Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Modernisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modernisasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2014

Membangun Information Technology (IT) Pesantren

Membangun Information Technology (IT) Pesantren - Peran penting pesantren sebagai basis pendidikan dan dakwah sangat memerlukan piranti pendukung untuk mengaktualisasikan peranannya di tengah-tengah peradaban modern. Salah satu hal utamanya adalah mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi di pesantren. Mengapa demikian? Sebab pada dasarnya, pendidikan maupun dakwah merupakan bentuk kegiatan komunikasi, baik berupa komunikasi personal, kelompok, ataupun masa. Sementara komunikasi yang baik tentu saja membutuhkan adanya sumber informasi yang baik pula; begitupun komunikator yang handal, pesan (message) yang sesuai, dan saluran atau medium yang tepat. Sehingga pada akhirnya, aktivitas pendidikan dan dakwah yang dilakukan pesantren dengan menggunakan teknologi informasi diharapkan akan menghasilkan efek positif bagi masyarakat luas.
Membangun Information Technology (IT) Pesantren
Sekarang ini teknologi informasi memegang peranan penting dalam kemajuan peradaban manusia. Karena itulah semestinya pesantren bukan hanya membahas permasalahan agama saja, melainkan juga menjadikan teknologi informasi sebagai pendukung sarana untuk pendidikan dan dakwah secara mengglobal dengan menembus batas-batas geografis. Hal ini penting untuk dimengerti mengingat system informasi konvensional tidak dapat mendukung penyebaran informasi secara meluas. Sementara dunia dewasa ini telah menerapkan system informasi berbasis computer yang membuat segalanya menjadi mudah untuk tersentuh oleh siapapun dan dimanapun. Maka dari itu, pesantren memang sudah seharusnya melengkapi kebutuhan teknologi yang sudah menjadi tuntutan zaman.

Berbicara tentang teknologi dan penyebaran informasi tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan “internet”. Internet merupakan wadah yang banyak digunakan untuk penyebaran informasi, karena internet tidak mengenal akan batasan ruang dan waktu. Dunia Islam saat ini sudah tidak asing lagi dengan internet. Sudah banyak lembaga pendidikan atau organisasi yang bernuansa Islam yang memiliki “website” tersendiri. Kita sebut saja salah satunya adalah Pesantren Darut Tauhid yang dipimpin oleh seorang da’I ternama yaitu Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal dengan sapaan “Aa Gym”. Pesantren ini telah mensosialisasikan dakwahnya melalui web yang dikemas secara interaktif; dan tidak hanya itu saja beliau juga menggunakan teknologi seluler untuk memperluas dan mempermudah jalur dakwah yaitu dengan mengirimkan sms maka anda dapat menerima tausiah ataupun nasihat dari tim Manajemen Qalbu. Ini merupakan suatu terobosan baru bagi dunia dakwah khususnya di Indonesia. Di samping itu juga ada “pesantren.net” dimana dapat diketahui pesantren-pesantren di Indonesia dan isu-isu teraktual dari dunia yang bersangkutan dengan isu-isu ke-Islam-an. Sesungguhnya dunia internet telah tidak asing lagi bagi sebagian kalangan pesantren. Hanya saja masalahnya, butuh waktu berapa tahun lagi agar dunia pesantren bebas dari “buta” teknologi informasi?

Dengan pemaparan yang singkat ini, ada satu hal yang penting untuk digaris bawahi atas dasar konteks seorang muslim, bahwa penting adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan keberadaan ustadz atau guru yang menguasai informasi sebagai bagian dari sarana untuk menunjang pendidikan pada era informasi ini. Semoga bisa bermanfaat dan membuka wawasan kita.



Minggu, 01 Juni 2014

Penguatan Pendidikan Keterampilan di Pesantren

Penguatan Pendidikan Keterampilan di Pesantren - Di negara berkembang seperti di Indonesia ini, ukuran pendidikan ditentukan oleh pandangan mengenai apa yang disebut dengan pembangunan. Karena itulah, ukuran keberhasilan output dari pendidikan adalah sejauh mana seorang santri atau alumni pesantren mampu mengaplikasikan ilmu yang dicapainya untuk pembangunan. Dunia semakin modern dan arena pertarungan terus digelar. Untuk sekedar mempertahankan hidup, maka masyarakat pesantren tentunya tidak cukup hanya menjadi imam masjid dan mengantungkan perekonomiannya dari pemberian masyarakat sekitar. Begitu juga, dengan hanya memperkuat ranah akhirat saja, pelan tapi pasti pesantren akan ditinggal oleh masyarakat.

Demikianlah mau tidak mau, pesantren harus mulai memoles dirinya, mengemasnya secara lebih cantik dalam rangka mempertahankan daya jualnya di hadapan masyarakat banyak. Karena itulah pendidikan keterampilan menjadi begitu penting untuk diterapkan di pondok pesantren.

Penguatan Pendidikan Keterampilan di Pesantren

Dengan landasan balancing, antara dunia dan akhirat, maka kombinasi antara ilmu agama dan ilmu keduniawian, diharapkan seorang santri kelak akan siap berhadapan dengan masyarakat serta mengemban pemegang otoritas keagamaan. Selain itu, seorang santri juga harus siap untuk memasuki lapangan kerja. Sehingga, tidak ada lagi seorang kiai yang hidupnya bergantung pada shadaqah masyarakat sekelilingnya.

Beberapa waktu yang lalu, sebagaimana yang dilaporkan oleh dawam, beberapa pondok pesantren telah mengawali program-program keterampilan untuk anak didiknya, pondok pesantren Darr al-Falah yang terkenal dengan program pendidikan pertaniannya, lalu madrasah al-Islam yang didirikan oleh ulama hadits terkemuka Imam al-Ghazali, di mana pondok ini mulai mengajarkan survey kecil-kecilan untuk merangsang minat santri terhadap science. Demi terlaksananya program tersebut dengan baik, pondok tersebut memperlengkap diri dengan menyediakan berbagai macam fasilitas, seperti sebuah laboratorium yang menyimpan kumpulan herbarium, alat-alat ilmu pengetahuan alam, serta koleksi binatang-binatang. Selain juga menyediakan fasilitas perpustakaan sebagai sumber referensi. Selain madrasah al-Islam, tindakan serupa juga dilakukan di pondok pesantren Pabelan. Begitu seterusnya pondok-pondok lain yang tidak bisa disebut secara menyeluruh di sini.

Zaman sudah berubah dan tuntutan pun semakin semakin hari semakin bertambah banyak bagi kalangan pesantren, perbedaan asal santri yang masuk ke dalam pondok pesantren agaknya juga mendapat perhatian khusus. Ruang dan daerah yang berbeda, pastilah membutuhkan modal keterampilan yang berbeda pula. Jika dulu, para santri yang biasanya belajar adalah berasal dari kaum homogeny, penduduk desa saja. Maka, belakangan pondok pesantren juga mulai kebanjiran pendatang yang dari kota. Untuk santri kota ini, keterampilan semacam bercocok tanam saja tentu tidak cukup. Kepada mereka perlu sekali diajarkan ilmu manajemen, ilmu perdagangan, ilmu bangunan. Begitu juga keterampilan penggunaan alat-alat teknologi, seperti computer, mesin, internet.

Beberapa keterampilan yang sekiranya penting untuk diajarkan antara lain:
  • Keterampilan beternak dan bercocok tanam;
  • Seni tulis, dan
  • Penguasaan teknologi.
Demikian uraian singkat tentang bagaimana penguatan pendidikan keterampilan di Pesantren, dengan berbagai macam contoh pesantren yang sudah mengembangkannya, semoga bisa menjadi cermin bagi pesantren yang lain untuk mengikuti langkah inovatif mereka supaya bisa menjadi pesantren yang maju dan dapat menghadapi tantangan zaman yang sudah mulai kita rasakan (baca juga postingan: Dinamika Pesantren Menjawab Tantangan Zaman).


Senin, 12 Mei 2014

Keilmuan Pesantren sebagai Solusi Globalisasi dan Modernisasi

Keilmuan Pesantren sebagai Solusi Globalisasi dan Modernisasi - Pada postingan yang lalu (baca: Keilmuan dalam Ranah Modern), ketika manusia diliputi oleh sikap kapital dan  hedonis. Dimana segala sesuatu hanya bisa diukur dengan ukuran positivis dan materialis. Maka, pada era inilah manusia dirindukan oleh cinta kasih dan rasa saying. Manusia rindu dengan siraman spiritualitas, masyarakat rindu dengan aspek-aspek religious untuk sekedar mendapatkan ketenangan batin dalam dunia yang telah porak-poranda ini. Jika masyarakat modern telah mengalami keterlemparan sisi-sisi kemanusiaannya dan mulai rindu dengan nilai-nilai spiritualitasnya.

Di sisi yang lain, masyarakat tradisional atau masyarakat dalam negeri berkembang justru melupakan sisi keduniawian. Malahan di dunia pesantren, mereka lebih asyik bercanda dengan Tuhan-nya dengan berkhusuk ria memperbanyak dzikir; sementara dalam hal keduniawian benar-benar menyedihkan. Lebih jelas tentang dua titik yang berbeda ini, berikut adalah analisis perbandingan yang dikemukakan oleh H. Tirtosudiro, bahwa sebuah studi yang lebih empiric di Negara yang maju dan Negara yang sedang berkembang, mempunyai dua sisi yang cukup menarik.

Pertama, pada Negara-negara maju yang didominasi oleh Negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika, perjuangan dan kemakmuran telah dimulai sejak masa silam hingga masa sekarang. Mereka melesat dan tampil sebagai Negara-negara kaya berlimpah ruah dengan segala macam kebutuhan fisik. Namun, kekayaan dan supremasi ekonomi tidak melahirkan ketenangan hidup warganegara maupun memberikan kemapangan kebijakan politiknya. Sebaliknya, kelebihan material telah menimbulkan banyak persengketaan dan peperangan, serta imperialisme terselubung berwujud menciptakan kebergantungan ekonomi Negara lain. Di samping itu, dengan kemapanan ekonominya, Negara maju bisa mendikte Negara berkembang atau bahkan Negara miskin guna memperjuangkan kepentingan polotiknya. Penderitaan, ketidakberdayaan dan malapetaka muncul karena terlalu men-Tuhan-kan materi. Bukan sebaliknya, menciptakan kesejahteraan dan keadilan bersama.

Kedua, pada Negara yang sedang berkembang seperti di kawasan Asia dan Afrika, perjuangan guna menegakkan dan memelihara hubungan manusia dan Tuhan-nya (fungsi spiritualitas) telah hidup dan terpelihara sejak masa silam. Kehidupan ruhani telah melupakan dan menjadikan keterlenaan akan pentingnya mencari kehidupan duniawi sebagai amanat Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya, kehidupan mereka menjadi dijajah, ditaklukkan dan kehilangan eksistensinya, sebagai bangsa yang berdaulat. Dan kini, imperialisme hadir tersamar dalam bentuk kebergantungan ekonomi dan teknologi terhadap Negara yang terlebih dahulu mengenyamnya (H. Ahmad Tirtosudiro, 1997: xxii).

Mengacu dua titik pandang ini, maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing titik yang radikal hanya menghasilkan kelemahan bagi umat manusia. Kemudian, pada satu titik di mana Negara maju dengan rasionalisme yang berlebihan, ternyata membawa dampak terhadap kegersangan spiritualitas dan kehancuran moralitas. Begitu juga keterlenaan terhadap masalah ukhrawi membuat kita terpuruk dan digilas oleh zaman.

Keilmuan Pesantren sebagai Solusi Globalisasi dan ModernisasiMaka, jalan yang bisa ditempuh untuk menjawab dan memilih kedua realitas tersebut adalah dengan mengambil posisi tengah. Nah, kalau realitas tersebut kita coba bawa ke dalam dunia pesantren, seharusnya nilai-nilai pendidikan dalam pondok pesantren harus dilandasi semangat pembangunan dan juga dilandasi penyadaran nilai-nilai spiritualitas. Keseimbangan antara keduanya dan berada pada posisi yang di tengah-tengah, merupakan langkah solutif yang maju.

Lebih jauh, sebuah pondok pesantren seharusnya mampu mengembangkan kurikulum tidak hanya pada pendalaman keagamaan belaka. Lebih dari itu, pondok pesantren harus membekali para santrinya berbagai macam keterampilan untuk menyongsong Negara yang akan datang. Bukankah Tuhan sendiri telah berfirman dalam QS. Al-Qassas ayat 77,
“Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangan kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Dalil tersebut, masih dikuatkan oleh sabda Nabi Saw, “Bukanlah orang yang bagus dari kamu, orang-orang yang meninggalkan duniamu untuk mencari akhiratmu, begitu juga sebaliknya, tidaklah dikatakan bagus, orang yang meninggalkan perkara-perkara akhirat untuk kepentingan dunia. Sehingga kamu mampu menyeimbangkan keduanya”.

Dengan demikian, maka makna ibadah tidak semata-mata dipahami sebatas ritualitas belaka, namun juga mencari kehidupan duniawi ke arah yang lebih manusiawi, sejahtera, adil, dan merata. Berjuang di dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun industry yang kokoh dan menegakkan pilar-pilar ekonomi rakyat, juga merupakan aktivitas menegakkan panji-panji spiritualitas dalam pembangunan.

Pada akhirnya, prinsip mencetak kader yang “Tafaqquh fi al-Diin wa al-Dunya” adalah pilihan yang terbaik untuk dijadikan landasan filosofi semangat pembelajaran di pondok pesantren.


Mengkaji Keilmuan dalam Ranah Modern

Mengkaji Keilmuan dalam Ranah Modern - Arus globalisasi dan modernisasi telah menyerang ke segala lini kehidupan umat manusia. Nalar berpikir modernisasi yang muncul pada sekitar abad lima belasan, kini telah mencapai puncaknya. Pada wiliyah pengetahuan, August Comte, seorang sosiolog kenamaan telah menggung-agungkan apa yang disebut positivis dan menganggapnya sebagai puncak dari perkembangan akal budi, setelah melampaui dua tahap sebelumnya yaitu tahap teologis dan metafisis.

Di dalam dunia pengetahuan, imbas yang terbesar adalah munculnya penjaga otoritas kebenaran bernama “ilmiah”. Layaknya Tuhan, segala sesuatu akan diakui kebenarannya sebelum memperoleh legitimasi cap “ilmiah”. Begitu juga dengan era rasionalisme yang telah banyak menggeser pemegang otoritas kebenaran yang pada mulanya dipegang oleh para tokoh keagamaan kepada professor-profesor di dunia kampus.

Mengkaji Keilmuan dalam Ranah ModernEra modern adalah era teknologi; era modern adalah era mesin; era modern adalah efisiensi; serta era modern adalah era percepatan. Semua ini berujung pada birokrasi yang rigide dengan asas hubungan organic yang luar biasa. Pada era-era inilah, dunia semakin mengecil dan segalanya dilampaui dengan serba cepat. Tidak ada lagi jarak, tidak ada ruang dan tidak juga waktu. Apa yang telah dihasilkan oleh kemajuan teknologi seperti, mesin, telepon, televise, internet, dan computer, benar-benar telah banyak mengubah cara pandang manusia terhadap dunia.

Namun demikian, modernisasi ternyata mempunyai kepincangan yang teramat fatal. Terbukti, dengan perkawinannya antara teknologi dengan kapitalisme, merupakan salah satu bagian dari gelegar modernitas. Dan realitas ini tentunya, telah memberikan keseronokan kepada segelintir manusia. Watak yang rakus dan tak bermoral serta hanya men-Tuhan-kan materi di atas segala-galanya, ternyata hanya melahirkan masyarakat hedonistik di bawah selubung Negara kesejahteraan. Ditambah lagi dengan percepatan segala informasi melalui media, baik itu media elektronik maupun cetak atau pun yang lainnya. Pun dengan merambahnya dunia internet dalam aktivitas keseharian kita, tentu kita tak mungkin mampu menahan laju gerak budaya yang masuk negeri ini. Pada akhirnya, mengutip perkataan Herbert Marcuse, “buah dari sistem ini adalah memudarnya dimensi bagian dalam dari pikiran pupusnya kekuatan kritis rasio tertunduk pada fakta kehidupan demi memenuhi dorongan hedonistik” (A. Syafi’i Ma’arif, 1992).

Di dunia “entertainment”, yang berlandaskan pada ideology capital, dimana uang merupakan segala-galanya, menjadi kendala yang cukup besar bagi penjagaan moralitas generasi muda bangsa. Atas nama seni, lekukan-lekukan tubuh perempuan dipamerkan, kekerasan diumbar di media-media televisi; dan akhirnya, menembus batas memasuki setiap rumah mengancam moralitas anak-anak kecil. Tontonan kekerasan yang disajikan setiap hari, membekas dalam memori alam bawah sadar generasi muda bangsa, dan siap-siap akan disantapnya.

Adalah Antony Giddens, seorang ilmuan social berkebangsaan Inggris, pencetus gagasan “jalan ketiga” (third way) yang terkenal itu, dalam sebuah bukunya, “Beyone Left and Right”, mengungkap mengenai persoalan ketidakpastian (uncertainy) sebagai kenyataan yang dihadapi manusia pada masa sekarang. Ketidakpastian ini, yang ia sebut dengan “manufactured uncertainy”, merupakan resiko yang memang dihadapi oleh manusia sebagai konsekuensi dari pilihan sadarnya sendiri menciptakan dan mengembangkan teknologi. Ketidakpastian itu kemudian diibaratkan dengan “Juggernaut” (truk besar) yang meluncur tanpa kendali, dimana tidak ada satu pun manusia yang dapat meloloskan diri. Manusia, kata Giddens, hanya bisa pasrah dan mungkin berdo’a memohon keselamatan dalam menghadapi ketidakpastian itu.