Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Teori Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Belajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Oktober 2014

Pandangan Froebel dan J.J Rousseau Tentang Pendidikan Anak Usia Dini

Pandangan Froebel dan J.J Rousseau Tentang PAUD - Froebel yang bernama lengkap Friendrich Wilheim August Froebel, lahir di Jerman pada tahun 1782 dan wafat pada tahun 1852. Pandangannya tentang anak banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi serta para filsuf Yunani. Froebel memandang anak sebagai individu yang pada kodratnya bersifat baik. Sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan atau pengertian yang dimiliki oleh anak tersebut. Setiap tahap perkembangan yang dialami oleh anak harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Anak memiliki potensi, dan potensi itu akan hilang jika tidak dibina dan dikembangkan.

Tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak amatlah berharga serta akan menentukan kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu masa anak merupakan masa emas (The Golden Age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase/tahap yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase/tahap inilah terjadinya peluang yang cukup besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.

Pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak dalam kehidupannya, sangatlah penting, karena kehidupan yang dialami oleh anak pada masa kecilnya akan menentukan kehidupannya di masa depan.

Pandangan Froebel dan J.J Rousseau Tentang Pendidikan Anak Usia Dini

Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Ia menggunakan taman sebagai simbol dari pendidikan anak. Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri. Pendidikan taman kanak-kanak harus mengikuti sifat dan karakteristik anak. Oleh sebab itu bermain dipandang sebagai metode yang tepat untuk membelajarkan anak, serta merupakan cara anak dalam meniru kehidupan orang dewasa di sekelilingnya secara wajar. Froebel memiliki keyakinan tentang pentingnya belajar melalui bermain.

Pandangan J.J. Rousseau

Jean Jacques Rousseau yang hidup antara Tahun 1712 sampai dengan tahun 1778, Dilahirkan di Geneva, Swiss, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan di Perancis. Rousseau menyarankan konsep “kembali ke alam” dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak. Bagi Rousseau pendekatan alamiah berarti anak akan berkembang secara optimal, tanpa hambatan.

Menurutnya pula bahwa pendidikan yang bersifat alamiah menghasilkan dan memacu berkembangnya kualitas semacam kebahagiaan, spontanitas dan rasa ingin tahu. Rousseau percaya bahwa walaupun kita telah melakukan kontrol terhadap pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sosial dan melalui indera, tetapi kita tetap tidak dapat mengontrol pertumbuhan yang sifatnya alami.

Untuk mengetahui kebutuhan anak, guru harus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan anak-anak. Tujuannnya adalah agar guru dapat memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat anak. Jadi yang menjadi titik pangkal adalah anak. Tujuan pendidikan menurut gagasan Rousseau adalah membentuk anak menjadi manusia yang bebas.

Rousseau memiliki keyakinan bahwa seorang ibu dapat menjamin pendidikan anaknya secara alamiah. Ia berprinsip bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu memberi kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara alamiah.

Demikian uraian singkat mengenai pandangan Froebel dan J.J. Rousseau tentang pendidikan anak usia dini. Semoga dapat dimengerti dan tentunya dapat bermanfaat dalam membelajarakan anak.

Selasa, 14 Oktober 2014

Pandangan Jean Piaget dan Lev Vigotsky Tentang PAUD

Pandangan Jean Piaget dan Lev Vigotsky Tentang PAUD - Pandangan konstruktivis dimotori oleh dua orang ahli psikilogi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivis ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak mengkonstruksi/ membangun pengetahuannya berdasarkan pengalamannya. Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangunnya sendiri secara aktif melalui interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan.

Menurut paham ini anak bukanlah individu yang bersifat pasif, yang hanya menerima pengetahuannya dari orang lain. Anak adalah makhluk belajar yang aktif yang dapat mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya sendiri.

Para ahli konstruktif meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak memahami dunia di sekeliling kita mereka. Pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya anak, orang dewasa dan lingkungan. Anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia. Mereka memahami apa yang terjadi di sekeliling mereka dengan mensintesa pengalaman-pengalaman baru dengan apa yang telah mereka pahami sebelumnya.

Contoh berikut ini akan membantu Anda untuk memahami pandangan ini. Seorang anak TK yang keluarganya memiliki seekor anjing berjalan-jalan dengan mengendarai mobil bersama keluarganya. Mereka melintasi seekor sapi di suatu lapangan. Anak itu menunjuk dan mengatakan “anjing”. Orang tuanya memberitahukan anak tersebut bahwa binatang tersebut bukanlah seekor anjing melainkan sapi dan bahwa sapi berbeda dengan anjing. Informasi yang baru tersebut akan dicerna dengan apa yang telah diketahui dan penyesuaian mental akan terbentuk.

Meskipun anak harus membangun sendiri pemahaman, pengetahuan, dan pembelajaran mereka, peran orang dewasa sebagai fasilitator dan mediator sangatlah penting.

Berdasarkan asumsi tadi nampak bahwa pendekatan ini menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak.

Pandangan Jean Piaget & Lev Vygotsky tentang Pendidikan Anak
Pandangan Jean Piaget & Lev Vygotsky tentang Pendidikan Anak
Piaget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa, berkomunikasi serta bersosialisasi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah melalui interaksi tersebut anak akan belajar memahami perasaan orang, menghargai pendapat mereka, sehingga secara tidak langsung anak juga berlatih mengekspresikan/menunjukkan emosinya.

Semoga Bermanfaat...

Rabu, 08 Oktober 2014

Karakteristik Perkembangan Psikososial Anak Usia SD

Karakteristik Perkembangan Psikososial Anak Usia SD - Pada postingan sebelumnya, telah diuraikan dua jenis perkembangan yaitu perkembangan fisik dan perkembangan kognitif pada karakteristik perkembangan anak usia awal SD. Maka pada postingan kali ini sebagai lanjutan postingan sebelumnya akan membahas mengenai karakteristik perkembangan psikososial anak usia SD yang pada postingan sebelumnya hanya menguraikan perkembangan fisik dan kognitif saja. Bahwa perkembangan sosial berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. Hal ini sejalan dengan J. Havighurst yang mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial.

Setiap menjelang masuk SD, anak telah mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanak‐kanaknya.

Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka "dewasa". Mereka merasa "saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap "I can do it my self". Mereka sudah mampu untuk diberikan suatu tugas.

Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas besar SD. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur.

Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma‐norma sosial dan kesesuaian jenis‐jenis tingkah laku tertentu. Pada saat anak‐anak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.

Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak pada kelas besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas besar SD anak laki‐laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Teman‐teman mereka menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.

Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di awal awal tahun kelas besar SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkin secara terbuka menentang gurunya.

Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimana mereka berperilaku. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan‐kemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18 tahun sampai 22 tahun, umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas.

Kebutuhan Peserta Didik Siswa SD

  • Anak SD Senang Bermain
Perkembangan Sosial Anak Usia SDKarakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih–lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
  • Anak SD Senang Bergerak
Orang dewasa dapat duduk berjam‐jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
  • Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok
Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspekaspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturanaturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3‐4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
  • Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara Langsung
Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep‐konsep lama. Berdasar pengalaman ini, siswa membentuk konsep‐konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi‐fungsi badan, pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.

Semoga bermanfaat.

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Kelas Awal SD

Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD - Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya di tingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan kebutuhan peserta didik.

Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan: Perkembangan Fisik; Perkembangan Kognitif; dan Perkembangan Psikososial. Berikut perkembangan-perkembangan tersebut akan diuraikan secara singkat di bawah ini.
Perkembangan Fisik Siswa SD
Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10 tahun baik laki‐laki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 ‐ 13 tahun anak perempuan berkembang lebih cepat dari pada laki‐laki, Sumantri dkk (2005).
  • Usia masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD.
  • Usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki‐laki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih langsing dari anak laki‐laki.
  • Akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kaki mulai tumbuh cepat.
  • Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki‐laki. Anak laki‐laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun.
  • Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang ditandai dengan menstruasi umumnya dimulai pada usia 12‐13 tahun. Anak laki‐laki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi yang terjadi antara usia 13‐16 tahun.
  • Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi. Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak pubertas awal (prepubertas) dan remaja pubertas akhir (postpubertas) berbeda dalam tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta perkembangan ciri‐ciri seks primer dan sekunder.
Perkembangan Kognitif Siswa SD
Hal tersebut mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan pola pikir. Tahap perkembangan kognitif individu menurut Piaget melalui empat stadium:
  • Sensorimotorik (0‐2 tahun), bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi dunianya.
  • Praoperasional (2‐7 tahun), anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata‐kata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis.
  • Operational Kongkrit (7‐11), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.
  • Operasional Formal (12‐15 tahun). kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

Karakteristik Anak Usia Kelas Awal SDKarakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Demikianlah uraian singkat mengenai karakteristik perkembangan anak usia kelas awal SD. Semoga dapat menambah wawasan kita dalam mendidik dan meramu suatu pembelajaran yang menarik dan mudah diterima oleh peserta didik. Terakhir tentunya semoga bermanfaat.

Jumat, 19 September 2014

Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Menurut Para Ahli

Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Menurut Para Ahli - Berpikir kritis dan berpikir kreatif merupakan perwujudan dari berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Berpikir kritis dapat dipandang sebagai kemampuan berpikir siswa untuk membandingkan dua atau lebih informasi, misalkan informasi yang diterima dari luar dengan informasi yang dimiliki. Bila terdapat perbedaan atau persamaan, maka ia akan mengajukan pertanyaan atau komentar dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan. Berpikir kritis sering dikaitkan dengan berpikir kreatif.

Evans (1991) menjelaskan bahwa berpikir kreatif adalah suatu aktivitas mental untuk membuat hubungan-hubungan (conections) yang terus menerus (kontinu), sehingga ditemukan kombinasi yang “benar” atau sampai seseorang itu menyerah. Asosiasi kreatif terjadi melalui kemiripan-kemiripan sesuatu atau melalui pemikiran analogis. Asosasi ide-ide membentuk ide-ide baru. Jadi, berpikir kreatif mengabaikan hubungan-hubungan yang sudah mapan, dan menciptakan hubungan-hubungan tersendiri. Pengertian ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif merupakan kegiatan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya.

Berpikir kreatif dapat juga dipandang sebagai suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide-ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan (Infinite Innovation Ltd, 2001). Pengertian ini lebih menfokuskan pada proses individu untuk memunculkan ide baru yang merupakan gabungan ide-ide sebelumnya yang belum diwujudkan atau masih dalam pemikiran. Pengertian berpikir kreatif ini ditandai adanya ide baru yang dimunculkan sebagai hasil dari proses berpikir tersebut.

Berdasar pendapat-pendapat tersebut, maka berpikir kreatif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seorang untuk membangun ide atau gagasan yang baru.

Dalam memandang kaitan antara berpikir kreatif dan berpikir kritis terdapat dua pandangan. Pertama memandang berpikir kreatif bersifat intuitif yang berbeda dengan berpikir kritis (analitis) yang didasarkan pada logika, dan kedua memandang berpikir kreatif merupakan kombinasi berpikir yang analitis dan intuitif. Berpikir yang intuitif artinya berpikir untuk mendapatkan sesuatu dengan menggunakan naluri atau perasaan (feelings) yang tiba-tiba (insight) tanpa berdasar fakta-fakta yang umum. Pandangan pertama cenderung dipengaruhi oleh pandangan terhadap dikotomi otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi berbeda, sedang pandangan kedua melihat dua belahan otak bekerja secara sinergis bersama-sama yang tidak terpisah.

Berpikir Kritis Menurut Para AhliJohnson (2002) tampaknya lebih menekankan pada pandangan pertama. Johnson menjelaskan bahwa berpikir kritis mengorganisasikan proses yang digunakan dalam aktifitas mental seperti pemecahan masalah, pengambilan keputusan, meyakinkan, menganalisis asumsi-asumsi dan penemuan ilmiah. Berpikir kritis adalah suatu kemampuan untuk bernalar (to reason) dalam suatu cara yang terorganisasi. Berpikir kreatif merupakan suatu aktifitas mental yang memperhatikan keaslian dan wawasan (ide). Berpikir kreatif sebagai lawan dari berpikir destruktif, melibatkan pencarian kesempatan untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Berpikir kreatif tidak secara tegas mengorganisasikan proses, seperti berpikir kritis. Berpikir kreatif merupakan suatu kebiasaan dari pemikiran yang tajam dengan intuisi, menggerakkan imaginasi, mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan baru, membuka selubung ide-ide yang menakjubkan dan inspirasi ide-ide yang tidak diharapkan. Pengertian ini membedakan dengan tegas berpikir kreatif dan berpikir kritis.

De Bono (dalam Barak dan Doppelt, 2000) membedakan antara 2 tipe berpikir, yaitu berpikir lateral dan berpikir vertikal. Berpikir lateral mengacu pada penemuan petunjuk-petunjuk baru dalam mencari ide-ide, sedang berpikir vertikal berhadapan dengan perkembangan ide-ide dan pemeriksaannya terhadap suatu kriteria objektif. Pemikiran vertikal adalah selektif dan berurutan yang bergerak hanya jika terdapat suatu petunjuk dalam gerakannya. Pemikiran lateral adalah generatif yang dapat meloncat dan bergerak agar dapat membangun suatu petunjuk baru. Pemikiran lateral tidak harus benar pada setiap langkah dan tidak menggunakan kategori-kategori, klasifikasi atau label-label yang tetap. Pemikiran vertikal memilih pendekatan-pendekatan yang sangat menjanjikan pada suatu masalah selama pemikiran lateral membangun banyak alternatif pendekatan. Berpikir kreatif merupakan suatu sintesis antara berpikir lateral dan vertikal yang saling melengkapi. Pengertian ini menyebutkan bahwa dalam berpikir kreatif melibatkan berpikir logis ataupun analitis sekaligus intuitif, seperti pada pandangan kedua dalam pengertian berpikir kreatif.

Berpikir kreatif dalam matematika mengacu pada pengertian berpikir kreatif secara umum. Bishop (dalam Pehkonen, 1997) menjelaskan bahwa seseorang memerlukan 2 model berpikir berbeda yang komplementer dalam matematika, yaitu berpikir kreatif yang bersifat intuitif dan berpikir analitik yang bersifat logis. Pandangan ini lebih melihat berpikir kreatif sebagai suatu pemikiran yang intuitif daripada yang logis. Pengertian ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif tidak didasarkan pada pemikiran yang logis tetapi lebih sebagai pemikiran yang tiba-tiba muncul, tak terduga, dan di luar kebiasaan.

Pehkonen (1997) memandang berpikir kreatif sebagai suatu kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tetapi masih dalam kesadaran. Ketika seseorang menerapkan berpikir kreatif dalam suatu praktik pemecahan masalah, maka pemikiran divergen yang intuitif menghasilkan banyak ide. Hal ini akan berguna dalam menemukan penyelesaiannya. Pengertian ini menjelaskan bahwa berpikir kreatif memperhatikan berpikir logis maupun intuitif untuk menghasilkan ide-ide. Pandangan ini lebih mengarah pada pandangan kedua dalam pengertian berpikir kreatif.

Senin, 09 Juni 2014

Proses Pembelajaran adalah Memanfaatkan Potensi Otak

Proses Pembelajaran adalah Memanfaatkan Potensi Otak - Pada postingan yang lalu telah diuraikan sedikit tentang “pembelajaran adalah proses berpikir”. Dimana pembelajaran tersebut tidak hanya menekankan pada akumulasi pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan peserta didik untuk memperoleh pengetahuannnya sendiri (self regulated). Namun, bagaimana dengan proses pembelajaran tersebut? Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Menurut beberapa ahli, otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri. Masing-masing belahan otak memiliki spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu.
Proses Pembelajaran adalah Memanfaatkan Potensi Otak
Proses berpikir otak kiri bersifat logis, skuensial, linier, dan rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolik. Cara berpikirnya adalah sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik serta simbolik (De Porter, 1992).

Cara kerja otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistic. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non-verbal seperti perasaan dan emosi. Kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, music, seni, kepekaan warna, kreativitas, dan visualisasi.

Kedua belahan otak perlu dikembangkan secara optimal dan seimbang. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan misalnya dengan memasukkan unsure-unsur yang bisa mempengaruhi emosi, yaitu unsure estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Dalam standar proses pendidikan, belajar adalah memanfaatkan kedua belahan otak secara seimbang.

Otak TriunePendapat lain tentang otak adalah teori “Otak Triune”. “Triune” berarti “Three in One” (Dave Meyer, 2002: 83). Menurut teori ini, otak manusia terdiri dari tiga bagian yaitu, otak reptile, system limbic, dan neokorteks. Otak reptile adalah otak paling sederhana. Tugas otak ini adalah mempertahankan diri. Otak ini menguasai fungsi otomatis seperti degupan jantung dan system peredaran darah. Di sinilah pusat perilaku naluriah yang cenderung mengikuti contoh dan rutinitas secara membuta. Otak reptile diyakini sebagai otak hewan yang berfungsi untuk mengejar kekuasaan. Ia akan berbuat apa saja demi mencapai tujuan yang diinginkannya termasuk untuk mempertahankan diri. Sistem limbic adalah otak tengah yang memainkan peranan besar dalam hubungan manusia dan dalam emosi. Fungsi otak ini bersifat social dan emosional. Pada otak ini juga terkadang sarana untuk mengingat jangka panjang. Neokorteks adalah otak yang paling tinggi tingkatannya. Otak ini memiliki fungsi tingkat tinggi, misalnya mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir abstrak, memecahkan masalah, merencanakan ke depan, dan berkreasi. Otak ini yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain ciptaan Tuhan.

Proses pendidikan mestinya mengembangkan setiap bagian otak. Jika proses pembelajaran mampu mancapai otak neokorteks, maka sudah barang tentu otak reptile dan system limbic akan terkembangkan. Namun demikian, pembelajaran yang hanya menyentuh otak limbic apalagi otak reptile belum tentu neokorteks akan terkembangkan. Dengan demikian, pembelajaran mestinya mengembangkan kemampuan-kemampuan yang berhubungan dengan fungsi neokorteks, melalui pengembangan berbahasa, memecahkan masalah, dan membangun kreasi.

Demikian uraian singkat tentang proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan kita dalam menyajikan pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif. Semoga bisa bermanfaat.


Jumat, 23 Mei 2014

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar - Penulis memulai tulisan ini dengan mengutip sedikit hadits qudsi yang kurang lebih mempunyai arti “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. Seseorang akan sukses jika ia merasa yakin bahwa ia akan sukses. Demikian juga, orang akan mengalami kegagalan jika ia menyangka bahwa ia akan gagal. Troisi (1983) mengatakan, “Expectation of success breeds success and expectation of failure breeds failure”. Kita tentu ingat buku terkenal “You can if you think you can”-nya Peale itu. Dalam buku tersebut menunjukkan betapa besar kekuatan sebuah keyakinan. Dalam proses belajar, bahwa keyakinan atau harapan sangat membantu siswa berkembang bahkan melampaui apa yang biasa mereka capai.

Harapan atau keyakinan tidak harus datang dari diri sendiri tapi juga dari orang lain. Dari harapan-harapan, doa-doa dan keyakinan orang lain baik orang tua, teman, guru atau siapa pun. Ini menunjukkan bahwa secara psikologis seseorang akan melakukan apa yang orang lain harapkan untuk ia lakukan. Demikianlah, ekspektasi (harapan) seorang guru secara positif berpengaruh terhadap kesuksesan siswanya.

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar
Dalam penelitian yang lain (Reynolds dan Teddlie [2000]) tentang pengaruh ekspektasi atau harapan dalam berbagai artikel psikologis, ditemukan sebuah kesimpulan yang konsisten, bahwa harapan yang tinggi serta usaha mengkomunikasikan harapan-harapan tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Lebih jauh, dalam penelitian-penelitian tersebut menganjurkan, dalam mengkomunikasikan harapan yang tinggi tersebut sebaiknya diberikan kepada siswa dalam bentuk tindakan-tindakan praktis dan penguatan-penguatan lisan. Contoh sederhananya, seorang guru perlu mengatakan, “Saya yakin kamu bisa” kepada siswa untuk member semangat dan menumbuhkan keyakinannya bahwa ia bisa jika belajar dengan sungguh-sungguh.

Di samping itu, dalam teori tingkat aspirasi (Aspiration Level Theory), bahwa tingkat aspirasi atau ekspektasi yang diberikan kepada siswa memiliki pengaruh yang kuat terhadap kemampuan bersaing siswa dalam meraih kesempatan memasuki lembaga pendidikan lanjutan yang lebih bermutu. Semakin tinggi tingkat aspirasi yang diberikan guru, semakin tinggi pula daya saing siswa dan semakin besar kesempatan mereka memasuki lembaga pendidikan lanjutan yang lebih bermutu.

Hanya saja, perlu dijelaskan bagaimana ekspektasi atau aspirasi tersebut mempengaruhi dan, dalam kadar tertentu mengubah cara guru mengajar dan menghadapi siswa. Ekspektasi yang terlalu tinggi secara negatif mempengaruhi performance siswa, dan malah tidak memotivasi mereka. Tetapi, sebuah ekspektasi yang seimbang dan rasional, memberikan motivasi positif bagi siswa untuk melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

Karenanya, tantangannya adalah bagaimana sekolah menemukan keseimbangan menguak potensi siswa tanpa secara berlebihan memacu mereka sehingga mereka justru merasa khawatir mengalami kegagalan. Dengan menetapkan standar sebuah prestasi yang bisa mereka capai sesuai dengan kemampuan mereka, kemungkinan besar semua siswa dapat meraih kesuksesan dan sekaligus pengakuan terhadap prestasi mereka. Dalam konteks ini, siswa lebih memungkinkan mengalami dorongan untuk menunjukkan yang terbaik yang bisa mereka lakukan, untuk menumbuhkan cinta terhadap pelajaran yang diberikan di sekolah dan juga menumbuhkan rasa senang terhadap sekolah.

Sangat menarik untuk dicermati di sini pendekatan transenden yang digunakan Kesseler (2000: 117-118) untuk meningkatkan prestasi siswa. Dengan mengadopsi skema “Spiritual-Urges”-nya, ia menulis “transendensi ialah upaya melintasi batas-batas kemampuan manusiawi”. Ia kemudian menganjurkan, ketimbang menekankan ekspektasi guru yang notabene dari luar diri siswa, adalah lebih baik mengakui dan mendukung keinginan-keinginan siswa sendiri untuk mengambil langkah yang bisa melampaui prestasi yang biasa mereka capai.

Contoh baik untuk ini adalah apa yang dilakukan oleh A’a Gym di Pesantren Darut Tauhid. Di pesantren ini para santri didorong untuk berkreasi mengembangkan kemampuan masing-masing dengan suatu keyakinan bahwa “Anda akan berhasil selama Anda percaya bahwa Anda akan berhasil, dan yakin bahwa Allah akan membantu”. Demikianlah uraian singkat bagaimana menumbuhkan keyakinan kepada anak didik atau siswa agar semangat belajar dan terus belajar.


Selasa, 13 Mei 2014

Proses Pembentukan Sikap melalui Pola Modeling

Proses Pembentukan Sikap melalui Pola Modeling - Pada postingan yang lalu telah sedikit dipaparkan tentang bagaimana pembentukan sikap melalui pola pembiasaan (baca juga: Pembentukan Sikap melalui Pola Pembiasaan) dengan dimunculkannya dua percobaan yang dilakukan oleh dua orang psikolog ternama yakni Watson dan Skinner. Selain pola tersebut, ada juga pembentukan sikap dengan pola modeling. Apa itu pembentukan sikap melalui pola modeling? Yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses peniruan atau mencontoh.

Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginannya untuk melakukan peniruan (imitasi). Hal yang ditiru itu adalah perilaku-perilaku yang diperagakkan atau didemonstrasikan oleh orang yang menjadi idolanya. Prinsip peniruan ini yang dimaksud dengan "Modeling". Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.
Proses Pembentukan Sikap melalui Pola Modeling

Pemodelan biasanya dimulai dari perasaan kagum. Anak kagum dengan kecerdasan orang lain, misalnya terhadap guru yang dianggapnya bisa melakukan segala sesuatu yang tidak bisa dilakukannya. Secara perlahan, perasaan kagum akan mempengaruhi emosinya dan secara perlahan itu pula anak akan meniru perilaku yang dilakukan oleh idolanya itu. Sebagai contoh, jika idolanya (guru atau siapa saja) menunjukkan perilaku tertentu terhadap suatu objek, maka anak akan cenderung berperilaku sama seperti apa yang dilakukan oleh idolanya itu. Jika idolanya itu begitu "telaten" terhadap tanaman yang ada di halaman sekolah, misalnya, maka anak itu juga akan memperlakukan seperti apa yang dilakukan idolanya terhadap tanaman tersebut; apabila idolanya selalu berpakaian rapi dan bersih, maka anak itu juga berperilaku seperti itu.

Proses penanaman sikap anak terhadap suatu objek melalui proses modeling pada mulanya dilakukan secara mencontoh. Namun, anak perlu diberi pemahaman mengapa hal itu dilakukan. Misalnya, guru perlu menjelaskan mengapa kita harus telaten terhadap tanaman; atau mengapa kita harus berpakaian bersih. Hal ini diperlukan agar sikap tertentu yang muncul benar-benar didasari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu sistem nilai.

Dengan demikian, dalam dunia pendidikan, seorang guru haruslah berperilaku yang normatif dan tidak asal. Karena hal ini juga termasuk dalam kompetensi kepribadian seorang pendidik. Anak akan sangat gampang dan mudah meniru apa-apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Sehingga akan sangat riskan ketika seorang pendidik melakukan perbuatan negatif di depan anak didiknya. Semoga dengan berjalannya kurikulum yang sekarang ini, kurikulum yang menekankan karakter, akan menumbuhkan sikap yang bijak kepada para pendidik di negeri ini. Sehingga anak didik akan dengan mudah untuk menyerap ilmu karena ditopang oleh teoritik berikut praktisnya.


Pembentukan Sikap melalui Pola Pembiasaan

Pembentukan Sikap melalui Pola Pembiasaan - Apakah sikap bisa dibentuk? Perhatikan percobaan yang dilakukan seorang psikolog terkenal yang bernama Watson.

Pada suatu hari Watson melihat ada anak yang senang dengan tikus berbulu putih. Kemana pun anak itu pergi, ia selalu membawa tikus putih yang sangat disenanginya. Watson ingin mengubah sikap senang anak terhadap tikus putih menjadi benci atau tidak senang. Maka, ketika anak hendak memegang tikus itu, Watson memberi kejutan dengan suara keras, hingga anak tersebut terkejut. Terus menerus hal itu dilakukan. Ketika anak mendekati dan hendak membawa tikut itu, dimunculkanlah suara keras; anak semakin terkejut dan lama kelamaan anak benar-benar menjadi takut dengan tikus putih itu. Jangankan ia mau memegang atau membawanya, melihat saja ia menangis dan ketakutan. Mengapa anak berubah sikapnya dari sikap positif terhadap tikus menjadi sikap negatif? Hal ini disebabkan kebiasaan (conditioning). Cara belajar sikap demikian menjadi dasar penanaman sikap tertentu terhadap suatu objek.

Pembentukan Sikap melalui Pola PembiasaanDalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan. Sebagai contoh, siswa yang setiap kali menerima perlakuan yang tidak mengenakkan atau menyenangkan dari guru, misalnya perilaku mengejek atau perilaku yang menyinggung perasaan anak. Maka, lama kelamaan akan timbul rasa benci dari anak tersebut; dan perlahan-lahan anak akan mengalihkan sikap negatif itu bukan hanya kepada gurunya itu sendiri, akan tetapi juga kepada mata pelajaran yang diampunya. Kemudian, untuk mengembalikannya pada sikap yang positif bukanlah pekerjaan yang mudah.

Inilah kenapa guru di samping sebagai fasilitator juga harus menjadi teman yang akrab dengan anak didiknya bukan menjadi orang lain apalagi menjadi musuh yang selalu menjustifikasi kekurangan-kekurangan atau ketidakmampuan siswanya.

Belajar membentuk sikap melalui pembiasaan itu juga dilakukan oleh Skinner, melalui teorinya yang dikenal dengan "Operant conditioning". Proses pembentukan sikap melalui pembiasaan yang dilakukan Watson berbeda dengan proses pembentukan sikap yang dilakukan Skinner. Pembentukan sikap yang dilakukan Skinner menekankan pada proses peneguhan respons anak. Setiap kali anak menunjukkan prestasi yang baik, Skinner kemudian memberikan penguatan (baca: reinforcement) dengan cara memberikan hadiah atau perilaku yang menyenangkan. Yang pada akhirnya, anak akan selalu berusaha meningkatkan sikap positifnya tersebut.

Itulah sekelumit tentang bagaimana pembentukan sikap melalui pola pembiasaan. Semoga kita bisa mengambil nilai plusnya dari dua percobaan di atas dan tentunya dapat memperlakukan anak didik kita sebaik-baiknya agar menjadi generasi bangsa yang unggul dan berkompeten pada bidangnya. Amien.


Senin, 10 Maret 2014

Apa itu Pendidikan Karakter?


Apa itu Pendidikan Karakter? - Seperti kita tahu pendidikan karakter sedang digalakan. Namun kemudian pertanyaan timbul, apakah karakter itu? Karakter ada yang mengartikan sebagai suatu sifat atau kepribadian yang dimiliki seseorang. Karakter juga juga diartikan sebagai kekuatan dan respon terhadap sesuatu. Karakter juga menggambarkan suatu watak dan kebiasaan seseorang.

Kembali pada karakter, ada beberapa ilmuwan yang menjelaskan berbagai definisi karakter yang dihubungkan dengan moralitas seperti menurut Lawrence Kohlberg dalam bukunya "The Psychology of Moral Development" (1927) menyimpulkan hasil penelitian empiriknya terhadap perkembangan moralitas anak-anak dari berbagai latar belakang agama, yaitu Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dan Islam, bahwa agama dan institusi agama tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang. Penelitian Kohlberg dikenal dengan teori KOGNITIF DEVELOPMENTAL, yaitu 3 (tiga) tingkatan dan 6 (enam) tahapan perkembangan moral yang menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakili seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan dan prinsip keadilan. Menurutnya, prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.
Apa itu Pendidikan Karakter?

Pendekatan Kohlberg yang sangat empirik tersebut tidak mempertimbangkan potensi suci (Homo Devinans and Homo Religious) yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan moral dan pembentukan perilaku. Kohlberg lebih menitik beratkan pada adanya interaksi sosial dan perkembangan kognitif seseorang. Ini dapat dimaklumi sebagai tradisi ilmiah Barat yang hanya menumpukan pada konsep empirisme, apa yang terlihat oleh analisis penelitian.

Kemudian ada Sigmund Freudi yang memiliki pendapat tentang potensi pada diri manusia yang sangat berpengaruh terhadap karakternya, yaitu: ID, EGO, dan SUPEREGO (es, ich, ueberich). Menurutnya, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psiko-seksual tertentu pada enam tahun pertama dalam kehidupannya. Berdasarkan teorinya tersebut, Freud menyimpulkan bahwa moralitas merupakan sebuah proses penyesuaian antara id, ego dan superego.

Di dalam Islam sendiri, Al-Ghazali memiliki pandangan unik tentang pembentukan karakter manusia. Dalam kitabnya "al-Maqshad al-Asna Syarh Asma Allah al-Husna" (tt). Beliau menyatakan bahwa sumber pembentukan karakter yang baik itu dapat dibangun melalui internalisasi nama-nama Allah (Asma al-Husna) dalam perilaku seseorang. Artinya, untuk membangun karakter yang baik, sejauh kesanggupannya manusia meniru-niru perangai dan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (baca: pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, taqwa, zuhud, ikhlas beragama, dan sebagainya. Sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan taqarrub kepada Tuhan. Karena itu, Al-Ghazali tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir tetapi juga kebersihan rohani.

Dari beberapa definisi para ahli tentang apa itu karakter, maka dapat disimpulkan karakter manusia meliputi dua hal baik dan buruk. Dan setiap tokoh memiliki karakter yang bisa dijadikan panutan. Mengenai pendidikan karakter yang sedang digalakkan meliputi pembentukan siswa cendekiawan, mandiri dan berhati nurani. Maka kita dapat menelaah apa saja bentuk-bentuk karakter yang dapat kita ambil sebagai pegangan untuk mewujudkan siswa cendekiawan, mandiri dan berhati nurani.

Kata "cendekiawan" berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemerintahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya. Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, menyoal, dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaary, seorang dermawan Malaysia terkenal mengatakan bahwa hakikatnya tidak semudah itu. Ia berkata: "Belajar di Universitas bukan jaminan seseorang menjadi cendekiawan,,, seorang cendekiawan adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umumnya untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan dan kebebasan untuk rakyat".

Mandiri sering juga disebut dengan tidak bergantung, menjadi mandiri adalah sebuah proses. Kita yang sangat bergantung dari bantuan orang lain, maka mulai dari sekarang kita harus mulai belajar menjadi mandiri. Apakah hanya secara financial? Tidak, kita harus bisa mandiri secara utuh. Artinya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi baik masalah pribadi, maupun masalah-masalah umum.  

Berhati nurani, kita sadar tiap manusia memiliki hati (perasaan), namun dalam pembentukan karakter masih ditambahkan dengan kata nurani yang berarti cahaya/cahaya mata. Dua kata ini umumnya digabung yang berarti hati yang bercahaya atau cahaya mata hati. Di dalam bahasa Indonesia juga dapat berarti "Lubuk Hati yang paling dalam" atau disebut juga sebagai kata hati.

Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati nurani sebagai kaca cermin. Bagi orang yang tidak pernah berbuat salah, maka nuraninya bagaikan cermin yang bening. Sehingga sekecil apapun noda di wajah, segera akan tampak di cerminnya. Adapun orang yang kerap melakukan kesalahan-kesalahan kecil, maka nuraninya bagaikan cermin yang terkena debu. Wajahnya masih tampak, namun noda-noda kecil sudah tidak tampak karena kotornya sang cermin. Sedangkan pelaku kejahatan besar maka nuraninya akan gelap, seperti cermin tersiram cat hitam. Mungkin hanya sebagian kecil saja dari cerminnya yang bisa digunakan untuk bercermin. Karenanya seorang penjahat atau pembohong kerap tidak merasa dirinya bersalah, karena cermin hatinya sudah tidak bisa menampakkan gambar apa-apa.

Sebagai refleksi, coba kita ingat jika kita menggunakan uang orangtua kita tanpa izin, maka ada perasaan kurang enak, atau kalau kita berbohong keluar malam untuk sesuatu hal yang tidak penting, coba ingat pula ketika kita berjanji namun kemudian kita mengingkari, ingat pula ketika kita melihat orangtua renta yang menggigil kedinginan karena kehujanan sementara kita membawa payung, jika kita kurang nyaman itulah hati nurani yang berbicara.

Terakhir, nurani dalam diri manusia berfungsi sebagai kotak hitam (BlackBox) untuk merekam segala cerita dan kejadian hidup. Dimensi waktunya mencakup waktu dulu dan waktu yang sedang terjadi sekarang. Selain itu, nurani berfungsi sebagai radar untuk mendeteksi pengaruh baik dan buruk yang datang dari dalam maupun dari luar diri manusia, yang kemudian disesuaikan dengan mengikuti fitrahnya, yaitu menerima kebenaran. Inilah perlunya kita mengasah hati nurani. Semoga kita menjadi manusia-manusia yang unggul, cendekiawan, mandiri, dan berhati nurani.








----------- Arum Yunita M
(Mahasiswa Seni Tari UNY)

Minggu, 09 Maret 2014

Fondasi Humanisme dalam Pendidikan

Fondasi Humanisme dalam Pendidikan - Fondasi yang kuat adalah penentu kokohnya suatu bangunan. Hal itu tidak jauh berbeda dari konsep awal pendidikan. Pada zaman modern saat ini, tidak cukup hanya menekankan pentingnya pendidikan di lingkungan formal. Sebab, tak jarang muncul para generasi muda yang cerdas namun minus akan nilai-nilai Humanisme.

Mencapai nilai-nilai humanisme dalam pendidikan bukan hanya tugas guru. Nilai-nilai itu dapat mulai diaplikasikan dalam lingkup keluarga. Sebab, pendidian dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana karakter seorang anak terbentuk. Terbentuknya nilai-nilai humanisme sangat ditentukan oleh pola asuh orang tua. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang keras, maka akan memiliki karakter yang keras. Demikian pula seorang anak yang dididik dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, maka akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih.

Selanjutnya, pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai humanisme akan sangat dirasakan kelak ketika memasuki kehidupan nyata. Yakni kehidupan di lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Fondasi Humanisme dalam Pendidikan

Minim Aplikasi Humanisme dalam Pendidikan

Penerapan nilai humanisme di lingkup pendidikan formal di negeri ini terasa masih sangat kurang. Hasilnya, banyak orang cerdas yang "ngakunya" intelektual justru melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. KORUPSI, PENGGELAPAN PAJAK, PENYELEWENGAN APBN, adalah contoh yang seharusnya bukan menjadi bagian dari perbuatan kaum intelektual.

Saat ini, yang ditekankan adalah rasionalitas instrumental termasuk pembaruan pendidikan yang memberikan perhatian kepada administrasi, teknologi pendidikan dan efisiensi sebagai kriteria perubahan dan kemajuan. Tuntutan dan tekanan akan standar pendidikan yang terus diubah dari waktu ke waktu, bahkan kurikulum yang terus diubah tanpa didasari adanya penguasaan yang baik oleh para pendidik (baca: guru) dinilai tidak meningkatkan kualitas pendidikan.

Karena itu, pengajaran dengan menekankan nilai-nilai humanisme akan menekankan penajaman rasionalitas manusia dalam berpikir dan menyikapi kehidupan yang terjadi. Namun, butuh ketulusan dan kesabaran dalam memperjuangkannya. Aspek penting yang dapat dijadikan bahan untuk membangun fondasi pendidikan yang humanis sangatlah beragam. Dimulai dari proses mendidik yang penuh cinta dan kasih sayang. Bukan hanya mendidik karena keharusan mendidik dalam suatu profesi tertentu (misalnya guru atau dosen), tetapi menjadikan semua proses mendidik sebagai suatu bentuk ketulusan sehingga para siswa mampu merasa "DIMANUSIAKAN" selama menempuh pendidikan.




---------- Patricia Anggit Sri Harsono

Senin, 03 Maret 2014

Multiple Intelligences: Alternatif Mengembangkan Kecerdasan Anak

Multiple Intelligences: Alternatif Mengembangkan Kecerdasan Anak - Pada pemaparan tentang "Redefinisi Kecerdasan: First Humanitiy", bahwa mengapa Gardner dengan Miltiple Intelligencesnya menyita perhatian masyarakat? Setidaknya ada tiga paradigma yang diubah Gardner. Dan pada kesempatan inilah ke tiga paradigma tersebut akan dipaparkan.

[1] Kecerdasan Tidak Dibatasi Tes Formal

Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun lagi. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.

Multiple Intelligences: Alternatif Mengembangkan Kecerdasan Anak
Pada awal 1970-an, tak sedikit ahli Psikologi dunia yang berpendapat bahwa tes IQ (yang dicetuskan oleh Alferd Binet) yang banyak diterapkan di dunia pendidikan itu tidak valid. Gardner menulis tentang konsep multiple intelligences dalam bukunya Frame of Mind, yang diterbitkan pada 1983. Buku ini dipublikasikan dengan tujuan memberikan kritik yang mendalam tentang ketidakvalidan tes IQ. Buku ini berhasil memberikan kekuatan dan inspirasi bagi psikolo-psikolog dunia untuk introspeksi diri dan kembali merenungkan makna kecerdasan manusia.

Dalam bukunya yang terkenal, Smart Baby, Clever Child, Valentine Dmitriev, Ph.D mengatakan bahwa ada dua faktor dalam perkembangan otak manusia yang menjadikan beberapa orang lebih pandai dari pada orang lain. Faktor itu adalah Keturunan dan Lingkungan. Tidak banyak yang bisa dilakukan orangtua untuk mengubah warisan gen seorang bayi, tetapi sangat banyak yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan faktor lingkungan guna meningkatkan potensi perkembangan seorang anak. Artinya bahwa otak tumbuh sebagai hasil dari informasi yang diterima, disimpan, dan diprosesnya. Dengan kata lain, otak tumbuh melalui proses yang disebut "Belajar".

Lebih jauh, Dmitriev mengatakan bahwa dalam banyak kasus, anak-anak yang berpotensi cemerlang tidak meraih apa yang mungkin dicita-citakannya. Otak mereka gagal tumbuh karena kondisi kehidupan yang miskin. Kemiskinan, kekurangan gizi, orang tua yang kurang peduli, sebagaimana juga kurangnya rangsangan dan pengalaman yang mendidik (guru), turut menyumbang pada penundaan perkembangan kondisi mental.

Baca juga dua paradigma selanjutnya yaitu:

Jumat, 28 Februari 2014

Prosedur Pengaplikasian Teori Belajar dalam Proses Belajar Mengajar

Prosedur Pengaplikasian Teori Belajar dalam Proses Belajar Mengajar - Dalam perkembangannya proses pembelajaran sangat beragam. Di sinilah tuntutan untuk mengetahui tentang teori-teori belajar sangat ditekankan. Karena dengan mengetahui teori-teori belajar pembelajaran akan sangat bermakna dan dapat diterima oleh otak. Juga dari hal tersebut pula akan muncul berbagai mekanisme dalam prosedur bagaimana baiknya materi pelajaran akan dihidangkan, baik dari segi metode, proses/pelaksanaan dan sebagainya. 

Manfaat Teori Belajar Bagi Guru: 

Prosedur Pengaplikasian Teori Belajar dalam Proses Belajar MengajarMembantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar; Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan produktif; Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajarannya; Menjadi panduan guru untuk mengelola kelas; Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendidi serta hasil belajar siswa yang telah dicapai; dan Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat mencapai prestasi maksimal.

Hal-Hal yang Harus Diketahui dalam Teori Belajar:

Konsep dasar teori tersebut beserta ciri dan persyaratan yang melingkupinya; Bagaimana sikap dan peran guru dalam proses pembelajaran jika teori tersebut diterapkan; Factor-faktor lingkungan (fasilitas, alat, suasana) apa yang perlu diupayakan untuk mendorong proses pembelajaran; Tahapan apa saja yang harus dilakukan guru untuk melaksanakan pembelajaran; Apa yang harus dilakukan siswa dalam proses belajarnya;

Beberapa Faktor yang Harus Dipertimbangkan Ketika Mengkritisi Teori Belajar:

Mengenali tokoh, perjalanan hidup dan proses akademik yang ditempuh serta perjuangan yang ditempuh dalam menelurkan teori belajar yang dikemukakannya; Memahami konteks generasi, situasi zaman atau tahun yang melatarbelakangi peristiwa kelahiran teori-teori belajar tersebut; dan Proses kekinian dari teori tersebut dan perkembangannya

Teori-teori belajar yang berkembang sekarang dan banyak diimplementasikan dalam pendidikan adalah Teori Belajar Behaviorisme, Teori Belajar Kognitivisme, Teori Belajar Konstruktivisme, Teori Belajar Humanisme, Teori Belajar Konectivisme dan teori yang dicanangkan oleh bapak pendidikan Indonesia yakni Teori Belajar Ki Hajar Dewantara, dimana akan dipaparkan pada postingan selanjutnya.

Rabu, 26 Februari 2014

Redefinisi Kecerdasan: First Humanity


Redefinisi Kecerdasan: First Humanity - Setiap kali kita diminta menilai siapa yang lebih cerdas: Bill Gates, J.K. Rowling, Oprah Winfrey, atau Munir, SH (alm.)? Atau siapa yang paling cerdas dari tokoh-tokoh dan ilmuan-ilmuan terkenal? Maka, sudah dipastikan banyak yang kebingungan untuk menjawabnya. Kecerdasan manusia dan kebutuhan untuk mengukurnya dengan berbagai instrumen dan indikator tiba-tiba menjadi hal yang penting, terutama ketika kecerdasan dihubungkan dengan syarat-syarat untuk mencapai kesuksesan hidup.

Redefinisi Kecerdasan

Mengapa harus dimulai dengan makna kecerdasan? Pemahaman makna kecerdasan merupakan awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Kesepakatan atas paradigma dan makna tentang kecerdasan selanjutnya dapat menjadi awal penyusunan dan aplikasi sebuah sistem pendidikan.

Redefinisi Kecerdasan: First Humanity

Pembicaraan mengenai makna kecerdasan sangatlah luas. Teori-teori kecerdasan terus berkembang, mulai dari Plato, Aristoteles, Darwin, Alfred Binet, Stanberg, Piaget, dan sampai Howard Gardner. Perkembangan yang pesat ini mengerucut pada pola yang sama, yaitu bahwa makna kecerdasan banyak ditentukan oleh faktor situasi dan kondisi (konteks) yang terjadi pada saat teori tersebut muncul. Pada akhirnya, makna kecerdasan sangatlah bergantung pada banyaknya kepentingan eksternal dari hakikat kecerdasan itu sendiri. Kepentingan eksternal tersebut meliputi kepentingan politis, eugenic (keturunan), keunggulan ras, dan banyak lagi.

Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada 1983 saat Howard Gardner, pemimpin Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Dan munculah Teori Multiple Intelegences yang belakangan ini diikuti oleh Psikolog dunia yang berpikiran maju, mulai menyita perhatian masyarakat. Betapa tidak, multiple intelegences yang awalnya adalah wilayah Psikologi ternyata berkembang sampai ke wilayah edukasi (pendidikan). Bahkan telah merambah dunia profesional di perusahaan-perusahaan besar.

Mengapa demikian besar dan sangat berpengaruh dalam menyita perhatian dunia? Setidaknya ada tiga paradigma mendasar yang diubah Gardner yang akan dipaparkan pada kesempatan selanjutnya tentang apa tiga paradigma mendasar tersebut.

Ref.
Munif Chatib. 2012. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa

Minggu, 23 Februari 2014

Redefinisi Makna Pendidikan


Redefinisi Makna Pendidikan - Pendidikan memang tidak henti-hentinya untuk terus dikembangkan dan sangat hangat untuk dibicarakan. Tentunya ketika kita akan mengembangkan dan membicarakan pendidikan setidaknya kita harus mengerti apa itu pendidikan? Dalam kesempatan ini masih dalam konteks Pendidikan Ala Ki Hajar Dewantara yang telah diuraikan pada postingan terdahulu, dan sekarang akan sedikit mengulas tentang Redefinisi Makna Pendidikan.

Redefinisi Makna Pendidikan


Kalau selama ini pendidikan hanya dimengerti sebatas pembentukan intelektual, transfer knowledgei, sementara pembentukan budi pekerti hanya sebatas kata-kata belaka. Maka perlulah kita kembali melihat tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah "penguasaan diri" sebab disinilah pendidikan disebut sebagai agen memanusiakan manusia atau menjadikan manusia (baca: peserta didik) kian beradab dan memiliki budi pekerti (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang memang memanusiakan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya maka otomatis mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Sehingga pada akhirnya akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa (educate person).

Selain itu pendidikan juga merupkan sarana untuk meng-upgrade diri. Karena tanpa pendidikan, kita akan terperangkap hidup pada masa lalu. Itu sebabnya pakar kepemimpinan Manfred Kets De Vries mencatat, bahwa salah satu penghalang bagi manusia untuk memperbaharui diri adalah karena selalu menjustifikasi produksi masa lalu [1]. Jika hingga saat ini pendidikan hanya dimengerti sebagai pengajaran sebagaimana yang telah terjadi selama ini, maka kita juga tidak akan pernah berubah.

Dari dua pandangan di atas yaitu pendidikan adalah proses penguasaan diri dan proses pembaharuan diri. Maka dapat ditarik benang merah bahwa pendidikan adalah sarana manusia untuk berkreativitas. Artinya melalui pendidikan manusia dapat mengaktualisasikan kreativitasnya tanpa terhalang oleh sistem-sistem yang kaku dan stagnan. Pendidikan menjadi tempat manusia mengungkapkan dirinya secara lahir dan batin. Proses pendidikan ini akan memperbaharui diri manusia untuk mencapai nilai-nilai luhur (baca: fitrah) yang ada dalam dirinya serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan dan peradaban dunia.

Terakhir, bahwa pengajaran dan pendidikan adalah dua hal yang saling melengkapi (relationship). pengajaran membentuk peserta didik dapat berpikir secara intelektual dan empiris. Sementara pendidikan adalah mendidik peserta didik untuk menjadi manusia yang mampu mandiri dan dewasa baik itu secara intelektual maupun secara moral. Relationship dua hal ini tidak dapat diabaikan salah satunya. Tetapi pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang membentuk manusia yang mampu membimbing dirinya dan mengambil sikap yang otonom (mandiri).

Pendidikan bersifat memanusiawikan manusia. Dimana manusia mampu mengaplikasikan seluruh talenta yang ada dalam dirinya, baik itu pikiran maupun hatinya. Yang sifatnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.