Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Multiple Intelegensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Multiple Intelegensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Pendalaman Materi Allah Maha Kuasa

Pendalaman Materi Allah Maha Kuasa - Dalam pembelajaran, sebisa mungkin seorang peserta didik atau anak dibuat merasa nyaman dan menyenangkan. Dalam hal ini pemilihan tentang bagaimana membelajarkan anak supaya enjoy dibutuhkanlah sebuah metode yang cocok agar berkesan pada diri anak. Pada materi kali ini yaitu Pendalaman tentang Allah Maha Kuasa, anak akan diajak untuk bermain peran. Karena dengan bermain peran, banyak kecerdasan-kecerdasan anak yang akan berkembang. Langsung saja di sini tidak akan panjang lebar teman-teman langsung saja menuju ke lokasi.

Aktivitas
  • Role play (bermain peran)
Tujuan
  • Anak memahami lebih dalam tentang Allah Maha Kuasa melalui tugas role play (bermain peran) tentang kisah Nabi Idris as dan kisah seorang Yahudi yang sudah direkam anak sebelumnya (baca juga postingan: Bukti Allah Maha Kuasa).
Media
  • Kostum, telur, jarum jahit, sound system (jika diperlukan), dan hadiah (hadiah bisa berupa barang-barang yang sederhana, seperti snack, permen, alat-alat mainan, dan alat-alat gambar).
Prosedur
    Pendalaman Materi Allah Maha Kuasa
  • Orang tua mengajak anaknya dan teman-teman atau keluarga yang pernah diberikan presentasi oleh anaknya ke sebuah ruangan yang luas atau di halaman rumah. Lalu orang tua meminta anaknya beserta teman-temannya memainkan peran kisah-kisah yang sudah mereka rekam sebelumnya. Orang tua memberikan waktu kepada mereka untuk berlatih selama 10 menit. Jika jumlah teman anaknya banyak, bisa dibagi menjadi beberapa kelompok dan dilombakan. Siapa yang penampilan kelompoknya paling bagus, akan diberikan hadiah agar mereka lebih serius dan bersemangat dalam bermain peran.
  • Ketika anak-anak bermain peran, orang tua dapat memberikan penilaian. Jika memungkinkan orang tua dapat mengundang pelatih drama atau teman lain untuk menjadi juri yang akan memberikan masukan bagi penampilan anaknya agar anaknya dapat tampil semakin bagus pada masa mendatang.
  • Orang tua atau juri dapat memberikan komentar, masukan, atau penghargaan atas penampilan anaknya.
  • Orang tua menanyakan perasaan anaknya ketika role play sambil me-riview materi tentang Allah Maha Kuasa.
  • Jika memungkinkan, orang tua dapat melakukan aktivitas ini pada momen tertentu dengan mengundang teman-teman sekolah anaknya ke rumah untuk melihat anaknya bermain peran. Hal itu akan meningkatkan kepercayaan diri anak (perlu digaris bawahi bahwa undangan itu tidak berarti untuk memamerkan kemampuan role play anak, tetapi sekedar member motivasi anak agar lebih bersemangat).

Multiple Intelligences

Dengan metode tersebut, minimal ada enam kecerdasan anak yang dapat dikembangkan.
  • Kecerdasan verbal, logis, spasial, interpersonal, intrapersonal, dan kinestetik berkembang ketika anak melakukan role play.
  • Kecerdasan verbal, logis, spasial, interpersonal, dan intrapersonal berkembang ketika anak menceritakan perasaannya saat role play.

Kamis, 03 April 2014

Pendalaman Materi Allah Maha Esa

Pendalaman Materi Allah Maha Esa - Pembaca Membumikan Pendidikan yang budiman. Pada kesempatan kali ini akan dipaparkan sekelumit tentang pendalaman materi Allah Maha Esa kepada anak. Setelah pada postingan yang lalu telah dipaparkan tentang pengenalan materi Allah Maha Esa (baca: Pendidikan Interaktif: Bukti Allah Maha Esa). Maka sekarang pendalamannya. Agar senantiasa anak menjalani hidup dan kehidupannya semakin mantap. Langsung saja kita menuju ke TKP.

Aktivitas
  • Tanya jawab, Pengamatan, dan Sharing
Tujuan
  • Anak memahami bahwa Allah Maha Esa melalui Tanya jawab
Media
  • Lapangan atau alam terbuka, mobil atau motor
Prosedur

Orang tua memberi pertanyaan-pertanyaan:
  • Apakah sekarang kamu yakin bahwa Allah itu Esa?
  • Benarkah Allah itu ada dimana-mana?
  • Jika Allah ada dimana-mana, bukankah berarti Allah itu banyak?
Biarkan anak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ajaklah anak berjalan-jalan ke lapangan atau kea lam terbuka pada siang hari saat ada matahari atau pada malam hari saat ada bulan.

Mintalah anak untuk mengamati matahari atau bulan.

Pendalaman Materi Allah Maha EsaKemudian, bawalah anak dengan berjalan kaki atau mengendarai mobil atau sepeda motor dan minta anak untuk tetap mengawasi matahari atau bulan selama melakukan perjalanan hingga sampai di tempat lain.

Tanyakan kepada anak, Apakah matahari atau bulan yang dilihatnya sama dengan matahari atau bulan yang dilihat di tempat sebelumnya?

Jelaskan bahwa meskipun berada di tempat yang berbeda, kita masih bisa melihat matahari dan bulan yang sama. Kapan pun dan dimana pun berada, kita bisa melihat matahari dan bulan yang sama. Mengapa demikian? Karena matahari yang kita lihat hanya ada satu dan bulan yang kita lihat hanya ada satu pula. Lalu, mengapa matahari dan bulan bisa terlihat di semua tempat yang ada di bumi. Jawabannya adalah karena matahari dan bulan memiliki ukuran yang sangat besar sehingga keduanya bisa dilihat dari tempat mana saja yang ada di bumi ini.

Jelaskan pula materi ini, bahwa Allah ada di mana-mana bukan berarti Allah itu banyak. Allah Maha Esa, yaitu tetap satu. Namun, Allah Maha Besar, begitu besarnya Allah, manusia akan merasakan bahwa Allah ada di mana-mana.

Mintalah anak untuk menjelaskan kembali materi tersebut. Dari penjelasannya, akan terlihat tingkat pemahaman yang dicapai oleh anak. Jika pemahamannya masih kurang, orang tua dapat menambahkannya.

Multiple Intelligence

Dengan metode tersebut, minimal ada tujuh kecerdasan anak yang dapat dikembangkan.
  • Kecerdasan naturalis dan kinestetis berkembang ketika anak diajak jalan-jalan ke alam terbuka.
  • Kecerdasan logis dan spasial berkembang ketika anak mengamati matahari atau bulan dan ketika mendengarkan penjelasan orang tua mengenai bukti bahwa Allah itu Esa.
  • Kecerdasan verbal, logis, spasial, interpersonal, dan intrapersonal berkembang ketika anak menjelaskan kembali materi yang diperolehnya.

Senin, 24 Maret 2014

Pendidikan Interaktif: Bukti Allah Maha Esa

Pendidikan Interaktif: Bukti Allah Maha Esa - Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat dan mudah dimengerti oleh peserta didik. Oleh karena itu, salah satu cara yang mungkin efektif dalam membelajarkan anak untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengkorelasikan realitas kehidupan dengan Keagungan Tuhan. Pada postingan sebelumnya (baca: Pendidikan Interaktik: Bukti Allah itu Ada [Wujud]) telah dipaparkan sekelumit tentang bagaimana membelajarkan anak supaya mengerti dan mengetahui bahwa Allah itu wujud dengan dua macam realitas yang ada di sekitar kehidupan anak. Tujuannya agar anak bisa memahami dan menambah kepercayaan anak terhadap adanya Sang Pencipta. Dan sekarang akan dipaparkan, setelah anak sudah bisa memahami bahwa Allah itu wujud maka pembelajaran selanjutnya adalah memaparkan tentang Bukti Allah Maha Esa kepada anak. Langsung saja menuju ke TKP.

Aktivitas

Tanya jawab, diskusi, dan menyanyi

Tujuan
  • Anak mengetahui bahwa Allah Maha Esa
  • Anak menemukan bukti bahwa Allah memang Maha Esa sehingga iman yang dimiliki anak akan semakin kuat.
 Media

Kendaraan untuk bepergian (motor, mobil atau perahu), kertas F4, pensil, pulpen, lagu “Tuhan saya satu” dan “Allah Tuhan saya”.

Prosedur
  • Orang tua mengajak anaknya menaiki kendaraan. Dalam perjalanan, orang tua dapat memasukan materi Allah MAha Esa. Orang tua dapat meminta anaknya untuk mengamati sopir kendaraan yang sedang digunakan dan menanyakan kepadanya kemungkinan kendaraan ini dikendalikan dua orang atau lebih.

  • Setelah mendengar jawaban dari anaknya, orang tua dapat menambahkan contoh-contoh lain, misalnya jika kereta api dikendalikan dua masinis adalah suatu hal yang tidak mungkin. Jika suatu kendaraan atau apapun dikendalikan oleh dua orang, akan timbul kekacauan karena keinginan dua orang tersebut tidak akan sama. Mungkin orang yang satu ingin ke kiri dan orang yang satunya lagi ingin ke kanan. Tuhan pun demikian, Allah hanya satu. Karena itulah alam ini bisa berjalan dengan teratur. Allah juga maha besar karena mampu membuat dan mengatur alam semesta ini sendirian (uraian dapat dikembangkan).
  • Orang tua meminta anaknya untuk mencari contoh sebanyak-banyaknya tentang bukti bahwa Allah Maha Esa dan menuliskannya dalam kertas selama 10 menit.
  • Setelah selesai, anak diminta menginformasikan hasil pencariannya. Orang tua dapat memberikan masukan, tambahan, pujian, dan saran kepada anak tentang informasinya.
  • Orang tua memperdalam materi tentang Allah Maha Esa.
  • Hasil pencarian anak dibingkai dengan bagus, diberi tanggal pembuatan, dan disimpan dalam ruangan hasil karya anak, lebih bagus jika disertai foto ketika anak sedang mengadakan pengamatannya.
  • Selanjutnya, orang tua mengajak anaknya menyanyikan lagu “Tuhan saya Satu”.

Tuhan Saya Satu
(Irama: Topi Saya Bundar)

Tuhan saya satu
Satu Tuhan saya
Kalau tidak satu
Bukan Tuhan saya

Allah Tuhan Saya
(Irama: Topi Saya Bundar)

Allah Tuhan saya
Tuhan saya Allah
Kalau tidak Allah
Bukan Tuhan saya

Multiple Intelligence
Dengan metode tersebut, ada delapan kecerdasan anak yang dapat dikembangkan: 
  • Kecerdasan naturalis dan kinestetis berkembang ketika anak diajak mengamati kendaraan (misalnya, perahu di laut)
  • Kecerdasan verbal, logis, spasial, interpersonal, dan intrapersonal berkembang ketika anak menjawab pertanyaan, menceritakan hasil pencarian, dan presentasi
  • Kecerdasan musical berkembang ketika anak bernyanyi bersama.

Demikian sekelumit realitas yang dapat dipaparkan. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang teguh imannya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.

Sabtu, 15 Maret 2014

Pembelajaran Interaktif: Allah itu Ada atau Wujud (Pendalaman)

Pembelajaran Interaktif: Allah itu Ada atau Wujud (Pendalaman) - Setelah pada postingan "Pembelajaran Interaktif untuk Anak: Bukti Allah itu Ada (Wujud)" anak disuguhi dengan bagaimana ia belajar memahami larutnya gula dalam air yang dikorelasikan dengan keimanan bahwa Allah itu Ada, maka sekarang tinggal pendalamannya. Sehingga anak akan semakin mantap dalam hidupnya. Karena bagaimanapun, aspek keimanan adalah aspek yang paling utama. Diharapkan dengan penyampaiannya yang menarik dan real, ketika anak sudah dewasa maka akan memahami dengan sendirinya dan bisa kuat dalam menjalankan keyakinannya. Baiklah di sini tidak akan panjang lebar, kita langsung saja bagaimana pendalamannya.

Aktivitas

Simulasi, tanya jawab, dan Sharing

Tujuan

Anak memahami tentang materi Allah itu wujud melalui pengamatan, tanya jawab, dan Sharing.

Media

Kamar dan Perlengkapannya

Prosedur

Orang tua meminta anak untuk masuk ke dalam kamarnya.

Pastikan bahwa anak telah melihat setiap barang yang ada di dalam kamarnya sengan teliti.
Setelah anak melihat sekeliling kamarnya, anak diminta untuk keluar kamar beberapa saat atau bawa anak ke ruang lain dan minta ia untuk tetap di ruangan tersebut hingga beberapa saat.

Kemudian, orang tua masuk ke dalam kamar anak dan memindahkan salah satu barang atau beberapa barang.

Biarkan anak untuk masuk kembali ke dalam kamarnya dan minta ia untuk melihat apa sajakah yang telah mengalami perubahan.

Setelah anak menyebutkan beberapa barang yang berubah, tanyakanlah beberapa pertanyaan untuk anak:
  • Mengapa barang tersebut bisa pindah tempat atau berubah?
  • Apakah barang tersebut pindah sendiri?
  • Apakah kamu melihat bahwa ada seseorang yang telah memindahkan barang tersebut?
  • Mungkinkah barang tersebut pindah sendiri?
  • Mengapa kamu begitu yakin bahwa ada seseorang yang memindahkan barang tersebut?
  • Setelah anak menjawab semua pertanyaan tersebut, orang tua kemudian menjelaskan hikmah dari apa yang telah dilakukan anak.
Allah memang ghaib, yaitu tidak tampak oleh penglihatan makhluk, namun Allah ada. Keberadaan-Nya bisa kita rasakan dengan melihat segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Jika kita melihat planet-planet yang bergerak mengelilingi matahari secara teratur, tidak mungkin planet-planet itu bergerak dengan sendirinya. Ia bisa bergerak dengan teratur karena memang ada yang menggerakkannya. Meski kita tidak melihat yang menggerakkannya, namun kita yakin bahwa ada kekuatan besar yang menggerakkannya. Manusia tidak mungkin menggerakkannya. Lalu, siapa lagi yang bisa menggerakkannya kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, meski kita tidak bisa melihat Allah, namun kita bisa merasakan bahwa Allah itu ada.

Orang tua meminta anak untuk membuat tulisan atau simpulan tentang materi Allah itu Wujud
 
Multiple Intelligence

Dengan metode tersebut, minimal ada tiga kecerdasan anak yang dapat dikembangkan:
  • Kecerdasan logis, spasial, dan kinestettik berkembang ketika simulasi
  • Kecerdasan verbal, logis, spasial, interpersonal, dan intrapersonal berkembang ketika anak menjawab pertanyaan dan ketika sharing
.

Senin, 03 Maret 2014

Kecerdasan itu Multidimensional dan Proses Discovering Ability

Kecerdasan itu Multidimensional dan Proses Discovering Ability - Mengapa Multiple Intelligences menyita perhatian masyarakat sebagai alternatif mengembangkan kecerdasan anak? Ada tiga paradigma yang dibangun, pertama Kecerdasan Tidak Dibatasi Tes Formal yang sudah dibahas pada postingan terdahulu. Dan sekarang kita akan bahas yang selanjutnya, yaitu:

[2] Kecerdasan itu Multidimensional
Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau kecerdasan logika. Gardner dengan cerdas memberi label "MULTIPLE" (baca: jamak atau majemuk) pada luasnya makna kecerdasan. Gardner sepertinya sengaja tidak memberikan label tertentu pada makna kecerdasan seperti yang dilakukan oleh para penemu teori kecerdasan lain, misalnya Alferd Binet dengan IQ, Emotional Quotient (EQ) oleh Daniel Goleman, dan Adversity Quotient oleh Paul Scholtz. Namun Gardner menggunakan istilah "Multiple" sehingga memungkinkan ranah kecerdasan tersebut terus berkembang. Dan ini terbukti ranah-ranah yang ditemukan Gardner terus berkembang, mulai dari 6 kecerdasan (ketika pertama kali konsep dimunculkan) hingga 9 kecerdasan.

Kecerdasan itu Multidimensional dan Proses Discovering Ability

Kecerdasan itu berkembang dan masih banyak lagi kecerdasan yang belum ditemukan oleh Gardner dan ahli lain. Kecerdasan yang beragam ini lebih mudah disederhanakan dengan sebuah analisis sebagai berikut:

"Kecerdasan seseorang adalah proses kerja otak seseorang sampai orang tersebut menemukan kondisi akhir terbaiknya. Terkadang, kondisi akhir terbaik seseorang ini tidak terbatas pada satu kondisi saja. Penulis novel terlaris dunia, J.K. Rowling, menemukan kondisi akhir terbaik sebagai penulis pada usia 43 tahun dan terus berkembang. Sementara itu, Stevie Wonder, menemukan kondisi akhir terbaiknya sebagai pemusik pada usia 10 tahun dan terus berkembang".

Oleh karena itu, dengan mengetahui Multiple Intelligences seawal mungkin, seseorang dapat menemukan kondisi akhir terbaiknya lebih cepat. Selain itu, pengetahuan tentang Multiple Intelligences dapat mendorong orang itu untuk bergerak dan menemukan kondisi akhir terbaik berikutnya.

[3] Kecerdasan, Proses Discovering Ability

J.K. Rowling adalah seorang penulis yang cerdas dan berhasil. Dia menemukan kondisi akhir terbaiknya pada usia 43 tahun ketika berhasil menulis novel Harry Potter pertama kali. Menurutnya, perubahan besar terjadi dalam hidupnya saat ia mengalami proses menuangkan ide gilanya ke dalam tulisan Fiksi Harry Potter. Dengan kata lain, proses penulisan tersebut sebenarnya adalah hakikat kecerdasan yang sedang berjalan. Sedangkan bentuk yang berhasil diwujudkan merupakan kondisi akhir terbaik yang muncul akibat proses kecerdasan tersebut.

Kecerdasan lebih dititik beratkan pada proses untuk mencapai kondisi akhir terbaik. Dan Mulitiple Intelligences punya metode Discovering Ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Metode ini meyakini bahwa setiap orang pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan. Jika yang ditemukan adalah kelemahan dalam satu jenis kecerdasan, kelemahan itu harus dimasukan ke laci dan dikunci rapat-rapat.

Multiple Intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan anak dan mengubur ketidak mampuan atau kelemahan anak. Proses inilah yang menjadi kecerdasan seorang anak. Tentu, dalam menemukan kecerdasannya, seorang anak harus dibantu oleh lingkungannya, baik itu orangtua, guru, sekolah, maupun sistem pendidikan yang diimplementasikan di suatu negara. Dan betapa banyak contoh tokoh-tokoh yang cerdas, terkenal, dan bermanfaat bagi masyarakatnya ternyata banyak memiliki kelemahan.

Kesimpulannya, apabila kondisi lingkungan seseorang kondusif dan selaras dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya, orang tersebut akan dengan cepat menemukan kondisi akhir terbaik akibat dipicu oleh kondisi lingkungan tersebut dan sebaliknya.






Sumber: Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, Kaifa: Bandung, 2012.

Multiple Intelligences: Alternatif Mengembangkan Kecerdasan Anak

Multiple Intelligences: Alternatif Mengembangkan Kecerdasan Anak - Pada pemaparan tentang "Redefinisi Kecerdasan: First Humanitiy", bahwa mengapa Gardner dengan Miltiple Intelligencesnya menyita perhatian masyarakat? Setidaknya ada tiga paradigma yang diubah Gardner. Dan pada kesempatan inilah ke tiga paradigma tersebut akan dipaparkan.

[1] Kecerdasan Tidak Dibatasi Tes Formal

Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun lagi. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.

Multiple Intelligences: Alternatif Mengembangkan Kecerdasan Anak
Pada awal 1970-an, tak sedikit ahli Psikologi dunia yang berpendapat bahwa tes IQ (yang dicetuskan oleh Alferd Binet) yang banyak diterapkan di dunia pendidikan itu tidak valid. Gardner menulis tentang konsep multiple intelligences dalam bukunya Frame of Mind, yang diterbitkan pada 1983. Buku ini dipublikasikan dengan tujuan memberikan kritik yang mendalam tentang ketidakvalidan tes IQ. Buku ini berhasil memberikan kekuatan dan inspirasi bagi psikolo-psikolog dunia untuk introspeksi diri dan kembali merenungkan makna kecerdasan manusia.

Dalam bukunya yang terkenal, Smart Baby, Clever Child, Valentine Dmitriev, Ph.D mengatakan bahwa ada dua faktor dalam perkembangan otak manusia yang menjadikan beberapa orang lebih pandai dari pada orang lain. Faktor itu adalah Keturunan dan Lingkungan. Tidak banyak yang bisa dilakukan orangtua untuk mengubah warisan gen seorang bayi, tetapi sangat banyak yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan faktor lingkungan guna meningkatkan potensi perkembangan seorang anak. Artinya bahwa otak tumbuh sebagai hasil dari informasi yang diterima, disimpan, dan diprosesnya. Dengan kata lain, otak tumbuh melalui proses yang disebut "Belajar".

Lebih jauh, Dmitriev mengatakan bahwa dalam banyak kasus, anak-anak yang berpotensi cemerlang tidak meraih apa yang mungkin dicita-citakannya. Otak mereka gagal tumbuh karena kondisi kehidupan yang miskin. Kemiskinan, kekurangan gizi, orang tua yang kurang peduli, sebagaimana juga kurangnya rangsangan dan pengalaman yang mendidik (guru), turut menyumbang pada penundaan perkembangan kondisi mental.

Baca juga dua paradigma selanjutnya yaitu:

Rabu, 26 Februari 2014

Redefinisi Kecerdasan: First Humanity


Redefinisi Kecerdasan: First Humanity - Setiap kali kita diminta menilai siapa yang lebih cerdas: Bill Gates, J.K. Rowling, Oprah Winfrey, atau Munir, SH (alm.)? Atau siapa yang paling cerdas dari tokoh-tokoh dan ilmuan-ilmuan terkenal? Maka, sudah dipastikan banyak yang kebingungan untuk menjawabnya. Kecerdasan manusia dan kebutuhan untuk mengukurnya dengan berbagai instrumen dan indikator tiba-tiba menjadi hal yang penting, terutama ketika kecerdasan dihubungkan dengan syarat-syarat untuk mencapai kesuksesan hidup.

Redefinisi Kecerdasan

Mengapa harus dimulai dengan makna kecerdasan? Pemahaman makna kecerdasan merupakan awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Kesepakatan atas paradigma dan makna tentang kecerdasan selanjutnya dapat menjadi awal penyusunan dan aplikasi sebuah sistem pendidikan.

Redefinisi Kecerdasan: First Humanity

Pembicaraan mengenai makna kecerdasan sangatlah luas. Teori-teori kecerdasan terus berkembang, mulai dari Plato, Aristoteles, Darwin, Alfred Binet, Stanberg, Piaget, dan sampai Howard Gardner. Perkembangan yang pesat ini mengerucut pada pola yang sama, yaitu bahwa makna kecerdasan banyak ditentukan oleh faktor situasi dan kondisi (konteks) yang terjadi pada saat teori tersebut muncul. Pada akhirnya, makna kecerdasan sangatlah bergantung pada banyaknya kepentingan eksternal dari hakikat kecerdasan itu sendiri. Kepentingan eksternal tersebut meliputi kepentingan politis, eugenic (keturunan), keunggulan ras, dan banyak lagi.

Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada 1983 saat Howard Gardner, pemimpin Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Dan munculah Teori Multiple Intelegences yang belakangan ini diikuti oleh Psikolog dunia yang berpikiran maju, mulai menyita perhatian masyarakat. Betapa tidak, multiple intelegences yang awalnya adalah wilayah Psikologi ternyata berkembang sampai ke wilayah edukasi (pendidikan). Bahkan telah merambah dunia profesional di perusahaan-perusahaan besar.

Mengapa demikian besar dan sangat berpengaruh dalam menyita perhatian dunia? Setidaknya ada tiga paradigma mendasar yang diubah Gardner yang akan dipaparkan pada kesempatan selanjutnya tentang apa tiga paradigma mendasar tersebut.

Ref.
Munif Chatib. 2012. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa