbagai syarah (komentar) dan penafsiran terhadap karya-karya Aristoteles, sehingga ungkapan-ungkapannya lebih kena dan bersih dari banyak cacat karena keteledoran transkripsi maupun kekeliruan para penulis sejarah dan penafsir lainnya. Sejak tahun itu, Ibn Rusyd memulai kerja intelektualnya yang berat.

Saat Ibn Tufail memasuki usia senja, Ibn Rusyd menempati jabatan sebagai dokter pribadi Sultan Abu Ya'qub Yusuf di istana Marakish pada tahun 1182 M. Setelah sultan Abu Ya'qub Yusuf meninggal dunia tahun 1184 M, di sisi penggantinya, sultan Manshur Abu Yusuf Ya'qub (1184-1199), kedudukan Ibn Rusyd tidak berlangsung lama. Ia mengalami inkuisisi (al-mihnah) dan tekanan berkenaan dengan ideologi dan pemikiran-pemikiran filsafatnya pada tahun 1195. Buku-buku Ibn Rusyd dan banyak buku filsafat karya para filsuf berbobot lainnya dibakar, dan masyarakat dilarang keras mempelajari ilmu-ilmu praktis dan rasional selain disiplin-disiplin ilmu kedokteran, astronomi dan ilmu ukur.

Ketika badai inkuisisi ini berlalu, Ibn Rusyd memperoleh kedudukannya kembali di sisi sultan dan tinggal lagi di istana kerajaan, dan begitu pula posisi filsafat dan ilmu-ilmu rasional lainnya dalam kehidupan bernegara. Akan tetapi, ajal menjemputnya tidak lama setelah masa ini, yakni pada tanggal 11 Desember 1198 M.

Selasa, 08 April 2014

Biografi Abu Mansur Al-Hallaj Si Pemintal Wol

Biografi Abu Mansur Al-Hallaj Si Pemintal Wol - Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughist al-Husain bin Manshur bin Muhammad al-Baidhawi. Lahir di Baida sebuah kota kecil di wilayah Persia pada tahun 244 H/855 M. Ia tumbuh dewasa di kota Wasith, dekat Baghdad. Pada usia 16 tahun ia belajar pada seorang sufi terkenal saat itu, yaitu Sahl bin Abdullah al-Tasturi di Ahwaz. Dua tahun kemudian ia pergi ke Bashrah dan berguru kepada ‘Amr al-Makki yang juga seorang sufi, dan pada tahun 878 M, ia memasuki kota Baghdad dan belajar kepada al-Junaid. Setelah itu, ia pergi mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam ilmu tasawwuf. Ia mendapat gelar “al-Hallaj” karena penghidupannya yang diperoleh dari memintal wol [1].

Dalam semua perjalanannya dan pengembaraannya ke berbagai kawasan Islam seperti Khurasan, Ahwaz, India, Turkistan, dan Makkah, al-Hallaj telah banyak memperoleh pengikut. Ia kemudian kembali ke Baghdad pada tahun 296 H/909 M [2]. Di kota ini, pengikutnya semakin bertambah banyak karena kecaman kecamannya terhadap kebobrokan pemerintah yang berkuasa pada waktu itu. Secara kebetulan ia bersahabat dengan kepala rumah tangga istana, Nasr al-Qusyairi, yang mengingatkan sistem tata usaha yang baik dan pemerintahan yang bersih.

Al-Hallaj selalu mendorong sahabatnya melakukan perbaiakan dalam pemerintahan dan selalu melontarkan kritik terhadap penyelewengan-penyelewengan yang terjadi. Pada waktu yang sama, aliran-aliran keagamaan dan tasawwuf tumbuh dengan subur. Hal itu membuat pemerintah sangat khawatir terhadap kecaman kecaman yang sangat keras dan pengaruh sufi ke dalam struktur politik.

Biografi Abu Mansur Al-Hallaj Si Pemintal WolOleh karena itu, ucapan al-Hallaj “Ana al-Haqq” yang tidak dapat dimaafkan ulama fiqh dan dianggap sebagai ucapan kemurtadan, dijadikan alasan untuk menangkapnya dan memenjarakannya. Setahun kemudian ia dapat meloloskan diri dari penjara berkat pertolongan sipir penjara, tetapi empat tahun kemudian ia tertangkap lagi di kota Sus [3].

Setelah dipenjara selama delapan tahun, al-Hallaj dihukum gantung. Sebelum digantung, ia dicambuk seribu kali tanpa mengaduh kesakitan, lalu dipenggal kepalanya. Namun, sebelum dipancung, ia meminta sholat dua rakaat. Setelah selesai sholat, kaki dan tangannya dipotong, badannya digulung dalam tikar bambu lalu dibakar dan abunya dibuang ke sungai, sedangkan kepalanya di bawa ke Khurasan untuk dipertontonkan. Dan akhirnya al-Hallaj wafat pada tahun 922 M. Kematian tragis al-Hallaj yang tampak seperti dongeng tidak membuat gentar para pengikutnya. Ajarannya masih tetap berkembang. Terbukti setelah satu abad dari kematiannya, di Irak ada 4000 orang yang menamakan diri hallajiah [4]. Di sisi lain, pengaruhnya sangat besar terhadap para pengikutnya. Ia dianggap mempunyai hubungan dengan gerakan Qaramitah.

Di antara ajaran tasawwuf al-Hallaj yang paling terkenal adalah al-Hulul dan Wahdat al-Syuhud, yang kemudian melahirkan paham kesatuan wujud yang dikembangkan Ibn ‘Arabi. Al-Hallaj memang pernah mengaku bersatu dengan Tuhan (hulul). Al-Hallaj berpendapat bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada sifat-sifat ketuhanan. Ia mentakwilkan QS. Al-Baqarah ayat 34, bahwa Allah member perintah kepada malaikat untuk sujud kepada Adam. Karena yang berhak untuk diberi sujud hanya Allah, al-Hallaj memahami bahwa dalam diri Adam sebenarnya ada unsur ketuhanan [5].

Harun Nasution mengemukakan pendapat al-Hallaj demikian, karena sebelum menjadikan makhluk, Tuhan melihat Dzat-Nya sendiri, cinta yang tidak dapat disifatkan, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini. Ia mengeluarkan sesuatu dari tiada dalam bentuk “copy” diri-Nya yang mempunyai segala sifat dan nama. Bentuk “copy” ini adalah Adam. Pada diri Adam-lah, Allah muncul [6]. Hal ini tampak dalam Syi’irnya:

Maha Suci Dzat yang sifat kemanusiaan-Nya
membuka rahasia ketuhanan-Nya yang gemilang.
Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata
dalam bentuk manusia yang makan dan minum”.

Melalui syi’ir di atas, tampaknya al-Hallaj memperlihatkan bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan-Nya sendiri (lahut) dan sifat kemanusiaan (nasut). Jika “nasut” Allah mengandung tabiat seperti manusia yang terdiri atas roh dan jasad, “lahut” tidak dapat bersatu dengan manusia kecuali dengan cara menempati tubuh setelah sifat-sifat kemanusiaannya hilang, seperti yang terjadi pada diri Isa As.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa “hulul” yang terjadi pada al-Hallaj tidaklah nyata karena memberi pengertian secara jelas adanya perbedaan antara hamba dan Tuhan. Dengan demikian, “hulul” yang terjadi hanya sekedar kesadaran psikis yang berlangsung pada kondisi “fana”, atau menurut ungkapnya sekedar terlebarnya “nasut” dalam “lahut”, atau dapat dikatakan antara keduanya tetap ada perbedaan, seperti dalam Syi’irnya:

Air tidak dapat menjadi,
meskipun keduanya telah bercampur aduk”.








Reff:

[1]Saleh Abdul Sabur, Tragedi al-Hallaj, Pustaka, Bandung, 1976, hal. viii.
[2] Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani, Pustaka, Bandung, 1985, hal. 86.
[3] Hamka, Tasawwuf Perkembangan dan Pemurniannya, Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1980, hal. 112.
[4] Kamil Mushthafa al-Syibli, al-Shillah bain al-Tasawwuf wa al-Tasyayyu, Dar al-Ma’arif, Mesir, t.t, hal. 376. 
[5] Abdul Qadir Mahmud, al-Fikr al-Islami wa al-Falsafah al-Mu’aridhah fi al-Qadim wa al-Hadits, Ha’iah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1986, hal. 77-78.
[6] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal. 79.

Senin, 24 Maret 2014

Biografi Abu Yazid al-Bustomi Si Pemenuh Panggilan Tuhan

Biografi Abu Yazid al-Bustomi Si Pemenuh Panggilan Tuhan - Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan al-Bustami. Lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 874 – 947 M. Nama kecilnya adalah Thaifur. Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster, kemudian masuk dan menjadi pemeluk agama Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk keluarga berada di daerahnya, tetapi ia lebih memilih hidup sederhana. Sejak dalam kandungan ibunya, konon kabarnya Abu Yazid telah mempunyai kelainan. Ibunya berkata bahwa ketika dalam perutnya, Abu Yazid akan memberontak sehingga ibunya muntah kalau menyantap makanan yang diragukan kehalalannya [1].

Sewaktu meningkat usia remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan seorang anak yang patuh mengikuti perintah agama dan berbakti kepada orang tuanya. Suatu kali gurunya menerangkan suatu ayat dari surat Lukman yang kurang lebih artinya, “Berterima kasihlah kepada Aku dan kepada kedua orang tuamu”. Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid. Ia kemudian berhenti belajar dan pulang untuk menemui ibunya. Sikap ini menggambarkan bahwa ia selalu berusaha memenuhi setiap panggilan Allah.

Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi seorang faqih dari madzhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al-Sindi. Ia mengajarkan ilmu tauhid, ilmu hakikat, dan ilmu lainnya kepada Abu Yazid. Hanya saja ajaran sufi Abu Yazid tidak ditemukan dalam bentuk buku. Dalam menjalani kehidupan zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun-gurun pasir Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali [2].

Ajaran tasawwuf terpenting Abu Yazid adalah fana’ dan baqa’. Dari segi bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawwuf, fana adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur. Dalam hal ini, Abu Bakar al-Kalabadzi (wafat 378 H/988 M) mendefinisikannya hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu [3].

Pencapaian Abu Yazid ke tahap fana’ dicapai setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah, seperti tampak dalam ceritanya: “Setelah Allah menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar puas dari-Nya. Maka, diriku dicap dengan keridhaan-Nya. Mintalah kepada-Ku semua yang kau inginkan, Katanya. Engkau yang Aku inginkan, jawabku. Karena Engkau lebih utama dari pada anugerah, lebih besar dari pada kemurahan, dan melalui Engkau aku mendapat kepuasan dalam diri-Mu”.

Jalan menuju fana’ menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan. Ia bertanya, bagaimana caranya agar aku sampai kepada-Mu? Tuhan menjawab, tinggalkan diri (nafsu)mu dan kemarilah.

Adapun baqa’, berasal dari kata baqiya. Arti dari segi bahasa adalah tetap. Sedangkan berdasarkan istilah tasawwuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Paham baqa’ tidak bisa dipisahkan dengan paham fana’ karena keduanya merupakan paham yang berpasangan. Jika seorang sufi sedang mengalami fana’, ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.

Dalam menerangkan kaitan antara fana’ dan baqa’, al-Qusyairi (baca juga postingan: Pejuang Tangguh dari Istawa Abdul Karim al-Qusyairi) menyatakan: 
Barangsiapa meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela, maka ia sedang fana’ dari syahwatnya. Tatkala fana’ dari syahwatnya, ia baqa’ dalam niat dan keikhlasan ibadah; ... Barangsiapa yang hatinya zuhud dari keduniaan, maka ia sedang fana’ dari keinginannya, berarti pula sedang baqa’ dalam ketulusan inabahnya”[4]. 
Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahapan fana’ dan baqa’. Hanya saja dalam literatur klasik, pembahasan tentang ittihad ini tidak ditemukan. Apakah karena pertimbangan keselamatan jiwa ataukah ajaran ini sangat sulit dipraktekkan merupakan pertanyaan yang sangat baik untuk dianalisis lebih lanjut. Namun, menurut Harun Nasution uraian tentang ittihad banyak terdapat di dalam buku karangan orientalis [5].




Reff:
[1] Fariduddin al-‘Aththar, Warisan Para Auliya, Pustaka, Bandung, 1983, hal. 128.
[2] M. M. Syarif, A History of Muslim Philosophy, Otto Harrassowitz, Wiesbaden, 1966, vol. 1, hal. 342.
[3] Al-Kalabadzi, al-Ta’aruf li Madzhab Ahl al-Tasawwuf, Isa Bab al-Halabi, Mesir, 1960, hal. 147.
[4] Abu Qasim al-Karim al-Qusyairiyyah, al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf, Isa Bab al-Halabi, 1334, hal. 39.
[5] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal. 79.

Kamis, 20 Maret 2014

Biografi Dzu Al-Nun Al-Misri Peletak Dasar-Dasar Tasawwuf

Biografi Dzu Al-Nun Al-Misri Peletak Dasar-Dasar Tasawwuf - Dzu al-Nun al-Misri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang tinggal di sekitar pertengahan abad ketiga Hijriah. Nama lengkapnya adalah Abu al-Faidh Tsauban bin Ibrahim. Beliau dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi Mesir pada tahun 180 H/796 M dan wafat pada tahun 246 H/856 M [1]. Julukan Dzu al-Nun diberikan kepadanya sehubungan dengan berbagai kekeramatannya yang Allah berikan kepadanya. Di antaranya beliau pernah mengeluarkan seorang anak dari perut buaya di sungai Nil dalam keadaan selamat atas permintaan ibu dari anak tersebut.

Asal mula al-Misri tidak banyak diketahui, tetapi riwayatnya sebagai seorang sufi banyak diutarakan. Dalam perjalanan hidupnya al-Misri selalu berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Beliau pernah menjelajahi berbagai daerah di Mesir, mengunjungi Bait al-Maqdis, Baghdad, Makkah, Hijaz, Syria, Pegunungan Libanon, Anthokiah, dan Lembah Kan’an [2]. Hal ini memungkinkannya untuk memperoleh pengalaman yang banyak dan mendalam. Beliau hidup pada masa munculnya sejumlah ulama terkemuka dalam bidang ilmu fiqih, ilmu hadits, dan guru sufi sehingga beliau dapat berhubungan dan mengambil pelajaran dari mereka. Beliau pernah mengikuti pengajian Ahmad bin Hanbal. Beliau mengambil riwayat hadits dari Malik, al-Laits, dan lain-lainnya. Adapun yang pernah mengambil riwayat darinya, antara lain al-Hasan bin Mush’ib al-Nakha’i. Gurunya dalam bidang tasawwuf adalah Syaqran al-‘Abd atau Israfil al-Maghribiy. Ini memungkinkan baginya untuk menjadi seorang yang alim, baik dalam ilmu syari’at maupun tasawwuf [3].

Sebelum al-Misri, sebenarnya sudah ada guru sufi, tetapi beliau adalah orang pertama yang member tafsiran terhadap isyarat-isyarat tasawwuf. Beliau pun merupakan orang pertama di Mesir yang berbicara tentang ahwal dan maqamat para wali dan orang yang pertama yang memberi definisi tauhid dengan pengertian yang bercorak sufistik. Beliau mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan pemikiran tasawwuf. Tidaklah mengherankan kalau sejumlah penulis menyebutnya sebagai peletak dasar-dasar tasawwuf [4].

Pendapat tersebut cukup beralasan mengingat al-Misri hidup pada masa awal pertumbuhan ilmu tasawwuf. Lagi pula, beliau seorang sufi pengembara yang memiliki kemampuan dan keberanian untuk menyatakan pendapatnya. Keberaniannya itulah yang menyebabkan beliau harus berhadapan dengan gelombang protes yang disertai dengan tuduhan zindiq. Akibatnya, beliau dipanggil menghadap Khalifah al-Mutawakkil. Namun, beliau dibebaskan dan dipulangkan ke Mesir dengan penuh penghormatan. Kedudukannya sebagai wali diakui secara umum ketika beliau meninggalkan dunia yang fana ini [5].

Dalam ajaran-ajaran tasawwufnya, al-Misri membagi pengetahuan Tuhan menjadi tiga macam. Yaitu, (a) Pengetahuan untuk seluruh muslim; (b) Pengetahuan khusus untuk para filosof dan ulama; dan (c) Pengetahuan khusus untuk para wali Allah [6]. Menurut pengalamannya, sebelum sampai pada maqam al-Ma'rifat, al-Misri melihat Tuhan melalui tanda-tanda kebesaran-Nya yang terdapat di alam semesta. Suatu ungkapan puitisnya berbunyi:
".... Ya Rabbi, aku mengenal-Mu melalui bukti-bukti karya-Mu dan tindakan-Mu. Tolonglah daku. Ya Rabbi, dalam mencari ridha-Mu dengan ridhaku dengan semangat Engkau dalam kecintaan-Mu, dengan kesentosaan dan niat teguh".
Ketika ditanya tentang memperoleh ma'rifat, al-Misri menjawab:
"Saya mengenal Tuhan dengan (pertolongan) Tuhan, kalau bukan karena pertolongan-Nya, saya tidak mungkin mengenal-Nya ('Araftu rabbi bi rabbi wa laula rabbi lama 'araftu rabbi)".
Ungkapannya itu menunjukkan bahwa Ma'rifat tidak diperoleh begitu saja, tetapi merupakan pemberian Tuhan, rahmat, dan nikmat-Nya [7].




Reff:

[1] The Encyclopedia of Islam, E. J. Brill, Leiden, 1933, hal. 242 
[2] Muhammad Syafiq Gharib, Al-Mausu’ah Al-‘Arabiyyah Al-Muyassarah, Dar al-Qalam, Mesir, t.t, hal. 848. 
[3] Abd al-Mun’im al-Hafani, al-Mausu’ah al-Shufiyyah, Dar al-Rasyad, Kairo, 1992, hal. 165
[4] Annemarie Schimmel, Mystical Dimention of Islam, The University of California Press, Chapell Hill, 1981, hal. 6 
[5] Abd al-Mun’im al-Hafani, al-Mausu’ah al-Shufiyyah, hal. 165
[6] Abd Halim Mahmud, Qadhiyat al-Tasawwuf al-Munqidz min al-Dhalal, Dar al-Ma'arif, Kairo, 1119 H, hal. 66-67
[7] Ahmad bin 'Athaillah, al-Hawash li Tahazib al-Nafs, t.t, hal 20

Minggu, 16 Maret 2014

Biografi Rabi'ah Al-Adawiyah Peletak Dasar Tasawwuf Bedasarkan Cinta Kepada Allah

Biografi Rabi'ah Al-Adawiyah Peletak Dasar Tasawwuf Bedasarkan Cinta Kepada Allah - Nama lengkap Rabi'ah adalah Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M atau 99 H/717 M di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H/801 M [1]. Ia dilahirkan sebagai putri keempat dari keluarga yang sangat miskin. Itulah sebabnya, orang tuanya menamakannya Rabi'ah. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. 

Konon pada saat terjadinya bencana perang di Bashrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah [2]. Dari sini ia dikenal dengan al-Qaisiyah atau al-Adawiyah. Pada keluarga ini ia bekerja keras, namun kemudian dibebaskan karena tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi'ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang beribadah.

Setelah dimerdekakan tuannya, Rabi'ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai seorang zahidah dan sufiah. Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak taubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam ketidakcukupan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi kepada Tuhan.

Rabi'ah al-Adawiyah, dalam perkembangan mistisisme dalam Islam tercatat sebagai peletak dasar tasawwuf bedasarkan cinta kepada Allah. Hal ini karena generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam Islam bersasarkan rasa takut dan raja' (pengharapan kepada Allah). Rabi'ah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah. Sikap dan pandangan Rabi'ah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkan kepadanya. Al-Qusyairi (baca juga postingan: Pejuang Tangguh dari Istawa Abdul Karim al-Qusyairi) meriwayatkan bahwa ketika bermunajat, Rabi'ah menyatakan do'anya: "Tuhanku, akankah Engkau bakar kalbu yang mencintai-Mu oleh api neraka?" Tiba-tiba terdengar suara, "Kami tidak akan melakukan itu, Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami" [3]. Di antara sya'ir cinta Rabi'ah yang paling masyhur adalah:
"Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena diriku (Hubb al-Hawa) dan karena diri-Mu [Hubb Anta Ahl Lahu]. Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan-Mu. Cinta karena diri-Mu adalah keadaanku mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat. Baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku. Bagi-Mu pujian untuk kesemuanya" [4]
Sementara itu, al-Ghazali (baca juga postingan: Imam Al-Ghazali Si Bahr Mu'riq [Lautan Yang Menghanyutkan]) memberikan ulasan tentang sya'ir Rabi'ah sebagai berikut:
"Mungkin yang dimaksud oleh Rabi'ah dengan cinta karena dirinya adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya di dunia ini. Sedangkan cinta kepada-Nya adalah karena Ia layak dicintai keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap kepadanya. Cinta yang kedua merupakan cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan dalam Hadits Qudsi, yaitu: Bagi hamba-hamba-Ku yang saleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit di kalbu manusia" [5].




Reff:

[1] Farid al-Sin al-'Arththar, Muslim Sains and Mystics, terj. A. J. Arberry, Routledge dan Kegal Paul, 1979, hal. 39.
[2] 'Abd al-Rahman al-Badawi, Syahidat al-Syauq al-Ilahi Rabi'ah al-Adawiyah, al-WakAlat al-Matbu'ah, Kuwait, 1978, hal. 13.
[3] Abu Qasim al-Karim al-Qusyairiyyah, Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi al-'Ilm al-Tashawwuf, Isa al-Babi al-Halabi, 1334, hal. 328.
[4] Abu Bakar Muhammad al-Halabadzi, al-Ta'arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Isa al-Babi al-Halabi, 1960, hal. 131.
[5] Al-Ghazali, Ihya 'Ulum al-Din, Jilid III, Musthafa Bab al-Halab, Kairo, 1334, hal. 266-267.

Sabtu, 15 Maret 2014

Biografi Al-Harits Al-Muhasibi Sufi yang Demokratis

Biografi Al-Harits Al-Muhasibi Sufi yang Demokratis - Al-Harits bin Asad al-Muhasibi (wafat 243 H) menempuh jalan tasawwuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Ketika mengamati madzhab-madzhab yang dianut oleh umat Islam, al-Muhasibi menemukan kelompok di dalamnya. Di antara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan. Di antara mereka terdapat pula yang terkesan sedang melakukan ibadah karena Allah, tetapi sesungguhnya tidak demikian [1].

Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara', dan meneladani Rasulullah. Menurut al-Muhasibi, ketika sudah melakukan hal-hal di atas, maka seseorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawwuf. Ia akan meneladani Rasulullah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.

Beliau sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasan-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yang mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami batin agama. Dalam konteks ini pula beliau menuturkan sebuah hadits Nabi Saw yang berbunyi:
Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah, karena kalian akan tersesat karenanya.
Berdasarkan hadits di atas dan hadits-hadits senada, al-Muhasibi mengatakan bahwa ma'rifat harus ditempuh melalui jalan tasawwuf yang mendasarkan pada Kitab dan Sunnah. Beliau menjelaskan tahapan-tahapan ma'rifat sebagai berikut:
  • Taat. Awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan semata. Di antara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.
  • Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma'rifat selanjutnya.
  • Pada tahap ketiga ini Allah menyingkap khazanah-khazanah keilmuan dan keghaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap di atas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
  • Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan fana' yang menyebabkan baqa' [2].
Sedangkan pandangannya tentang khauf dan raja', menurutnya dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada al-Qur'an dan al-Sunnah. Dalam hal ini, beliau mengaitkan kedua sifat itu dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah. Untuk itu, beliau menganggap apa yang diungkapkan Ibnu Sina dan Rabi'ah al-Adawiyah sebagai jenis fana' atau kecintaan kepada Allah yang berlebih-lebihan dan keluar dari garis yang telah dijelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dan kalangan Ahlussunnah [3]. Al-Muhasibi lebih lanjut mengatakan, bahwa al-Qur'an jelas sudah berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan. Ajaran-ajaran al-Qur'an pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (sugesti) dan tarhib (ancaman).

Raja', dalam pandangan al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal sholeh. Seseorang yang telah melakukan amal sholeh, berhak mengharap pahala dari Allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi.



Reff:

[1] Ibrahim Hilal, al-Tasawwuf al-Islami baina al-Din wa al-Falsafah, Dar al-Nahdhah al-'Arobiyah, Kairo, 1979, hal. 56.
[2] Ibrahim Hilal, al-Tasawwuf al-Islami baina al-Din wa al-Falsafah, hal. 58-59
[3] Ungkapan Ibnu Sina yang dimaksud berbunyi: "Zuhud dalam pandangan orang yang tidak arif adalah menukar keduniaan denga keakhiratan. Ibadah menurut pandangan orang yang tidak arif adalah melakukan suatu kebaikan karena pahala yang akan diperolehnya di akhirat kelak". Adapun yang diungkapkan Rabi'ah al-Adawiyyah: "Saya beribadah kepada Allah bukan karena takut masuk neraka, bukan pula karena ingin masuk surga. Namun, saya beribadah kepada-Nya karena rasa cinta dan rindu kepada-Nya".

Senin, 10 Maret 2014

Biografi Hasan al-Bashri Si Buah Bibir Kaum Sufi

Biografi Hasan al-Bashri Si Buah Bibir Kaum Sufi - Nama lengkapnya adalah Abu Sa'id Al-Hasan bin Yasar, adalah seorang zahid yang sangat masyhur di kalangan tabi'in. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632 M) dan wafat pada hari Kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun 110 H (728 M). Beliau dilahirkan dua malam sebelum khalifah Umar bin Khattab wafat. Beliau dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut menyaksikan peperangan Badar dan 300 sahabat lainnya.

Dialah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak dan usaha penyucian jiwa di Masjid Bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunnah Nabi. Sahabat Nabi yang masih hidup pada zaman itu pun mengakui kebesarannya. Suatu ketika seorang datang kepada Anas bin Malik (sahabat Nabi yang utama) untuk menanyakan persoalan agama. Anas memerintahkan orang itu agar menghubungi Hasan. Mengenai kelebihan lain dari Hasan, Abu Qatadah pernah berkata:


Biografi Hasan al-Bashri Si Buah Bibir Kaum Sufi

Bergurulah kepada Syekh ini. Saya sudah saksikan sendiri (keistimewaannya). Tidak ada seorang tabi’in pun yang menyerupai sahabat nabi selainnya” [1].

Karir pendidikan Hasan al-Bashri dimulai dari Hijaz. Beliau berguru hampir kepada seluruh ulama di sana. Bersama ayahnya, beliau kemudian pindah ke Bashrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan al-Bashri. Puncak keilmuannya beliau peroleh di sana. Hasan al-Bashri terkenal dengan keilmuannya yang sangat dalam. Tak heran kalau beliau menjadi imam di Bashrah khususnya dan daerah-daerah lainnya. Tak heran pula kalau ceramah-ceramahnya dihadiri oleh seluruh segmen masyarakat. Di samping dikenal sebagai zahid, beliaupun dikenal sebagai seorang yang wara' dan berani dalam memperjuangkan kebenaran. Di antara karya tulisnya, ada yang berisi kecaman terhadap aliran kalam Qadariyyah dan tafsir-tafsir al-Qur'an [2].

Abu Na’im al-Asbhahani menyimpulkan ajaran tasawwuf Hasan al-Bashri sebagai; takut (Khauf) dan pengharapan (Raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan; tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah. Demikian takutnya, Imam Sya’rani pernah berkata bahwa,
Sehingga seakan-akan dia merasa bahwa neraka itu hanya disiapkan untuknya(Hasan al-Bashri) [3].
Berkaitan dengan ajaran tasawwuf Hasan al-Bashri, Muhammad Mustafa (Guru Besar Filsafat Islam) menyatakan kemungkinan bahwa tasawwuf Hasan al-Bashri didasari oleh rasa takut siksa Tuhan di dalam neraka. Namun, setelah kami teliti ternyata bukan perasaan takut terhadap siksaanlah yang mendasari tasawwufnya. Tetapi, kebesaran jiwanya akan kekurangan dan kelalaian dirinya yang mendasari tasawwufnya itu. Sikapnya itu senada dengan sabda Nabi Saw yang artinya:
"Orang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya".


Reff:
[1] Hamka. Tasawwuf; Perkembangan dan Pemurniannya. Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1986, hal. 76.
[2] Umar Farukh. Tarikh al-Fikr al-‘Arabi. Dar al-‘Ilm li al-Malayin, Beirut, 1983, hal 216.
[3] Hamka. Tasawwuf; Perkembangan dan Pemurniannya. hal. 77

Jumat, 07 Maret 2014

Biografi Pejuang Tangguh dari Istawa Abdul Karim Al-Qusyairi

Biografi Pejuang Tangguh dari Istawa Abdul Karim Al-Qusyairi - Al-Qusyairi merupakan salah seorang tokoh sufi utama dari abad kelima Hijriah. Kedudukannya sangat penting mengingat karya-karyanya tentang para sufi dan tasawwuf aliran sunni abad ketiga dan keempat Hijriah, menyebabkan terpeliharanya pendapat dan khazanah tasawwuf pada masa itu, baik dari segi teoritis maupun praktis.

Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Hawazin, lahir tahun 376 di Istawa, kawasan Nishafur yang merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Di sinilah beliau bertemu dengan gurunya, Abu Ali ad-Daqqaq seorang sufi terkenal. Al-Qusyairi selalu menghadiri majelis gurunya dari dari gurunyalah beliau menempuh jalan tasawwuf. Sang guru menyarankan untuk mengawasinya dengan mempelajari syariat. Karena itu, Al-Qusyairi lalu mempelajari fiqih pada seorang faqih, Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakr Ath-Thusi (wafat tahun 405 H), dan mempelajari ilmu kalam serta ushul fiqh pada Abu Bakr bin Farauk (wafat tahun 406 H).

Biografi Pejuang Tangguh dari Istawa Abdul Karim Al-QusyairiSelain itu, beliau pun menjadi murid Abu Ishaq Al-Isfarayini (wafat tahun 418 H) dan menelaah karya-karya Al-Baqillani. Dari situlah Al-Qusyairi berhasil menguasai doktrin Ahl As-Sunnah wal Jama’ah yang dikembangkan Al-Asy’ari dan muridnya. Al-Qusyairi adalah pembela paling tangguh dari aliran tersebut dalam menentang doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyyah, Mujassamah, dan Syiah. Karena tindakannya itu, beliau mendapat serangan keras dan dipenjarakan sebulan lebih atas perintah Tughrul Bek yang terhasut seorang menterinya yang menganut aliran Mu’tazilah Rafidhah. Bencana yang menimpa dirinya itu yang bermula tahun 445 H, diuraikannya dalam karyanya “Syikayah Ahl As-Sunnah”. Menurut Ibnu Khallikan, Al-Qusyairi adalah seorang yang mampu mengompromikan syari’at dengan hakikat. Al-Qusyairi wafat tahun 465 H [1].

Seandainya karya Al-Qusyairi, yakni “Al-Risalah al-Qusyairiyyah” dikaji secara mendalam, maka akan tampak jelas bagaimana beliau cenderung mengembalikan tasawwuf ke atas landasan doktrin Ahl as-Sunnah. Sebagaimana pernyataannya:

Ketahuilah! Para tokoh aliran ini (para sufi) membina prinsip-prinsip tasawwuf atas landasan tauhid yang benar, sehingga doktrin mereka terpelihara dari penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat dengan tauhid kaum Salaf maupun Ahl al-Sunnah, yang tak tertandingi dan tak mengenal macet. Mereka pun tahu hak yang lama dan bisa mewujudkan sifat sesuatu yang diadakan dari ketiadaannya. Karena itu, tokoh aliran ini, al-Junaidi mengatakan bahwa tauhid adalah pemisah hal yang lama dengan hal yang baru. Landasan doktrin-doktrin mereka pun didasarkan pada dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Abu Muhammad al-Jariri mengatakan bahwa barangsiapa tidak mendasarkan ilmu tauhid pada salah satu pengokohnya, niscaya kakinya tergelincir ke dalam jurang kehancuran” [2].





Reff:

[1] Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ila al-Tashawwuf al-Islam, terj. Ahmad Rofi Utsmani “Sufi dari Zaman ke Zaman”, Pustaka: Bandung, 1985, hal. 141.
[2] Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, hal. 142.

Jumat, 28 Februari 2014

Biografi Imam Al-Ghazali Si Bahr Mu'riq (Lautan yang Menghanyutkan)

Biografi Imam Al-Ghazali Si Bahr Mu'riq (Lautan yang Menghanyutkan) - Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali. Secara singkat dipanggil Al-Ghazali atau Abu Hamid Al-Ghazali [1]. Beliau dipanggil Al-Ghazali karena dilahirkan di Ghazlah, suatu kota di Khurasan Iran pada tahun 450 H/1058 M, tiga tahun setelah kaum Saljuk mengambil alih kekuasaan di Baghdad[2].

Ayah Al-Ghazali adalah seorang pemintal kain wol yang taat, menyenangi ulama dan aktif menghadiri majlis-majlis pengajian. Ketika menjelang wafatnya, ayahnya menitipkan Al-Ghazali dan adiknya yang bernama Ahmad kepada seorang sufi. Beliau menitipkan sedikit bekal kepada seorang sufi tersebut seraya berkata dalam wasiatnya [3]: 

Aku menyesal sekali
karena aku tidak belajar menulis,
aku berharap untuk mendapatkan apa yang
tidak kuperoleh itu melalui putraku ini” 

Biografi Imam Al-Ghazali Si Bahr Mu'riq (Lautan yang Menghanyutkan)Sufi tersebut mendidik dan mengajar keduanya sampai suatu hari bekal titipannya habis dan sufi tersebut tidak mampu lagi memberi makan keduanya. Selanjutnya sufi tersebut menyarankan kedua anaknya untuk belajar kepada pengelola sebuah madrasah sekaligus untuk menyambung hidup mereka [4]. 

Di madrasah tersebut Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqh kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani. Kemudian Al-Ghazali memasuki sekolah tinggi Nizhamiyah di Naisabur, dan di sinilah beliau berguru kepada Imam Haramain (Al-Juwaini, wafat 478 H/1086 M) hingga menguasai ilmu mantiq, ilmu kalam, fiqh-ushul fiqh, filsafat, tasawwuf, dan retorika perdebatan [5]. Selama di Naisabur Al-Ghazali juga menimba ilmu kepada Yusuf An-Nasaj. Dan ternyata ilmu-ilmu yang didapatkannya dari Al-Juwaini benar-benar dikuasai oleh Al-Ghazali, termasuk perbedaan pendapat dari para ahli ilmu tersebut. Beliau pun mampu memberikan sanggahan-sanggahan kepada para penentangnya. Karena kemahirannya dalam masalah ini, maka Al-Juwaini menjuluki Al-Ghazali dengan sebutan “Bahr Mu’riq” (lautan yang menghanyutkan). Kecerdasan dan keluasan wawasan berpikir yang dimiliki Al-Ghazali menjadikannya semakin popular. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa secara diam-diam di hati Imam Haramain timbul rasa iri yang mendorongnya untuk mengatakan [6]: 

“Engkau telah memudarkan ketenaranku
padahal aku masih hidup,
apakah aku mesti menahan diri
padahal ketenaranku telah mati” 

Setelah Imam Haramain wafat, Al-Ghazali pergi ke Baghdad tempat berkuasanya PM Nizham Al-Muluk (wafat 485 H/1091 M). Kota ini merupakan tempat berkumpul sekaligus tempat diselenggarakannya perdebatan antara ulama-ulama terkenal. Beliaupun ikut melibatkan diri dalam perdebatan tersebut dan sering mengalahkan ulama-ulama ternama, sehingga mereka pun tidak segan-segan mengakui keunggulan Al-Ghazali. Sejak itulah nama beliau menjadi termasyhur di kawasan kerajaan Saljuk. Pada usia 30 tahun beliau diangkat sebagai guru besar Universitas Nizhamiyah oleh Nizham Al-Muluk karena kemasyhurannya tersebut. Ternyata kegiatan perdebatan itu menimbulkan pergolakkan dalam diri Al-Ghazali karena tidak ada yang memberikan kepuasan batinnya. Beliaupun memutuskan untuk meninggalkan jabatannya dan meninggalkan Baghdad dan menuju Syiria, Palestina dan Makkah untuk mencari kebenaran. Tidak lama setelah memperoleh kebenaran yang hakiki beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di Thus pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H [7]. 





Reff:

[1] Sa’id Basil, Manhaj Al-Bashi ‘an Al-Ma’rifat ‘Inda Al’Ghazali, Dar Al-Kitab Al-Banani, Beirut, tt, hal. 16 
[2] Annemarie Schiemel, Mystical Dimension of Islam. The University of North Carolina Press, Chapel Hill, 1975, hal. 93 
[3] Al-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyat Al-Kubra. Musthafa Babi Al-Halabi Juz IV tt. Mesir, hal. 102
[4] Abd Halim Mahmud, Qadhiyat At-Thasawwuf Al-Munqidz min Adh-Dhalal, Dar Al-Ma’arif, Kairo, 1119 H, hal. 40
[5] MM. Syarif, History of Muslim Philosophy, Vol II, Wiesbaden, Otto Harrasspwitz, 1963, hal. 583-584
[6] Abd Karim Usman, Sirat Al-Ghazali, Maktabah Al-Nahdhah, Mesir, 1964, hal. 20
[7] As-Sayyid Abu Bakar Ibn Muhammad Syata, Kafayat Al-Atqiya wa Minhaj Asy-Syifa, Trans: Menapak Jejak Kaum Sufi, Dunia Ilmu Ofset, Surabaya, 1997, hal. 272