Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2014

Biografi R.A. Kartini (1879-1904)

Biografi R.A. Kartini (1879-1904) - Kemarin kita telah memperingati "Hari Kartini". Hari dimana kaum perempuan menjadi sosok wanita tangguh dan patut diperhitungkan bukan menjadi golongan kelas dua. Semoga dengan peringatan hari kartini kemarin, kaum perempuan Indonesia mampu mengambil nilai-nilai yang Kartini tanamkan untuk memajukan dan meninggikan harkat dan martabat perempuan. Bukan hanya sebatas peringatan dengan memakai pakaian-pakaian tradisional, lomba dan lain-lain sebagainya namun bisa lebih dari itu.

R.A. Kartini adalah seorang putri yang dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita ini lahir di Rembang pada tahun 1879. Ia merupakan putrid keturunan bangsawan yang status sosialnya jauh lebih tinggi dari pada wanita kebanyakan. Ia bersekolah di ELS (Europese Lagere School) dan pada usia 12 tahun dipinang oleh Bupati Rembang K.R.M Adipati Aryo Singgih Djojo Adiningrat. Setelah menikah kartini masih diberi kebebasan untuk meneruskan cita-citanya memajukan perempuan Indonesia dengan mendirikan sekolah bagi para perempuan. Bangunan yang digunakan sebagai tempat sekolah wanita itu kini merupakan gedung Pramuka yang berada di sebelah timur pintu gerbang kantor Bupati Rembang. Dari pernikahannya tersebut ia dikatuniai seorang anak yaitu Raden Mas Soesalit yang lahir pada tanggal 13 September 1904 dan 4 hari kemudian R.A Kartini meninggal di usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Biografi R.A. Kartini (1879-1904)

"Dan biarpun saya tiada beruntung sampai
ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan,
saya akan mati dengan rasa berbahagia.
Karena jalanya sudah terbuka dan 
saya ada turut membantu mengadakan jalan
yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra
merdeka dan berdiri sendiri"

Rabu, 12 Maret 2014

Biografi Teuku Umar (1854-1899)

Biografi Teuku Umar (1854-1899) - Lahir di Meulaboh Aceh pada tahun 1854. Wafat di Meulaboh pada tanggal 10 Februari 1899. Suami Cut Nyak Dien ini mengenal perang sejak menginjak usia 19 tahun. Mulanya beliau berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian berlanjut di Aceh Barat. Pada umur semuda ini beliau juga sudah diangkat menjadi keuchik (Kepala Desa) di daerah Daya Meulaboh.


Beliau dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Beliau juga memiliki sifat yang keras, pantang menyerah dalam menghadapi berbagai persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapat pendidikan formal. Namun demikian, beliau mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas dan pemberani.

Biografi Teuku Umar (1854-1899)


Minggu, 02 Maret 2014

Biografi Sultan Iskandar Muda: Pembangun Dasar-Dasar Hubungan Internasional RI

Biografi Sultan Iskandar Muda: Pembangun Dasar-Dasar Hubungan Internasional RI - Sultan Iskandar Muda lahir di Banda Aceh Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1583. Beliau sejak kecil telah besar di istana dan ayahnya merupakan seorang raja besar. Beliau dinobatkan menjadi raja pada tahun 1606 dan langsung memberikan tatanan baru di wilayah kerajaannya. Salah satu contohnya adalah pengangkatan pimpinan adat untuk masing-masing suku dan membuat tatanan Negara yang baru sekaligus qanun yang menjadi tuntutan penyelenggaraan kerajaan hubungan antara raja dengan rakyat. 


Selama 30 tahun (1606-1636) masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda membawa Kerajaan Aceh Darussalam menuju kejayaan. Pada saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam dapat menjadi kerajaan terbesar kelima di dunia setelah kerajaan Islam di Maroko, Isfahan, Persia dan Agra. Seluruh wilayah di semenanjung melayu disatukan di bawah kerajaannya dan secara ekonomi kerajan ini mempunyai hubungan diplomasi yang baik dalam hubungan Internasional. 

Belum banyak tulisan yang memuat tentang Sultan Iskandar Muda. Pada tanggal 14 September 1993 pemerintah RI memberi anugerah Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda atas jasa dan kejayaannya membangun dasar-dasar penting hubungan Internasional.

Rabu, 26 Februari 2014

Biografi Teuku Nyak Arif (1899-1946)

Biografi Teuku Nyak Arif (1899-1946) - Lahir di Ulee-lee Banda Aceh pada 17 Juli 1899. Wafat di Takengon pada tanggal 4 Mei 1946. Beliau merupakan lulusan Pendidikan OSVIA (Sekolah Pamong Praja) tahun 1915. Setelah tamat sekolah, beliau kembali ke Banda Aceh. Tahun 1919 beliau diangkat menjadi ketua Nationale Indische Partij cabang Banda Aceh. Selain menjadi ketua NIP, Teuku Nyak Arif juga pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) selama satu periode. Selama beliau menjabat sebagai anggota Volksraad, beliau kerap mengkritik pemerintah Hindia Belanda yang banyak merugikan rakyat. 

Biografi Teuku Nyak Arif (1899-1946)

Ketika zaman Jepang, beliau juga ditunjuk menjadi anggota Aceh Syu Sangikai (Dewan Rakyat Aceh) dan Sumatera Cuo Sangi In (Dewan Rakyat Sumatera). Meskipun dua lembaga tersebut merupakan bentukan Jepang, beliau sering melakukan gerakan bawah tanah untuk menentang Jepang. Setelah kemerdekaan Republik, Teuku Nyak Arif diangkat menjadi Residen Aceh. Tidak lama setelah hal itu terjadi perang antara Pejuang Aceh dengan tentara Jepang yang dikenal dengan sebuatan Krueng Panjo/Bireun. Perang tersebut meletus setelah Teuku Nyak Arif mencoba melucuti senjata tentara Jepang yang masih tersisa di Aceh. 

Selain dipusingkan dengan perang melawan tentara Jepang, beliau juga menghadapi masalah pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok agama di Aceh. Sebagai residen, beliau rela menyerahkan diri kepada laskar Mujahidin dan tentara perlawanan rakyat agar tidak terjadi pertumpahan darah. Setelah itu, beliau dibawa ke Takengon dan di tempat itulah penyakit gulanya kambuh. Penyakit tersebut membuat kesehatannya semakin memburuk dan akhirnya meninggal. Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 071/TK/1974.

Biografi Cut Nyak Dien (1850-1908)

Biografi Cut Nyak Dien (1850-1908) - Lahir di Lampadang Aceh tahun 1850. Wafat di Sumedang Jawa Barat pada tahun 1908. Ia dikenal dengan sebutan "Wanita Baja" dari serambi Mekkah yang berjuang sebelum Era Kebangkitan Nasional. Ia menikah pada usia 12 tahun dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga, tetapi pada suatu pertempuran di Gletarum pada bulan Juni 1978 suaminya gugur. Beliau pun bersumpah hanya akan menerima pinangan dari laki-laki yang bersedia membantunya membalas dendam kematian suaminya. Akhirnya beliau bertemu dengan Teuku Umar dan menikah dengannya pada tahub 1880, yang jasanya juga dikenang sebagai Pahlawan Nasional dan sangat disegani oleh bangsa Belanda pada zamannya.

Sejak Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar, tekad perjuangannya semakin besar dan bulat. Dalam perjuangannya, Teuku Umar berpura-pura bekerja sama dengan bangsa Belanda sebagai taktik untuk memperoleh persenjataan dan perlengkapan perang lainnya. Sementara Cuk Nyak Dien sendiri berjuang melawan bangsa Belanda di kampung halaman Teuku Umar. 

Biografi Cut Nyak Dien (1850-1908)

Tanggal 11 Februari tahun 1899 Teuku Umar (baca juga postingan: Teuku Umar) gugur dalam pertempuran sengit di Meulaboh setelah taktiknya itu diketahui bangsa Belanda. Meski suaminya itu telah meninggal, Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perjuangannya dengan bergerilya. Beliau tidak pernah mau berdamai dengan bangsa Belanda. Keadaan selama bergerilya membuat keadaan Cut Nyak Dien semakin memburuk. Beliau terkena "Sengal Tulang" dan penglihatannya menjadi kabur. Oleh karena bersimpatik kepada pemimpinnya, pasukan dan pengawal Cut Nyak Dien membuat kesepakatan dengan bangsa Belanda yaitu boleh menangkap Cut Nyak Dien namun dengan syarat-syarat harus diperlakukan secara terhormat sebagai tangkapan perang. Dan selama menjadi tahanan bangsa Belanda, beliau masih sering didatangi para simpatisan dan orang-orang yang setia kepadanya. Melihat situasi seperti itu, bangsa Belanda menaruh curiga dan akhirnya Cut Nyak Dien dipindahkan ke Sumedang hingga wafat.

Beliau tetap dikenang rakyat Indonesia sebagai pejuang yang berhati baja sekaligus ibu dari rakyat Aceh khususnya dan bagi seluruh rakyat Indonesia umumnya. Pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional bedasarkan SK No 106/1964.

Senin, 24 Februari 2014

Biografi Teuku Cik Di Tiro (1836-1891)


Biografi Teuku Cik Di Tiro (1836-1891) - Lahir di Cumbok Lamlo Tiro daerah Pidie Aceh pada tahun 1836. Wafat di Aneuk Galong pada bulan Januari tahun 1891. Nama sebenarnya adalah Muhammad Saman. Teuku Cik Di Tiro merupakan gelar turunan yang beliau dapatkan setelah pamannya meninggal. 

Sejak kecil beliau suka bergaul dengan para santri. Ilmu agama mula-mula didapatkan dari ayahnya dan kemudian terus beliau kembangkan melalui pamannya. Pada prinsipnya, beliau dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. Ketika beliau menunaikan ibadah haji di Makkah, beliau memperdalam lagi ilmu agamanya dan menjumpai para pemimpin di sana. Mengetahui bahwa para pemimpin di Makkah itu juga melakukan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme sesuai dengan ajaran yang diyakininya beliau pun juga bertekad memperjuangkan bangsa dan agama meskipun harus mengorbankan banyak harta benda dan juga nyawa. 

Biografi Teuku Cik Di Tiro (1836-1891)

Perlawanannya yang terkenal melawan bangsa Belanda adalah Perang Sabil. Dimana beliau berhasil merebut banteng musuh satu per satu. Beberapa waktu kemudian perang menjadi semakin surut karena satu hal. Tetapi, Muhammad Hasan membangkitkan kembali perlawanan terhadap bangsa Belanda dengan mengumpulkan para pejuang yang masih tersebar di beberapa tempat. Dengan kekuatan itu beliau membentuk sebuah angkatan perang yang dinamakan Angkatan Perang Sabil. Kemudian beliau mengumumkan bahwa perang yang akan dilancarkan adalah perang melawan kaum kafir. 

Cerita perjuangannya melawan kolonial Belanda sangat panjang, beliau dikenal bertekad baja. Beliau hanya mau berdamai dengan bangsa Belanda apabila orang Belanda mau menjadi Islam. Perjuangannya yang sangat ulet itu berakhir ketika beliau memakan makanan yang telah diberi racun atas dasar siasat bangsa Belanda. Kemudian beliau dibawa ke Aneuk Galong untuk diobati tetapi nyawanya tetap tidak tertolong. Januari 1891 beliau wafat dan disusul oleh Panglima Polim yang juga meninggal. Dengan meninggalnya dua tokoh Aceh itu, perlawanan dari daerah Aceh pada sejenak hingga munculnya Teuku Umar. Teuku Cik Di Tiro diberi anugerah sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan berdasarkan SK Presiden RI No. 87/TK/Tahun 1973.

Biografi Cut Meutia (1870-1910)

Biografi Cut Meutia (1870-1910) - Lahir di Pirak, Keureutoe Aceh Utara pada tahun 1870. Wafat dan dimakamkan di Alue Kurieng pada tanggal 24 Oktober 1910. Beliau bernama lengkap Cut Nyak Meutia. Cut Meutia merupakan salah satu pejuang perempuan yang berasal dari Aceh. Beliau terkenal dengan keberanian, keteguhan jiwa dan daya juangnya. Cut Meutia melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Cik Tunong. 

Biografi Cut Meutia (1870-1910)Setelah melalui perjuangan yang panjang, Teuku Cik Tunong tertangkap bangsa Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, beliau berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya yang bernama Teuku Raja Sabi. 

Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah komando Teuku Muda Gantoe. Pada saat pertempuran di Korps Marsose di Paya Cicem, Cut Meutia dan para wanita pejuang lainnya melarikan diri ke hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya gugur pada tanggal 26 September 1910. Cut Meutia terus bangkit melakukan perlawanan bersama sisa pasukannya hingga akhirnya pada tanggal 24 Oktober 1910 beliau gugur saat menghadapi bangsa Belanda di Alue Kurieng.  

Cut Meutia dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden No 107/1964.