Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

Belajar dan Karakteristik Cara Anak Belajar

Belajar dan Karakteristik Cara Anak Belajar - Pagi ini saya akan share mengenai belajar (pembelajaran bermakna) dan bagaimana cara anak belajar. Ini sangat diperlukan bagi setiap pendidik, karena dengan mengetahui cara atau gaya anak belajar, pendidik dapat menyiapkan pembelajaran yang bermakna bagi setiap siswa-siswanya. Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.

Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Belajar dan Cara anak belajar

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

Cara Anak Belajar

Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
  • Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.  Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
  • Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
  • Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.

Sekian uraian singkat tentang belajar dan cara anak belajar. Semoga dapat bermanfaat.

Senin, 01 September 2014

Aktivitas Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya

Aktivitas Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi - Pada kesempatan kali ini, saya akan share makalah tentang "Aktivitas Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya". Bahwa keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya.

Aktivitas Belajar dan Faktor yang MempengaruhinyaSeorang pakar pendidikan, Trinandita (1984) menyatakan bahwa hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Ok lah saya tidak akan panjang lebar, di bawah ini saya hanya menampilkan deskripsi pada Bab I yaitu Pendahuluan, sedangkan untuk Bab-Bab selanjutnya atau makalah lengkapnya sahabat-sahabat bisa mendownloadnya [di sini] atau pada link paling bawah.

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai masalah kejiwaan manusia. Dalam dunia pendidikan, ilmu psikologi ini digunakan untuk membantu mengenali jiwa anak didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar semakin lancar. Hubungan psikologi dengan pendidikan dan pembelajaran sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru dapat memberikan pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan perkembangan peserta didik. Artinya, psikologi digunakan sebagai pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pembelajaran. Sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pembelajaran akan mudah tercapai.

Adanya perubahan paradigma pendidikan saat ini menuntut adanya perubahan proses pembelajaran di dalam kelas. Peran guru saat ini diarahkan untuk  menjadi  fasilitator  yang  dapat  membantu  siswa  dalam  belajar,  bukan sekedar menyampaikan materi saja. Guru harus mampu melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajara secara optimal. Menurut Rusman (2011: 323) pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kegiatan pembelajaran, sehingga siswa mampu mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas.

Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan siswa. Hal ini berarti bahwa bila guru mengajar, maka diharapkan siswa mampu mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut dalam arti lain siswa ikut berperan aktif. Sebagai guru yang professional, hendaknya guru memilih metode dan media yang tepat untuk digunakan anak dalam belajar. Guru juga harus mengerti segala aktivitas yang dilakukan muridnya karena sebagian besar waktu seorang guru adalah bersama muridnya. Jika ada aktivitas belajar anak yang kurang sesuai guru mengarahkan dan membimbing siswanya kepada aktivitas belajar yang dikehendaki.

Seorang guru juga harus tahu apa keinginan siswanya dan faktor-faktor apa  saja  yang  dapat  mempengaruhi  anak  dalam  aktivitas  belajarnya. Karena dengan demikian, guru dapat menyusun strategi yang tepat untuk pembelajarannya dan secara otomatis apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, dalam makalah ini dipaparkan secara jelas mengenai segala aktivitas tentang belajar serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

B. Rumusan Masalah
Apakah pengertian dari aktivitas belajar?
Apakah yang termasuk dalam aktivitas belajar?
Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi aktivitas belajar?
C. Tujuan Penulisan
Menjelaskan pengertian dari aktivitas belajar.
Mengkualifikasikan beberapa aktivitas belajar.
Memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar.

Demikianlah makalah tentang Aktivitas Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya, semoga dengan adanya makalah ini bisa membantu sahabat-sahabat dan tentunya bisa menambah wawasan tentang belajar.







Kamis, 29 Mei 2014

Pembelajaran adalah Proses Berpikir

Pembelajaran adalah Proses Berpikir - Pada kesempatan kali ini, admin akan share tentang pembelajaran adalah proses berpikir. Kenapa dikatakan belajar adalah proses berpikir? Karena belajar berpikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Dalam pembelajaran berpikir proses pendidikan di sekolah tidak hanya menekankan kepada akumulasi pengetahuan materi pelajaran. Akan tetapi, yang diutamakan di sini adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (self regulated).

Asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar. Akan tetapi, dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Atas dasar asumsi itulah pembelajaran berpikir memandang bahwa mengajar itu bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Menurut Bettencourt, mengajar dalam pembelajaran berpikir adalah berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, membuat kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.

Pembelajaran adalah Proses Berpikir

Dalam proses pembelajaran, La Costa (1985) yang pendapatnya dikutip oleh Sanjaya (2006: 107) mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga jenis, yaitu:
  • Teaching of Thinking;
  • Teaching for Thinking; dan
  • Teaching about Thinking.
Pertama, Teaching of Thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu, seperti misalnya keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan lain sebagainya. Dengan demikian, jenis pembelajaran ini lebih menekankan kepada aspek tujuan pembelajaran. Kedua, Teaching for Thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Jenis pembelajaran ini lebih menitikberatkan kepada proses menciptakan situasi dan lingkungan tertentu, contohnya, menciptakan suasana keterbukaan yang demokratis, menciptakan iklim yang menyenangkan sehingga memungkinkan siswa dapat berkembang secara optimal. Dan ketiga, Teaching about Thinking adalah pembelajaran yang diarahkan kepada upaya untuk membantu agar siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Jenis pembelajaran ini lebih menekankan kepada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Pada kenyataannya, proses pembelajaran berpikir menyangkut tiga hal tersebut. Artinya, dalam pelaksanaan pembelajaran kita tidak mungkin melepaskan ketiga aspek di atas. Contohnya, untuk dapat melatih keterampilan berpikir tertentu kepada siswa sangat diperlukan suasana yang mendukung serta metodologi yang dianggap efektif. Oleh karenanya, ketiga hal di atas memiliki keterkaitan yang sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan.

Demikian uraian singkat tentang pembelajaran adalah proses berpikir. Semoga dengan uraian di atas walaupun sedikit dapat bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita dalam dunia pendidikan.


Selasa, 27 Mei 2014

Pembelajaran Berlangsung Sepanjang Hayat

Pembelajaran Berlangsung Sepanjang Hayat - Mungkin kita pernah mendengar dan bahkan sering ketika dikatakan bahwa belajar itu sepanjang hayat. Apa sebenarnya makna dari hal tersebut? Belajar adalah proses yang terus menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Mengapa? Ini didasarkan pada asumsi bahwa sepanjang kehidupannya manusia akan selalu dihadapkan pada masalah atau tujuan yang ingin dicapainya. Dalam proses mencapai tujuan itu, manusia akan dihadapkan pada berbagai rintangan atau hambatan. Dan ketika rintangan sudah dilaluinya, maka manusia akan dihadapkan pada tujuan atau masalah baru. Untuk mencapai tujuan baru itu manusia akan dihadapkan pada rintangan baru pula, yang kadang-kadang rintangan itu semakin berat. Demikianlah siklus kehidupan dari mulai lahir sampai meninggalnya manusia akan senantiasa dihadapkan pada tujuan dan rintangan yang terus menerus. Atas dasar itulah lembaga pendidikan harus berperan sebagai wahana untuk memberikan latihan bagaimana cara belajar tersebut. 

Pembelajaran Berlangsung Sepanjang HayatPrinsip belajar sepanjang hayat seperti yang telah dikemukakan di atas sejalan dengan empat pilar pendidikan universal sebagaimana yang dirumuska oleh UNESCO Tahun 1996 yaitu, (1) learning to know; (2) learning to do; (3) learning to be; dan (4) learning to live together.

Pertama, learning to know mengandung pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada produk atau hasil belajar. Akan tetapi, juga harus berorientasi kepada proses belajar. Dengan proses belajar, siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus dipelajari, akan tetapi juga memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana cara mempelajari yang harus dipelajari itu. Dengan kemampuan itu memungkinkan proses belajar tidak akan berhenti dan terbatas di lingkungan sekolah saja, akan tetapi memungkinkan siswa akan secara terus menerus belajar dan belajar. Inilah hakikat belajar sepanjang hayat. Jika hal ini dimiliki siswa, maka masyarakat belajar (learning society) sebagai salah satu tuntutan masyarakat informasi akan terbentuk. Oleh sebab itu, dalam konteks learning to know juga bermakna learning to think atau belajar berpikir. Sebab, setiap individu akan terus belajar manakala dalam dirinya tumbuh kemampuan dan kemauan untuk berpikir.

Kedua, learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan. Tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global. Kompetensi akan dimiliki manakala anak diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, learning to do juga berarti proses pembelajaran berorientasi kepada pengalaman atau learning by experiences.

Ketiga, learning to be mengandung pengertian bahwa belajar adalah membentuk manusia yang menjadi diri sendiri. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia. Dalam pengertian ini juga terkandung makna kesadaran diri sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab sebagai khalifah serta menyadari akan kekurangan dan kelemahannya.

Keempat, learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama. Hal ini sangat dibutuhkan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarak global di mana manusia baik secara individual maupun secara kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya. Dalam konteks ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang memahami dan menyadari akan adanya setiap perbedaan pandangan antara individu.

Demikianlah uraian singkat tentang pembelajaran berlangsung sepanjang hayat. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.


Minggu, 25 Mei 2014

Orangtua sebagai Partner Sekolah dalam Membelajarkan Anak

Orangtua sebagai Partner Sekolah dalam Membelajarkan Anak - Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan diri (self-regulatory) anak sejak dini memberikan modal dasar bagi kesuksesan anak di sekolah. Argumentasinya adalah bahwa kualitas hubungan orang tua – anak membentuk sikap otonom yang sehat, kompetensi, dan hubungan dengan lingkungan sekitar pada diri anak. Aspek-aspek positif pengembangan diri di atas mendukung internalisasi tujuan dan nilai-nilai masyarakat seperti yang digambarkan di atas. Peran orang tua terdiri dari dua jenjang. Pertama, orang tua dapat mendukung perkembangan intelektual dan kesuksesan akademik anak dengan memberi mereka kesempatan-kesempatan dan akses ke sumber-sumber pendidikan seperti jenis sekolah yang dimasuki anak atau akses ke perpustakaan dan televise pendidikan. Kedua, orang tua dapat membentuk perkembangan kognitif anak dan pencapaian akademik secara langsung dalam aktivitas pendidikan mereka.

Orang tua yang membimbing anak mengerjakan pekerjaan rumah, membacakan buku-buku tertentu kepada mereka dan memainkan permainan yang berhubungan dengan pendidikan cenderung memiliki anak yang berhasil dalam menjalankan tugas-tugas sekolah. Orang tua juga mengajarkan anak norma-norma dalam berhubungan dengan orang dewasa dan teman sebaya yang relevan dengan suasana kelas (baca juga postingan: Menciptakan Kondisi Sosial Kelas yang Efektif).

Orangtua sebagai Partner Sekolah dalam Membelajarkan Anak
Jika anak belajar cara bergaul secara kooperatif dan bersikap pro-sosial terhadap yang lain, mengikuti aturan dan berjuang mencapai standar performa yang diinginkan orang dewasa, mereka akan lebih mungkin sukses di sekolah dibanding dengan anak yang tidak memiliki pengetahuan tentang kehidupan bersama yang baik. Peran orang tua di rumah yang berhubungan erat dengan prestasi anak di sekolah dapat diidentifikasikan menjadi tiga bentuk, yaitu; (1) secara aktif mengatur dan memonitor waktu anak; (2) membimbing mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumah; dan (3) mendiskusikan masalah-masalah sekolah dengan anak.

Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pengembangan kurikulum memiliki pengaruh khusus terhadap prestasi siswa. Secara lebih rinci, Reynolds dan Teddlie (2000) menjelaskan bentuk keterlibatan orang tua, terutama terletak pada; (1) upaya sinkronisasi tuntutan rumah dan sekolah terhadap siswa; (2) mengurangi ukuran kelas dengan bertindak sebagai asisten guru sukarela; (3) menghimpun sumber daya-sumber daya untuk seklah; (4) membimbing anak dalam menyelesaikan pekerjaan rumah; (5) member informasi tentang perkembangan dan permasalahan siswa di sekolah; dan (6) menjadi penghubug antara guru dengan anaknya.

Jika sekolah tidak menghargai atau tidak mendukung keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Maka, sesungguhnya sekolah-sekolah yang demikian berada dalam bahaya, terutama dalam upaya membangun perilaku yang bisa meningkatkan prestasi dalam sekolah. Lebih jauh, semakin besar jarak perbedaan kultur antara rumah dan sekolah, maka keterlibatan orang tua menjadi semakin penting. Karena kebiasaan-kebiasaan orang tua diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi akademik siswa dengan mempengaruhi perkembangan kemampuan kognitif yang berfungsi sebagai basis kesuksesan sekolah. Misalnya, orang tua dapat membantu anaknya dalam mengembangkan kemampuan yang sangat spesifik, seperti strategi menghafal dan kemampuan memperkaya kosakata agar anak siap menghadapi kehidupan sekolah.

Dengan demikian, guru dan sekolah harus menjaga hubungan dengan orang tua, karena hal ini akan memberi guru dan sekolah pengetahuan tentang latar belakang siswa yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk lebih terlibat dalam proses belajar anak. Sebuah proses pembelajaran yang efektif selalu menjaga korelasi yang konsisten antara apa yang dipelajari di kelas dengan pengetahuan yang telah diperoleh siswa di rumah.

Sekian, semoga uraian tentang Orangtua sebagai Partner Sekolah dalam Membelajarkan Anak bisa bermanfaat dan memberi wawasan kepada semua orangtua begitu juga para guru dan sekolah.


Menciptakan Kondisi Social Kelas yang Efektif

Menciptakan Kondisi Social Kelas yang Efektif - Salah satu di antara dimensi lingkungan belajar yang efektif adalah kondisi social kelas yang kondusif. Setting social sangat penting untuk membentuk anak menjadi manusia sempurna. Di mana saja, perbedaan setting cultural mempengaruhi cara pandang setiap individu masyarakat dalam melihat dan memahami dirinya (the self) (baca juga postingan: Membangun Kultur Pendidikan yang Efektif). Belajar merupakan interaksi dan proses adaptasi yang tak pernah selesai antara individu dan masyarakat. Perkembangan dan proses belajar seseorang tidak dapat terjadi tanpa kehadiran pengaruh lingkungan (masyarakat). Proses kognitif ilmu pengetahuan dan keragaman pengalaman tidak hanya memiliki pengaruh terhadap proses penilaian diri (self appraisal) dan pengembangan harga diri (self esteem), tapi juga mempengaruhi proses pencarian makna aspek-aspek diri dan pengembangan konsep diri (self concept).

Banyak contoh siswa yang mencari tujuan-tujuan social tertentu di sekolah meraih kesuksesan secara akademik. Ini menunjukkan bahwa siswa yang berprestasi dan siswa yang kurang berprestasi dapat dibedakan atas dasar apakah mereka memiliki tujuan yang dicari atau tidak di dalam sekolah. Siswa yang berprestasi baik seringkali mencari tujuan-tujuan yang berorientasi kognitif dan tugas yang mendorong perkembangan intelektual dan kemampuan kognitif. Sebaliknya, siswa yang berprestasi kurang baik seringkali mencari tujuan-tujuan berupa standar-standar social dan norma kelas yang menghambat perkembangan kemampuan intelektual dan kognitif mereka.

Menciptakan Kondisi Social Kelas yang Efektif

Bagaimana setting cultural tersebut mempengaruhi capaian (achievement) siswa? Sebagaimana diyakini, masyarakat secara signifikan memotivasi setiap individu, dan bahwa proses motivasi social bisa jadi memegang peranan dalam merangsang setiap individu untuk mencapai prestasi-prestasi social sebagaimana proses-proses motivasi akademik akan mempengaruhi prestasi akademik.

K. M. Wentzel menggambarkan proses motivasi social dalam empat cara. Pertama, konversi. Hal ini merujuk kepada kemampuan masyarakat mempengaruhi secara langsung tujuan dan system kepercayaan siswa. Kedua, mobilisasi. Ini terjadi ketika anggota masyarakat menjadi partisipan aktif atau agen perubahan. Seperti ketika orang tua terlibat dalam pengelolaan sekolah untuk memperlopori perubahan kurikulum atau instruksional. Ketiga, alokasi. Merujuk kepada meminimalisir hambatan-hambatan yang menghalangi akses ke sumber-sumber penting. Seperti pembangunan jaringan dukungan informal untuk menyediakan layanan-layanan akademik, psikologi, dan social. Dan keempat, instruksi (instruction). Yakni merujuk kepada dukungan langsung seperti program tutorial, kegiatan pemberantasan buta huruf, dan program pendidikan bagi orang tua.

Dari uraian di atas, secara ringkas aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi interaksi social di dalam kelas, seperti kerjasama, menghargai orang lain, dan bentuk-bentuk partisipasi positif kelompok merupakan factor-faktor yang sangat mempengaruhi prestasi akademik. Demikianlah uraian singkat tentang bagaimana menciptakan kondisi social kelas yang efektif. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita bersama.


Sabtu, 24 Mei 2014

Otonomi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar

Otonomi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar - Upaya melibatkan siswa telah menjadi fenomena yang cukup berkembang dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Hanya saja, belum cukup banyak siswa yang ikut terlibat dan mempengaruhi proses penyusunan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Siswa akan belajar dengan efektif bila kurikulum dikembangkan secara gradual berdasarkan kebutuhan dan kepentingan siswa. Karena kalau tidak demikian, siswa yang memiliki masalah dengan perilakunya merasa tersisihkan jika kurikulum yang diajarkan kepada mereka tidak didesain sesuai dengan kebutuhan mereka. Terlebih lagi jika peraturan-peraturan sekolah tidak disusun secara fair dan efektif dengan melibatkan mereka.

Adalah penting melibatkan siswa dalam proses pembuatan keputusan, baik itu peraturan maupun hal-hal yang berhubungan dengan desain materi pembelajaran. Sebuah lingkungan kelas yang memberi otonomi bagi siswa memiliki kaitan erat dengan kemampuan siswa dalam berekspresi, kreatif, self-esteem, belajar secara konseptual, dan senang terhadap tantangan. Dalam studi Internasional, ditemukan bahwa siswa yang memiliki andil dalam kegiatan-kegiatan instruksional atau pembuatan peraturan sekolah memiliki rasa cinta terhadap sekolah dan pada gilirannya secara signifikan meningkatkan keterlibatan mereka terhadap kegiatan-kegiatan sekolah.

Otonomi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar

Dalam sebuah kelas yang menekankan otonomi siswa, para siswa percaya bahwa tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah adalah penting, walaupun mungkin nampak tidak menyenangkan mereka. Sebaliknya, sebuah kelas yang terlalu memberi control terhadap mereka akan menyebabkan siswa hanya melaksanakan tugas-tugas dasar. Hal ini agaknya sesuai dengan konsep “Transcendence in Learning”-nya Kessler (2000) yang lebih menekankan kesadaran diri siswa ketimbang member beban yang berlebihan dari luar dirinya. Dengan kata lain, agar siswa dapat mengungkapkan kemampuan dirinya maka mereka perlu diperlakukan sebagai subjek belajar.

Orientasi yang negatif bisa muncul jika kebijakan, tujuan, dan norma sekolah atau implementasi dari semuanya dikembangkan tanpa melibatkan siswa atau siapa saja yang akan melaksanakannya. Sebaliknya, keterlibatan mereka yang maksimal, terutama siswa, akan memberikan respon positif terhadap program, peraturan, tuntutan atau norma-norma sekolah. Keterlibatan siswa dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas kelas adalah merupakan bagian dari aspek otonomi dan control dari siswa sendiri. Jika siswa tidak merasa berseberangan dengan aturan kelas, kemungkinan besar mereka akan mengembangkan perilaku positif terhadap sekolah secara umum dan terhadap prestasi akademis secara khusus.

Ada empat manfaat yang bisa diperoleh bila siswa dilibatkan dalam membuat peraturan-peraturan sekolah atau kelas yaitu sebagai berikut;
  • Keterlibatan siswa yang tinggi dalam kegiatan sekolah;
  • Menjaga dan mendukung ide-ide, kreativitas dan inovasi yang potensial dan bermanfaat;
  • Siswa tidak akan mencari pemuasan di luar sekolah. Kondisi semacam ini tentunya menjaga siswa dari pengaruh-pengaruh negatif dari luar sekolah; dan
  • Memaksimalkan aktifitas pembelajaran, karena siswa memiliki banyak pilihan dan kesempatan untuk saling membantu.
Agaknya kondisi umum pendidikan kita yang terlalu memberikan control dan tidak melibatkan siswa dalam proses tersebut menjadi salah satu sebab menjamurnya tawuran di kalangan pelajar. Selain tentunya, karena kurangnya pelajaran mengenai akhlak atau etika, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Demikian, semoga uraian yang singkat tentang otonomi siswa dalam proses belajar mengajar ini bisa membuka wawasan kita dalam membelajarkan siswa.


Jumat, 23 Mei 2014

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar - Penulis memulai tulisan ini dengan mengutip sedikit hadits qudsi yang kurang lebih mempunyai arti “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. Seseorang akan sukses jika ia merasa yakin bahwa ia akan sukses. Demikian juga, orang akan mengalami kegagalan jika ia menyangka bahwa ia akan gagal. Troisi (1983) mengatakan, “Expectation of success breeds success and expectation of failure breeds failure”. Kita tentu ingat buku terkenal “You can if you think you can”-nya Peale itu. Dalam buku tersebut menunjukkan betapa besar kekuatan sebuah keyakinan. Dalam proses belajar, bahwa keyakinan atau harapan sangat membantu siswa berkembang bahkan melampaui apa yang biasa mereka capai.

Harapan atau keyakinan tidak harus datang dari diri sendiri tapi juga dari orang lain. Dari harapan-harapan, doa-doa dan keyakinan orang lain baik orang tua, teman, guru atau siapa pun. Ini menunjukkan bahwa secara psikologis seseorang akan melakukan apa yang orang lain harapkan untuk ia lakukan. Demikianlah, ekspektasi (harapan) seorang guru secara positif berpengaruh terhadap kesuksesan siswanya.

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar
Dalam penelitian yang lain (Reynolds dan Teddlie [2000]) tentang pengaruh ekspektasi atau harapan dalam berbagai artikel psikologis, ditemukan sebuah kesimpulan yang konsisten, bahwa harapan yang tinggi serta usaha mengkomunikasikan harapan-harapan tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Lebih jauh, dalam penelitian-penelitian tersebut menganjurkan, dalam mengkomunikasikan harapan yang tinggi tersebut sebaiknya diberikan kepada siswa dalam bentuk tindakan-tindakan praktis dan penguatan-penguatan lisan. Contoh sederhananya, seorang guru perlu mengatakan, “Saya yakin kamu bisa” kepada siswa untuk member semangat dan menumbuhkan keyakinannya bahwa ia bisa jika belajar dengan sungguh-sungguh.

Di samping itu, dalam teori tingkat aspirasi (Aspiration Level Theory), bahwa tingkat aspirasi atau ekspektasi yang diberikan kepada siswa memiliki pengaruh yang kuat terhadap kemampuan bersaing siswa dalam meraih kesempatan memasuki lembaga pendidikan lanjutan yang lebih bermutu. Semakin tinggi tingkat aspirasi yang diberikan guru, semakin tinggi pula daya saing siswa dan semakin besar kesempatan mereka memasuki lembaga pendidikan lanjutan yang lebih bermutu.

Hanya saja, perlu dijelaskan bagaimana ekspektasi atau aspirasi tersebut mempengaruhi dan, dalam kadar tertentu mengubah cara guru mengajar dan menghadapi siswa. Ekspektasi yang terlalu tinggi secara negatif mempengaruhi performance siswa, dan malah tidak memotivasi mereka. Tetapi, sebuah ekspektasi yang seimbang dan rasional, memberikan motivasi positif bagi siswa untuk melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

Karenanya, tantangannya adalah bagaimana sekolah menemukan keseimbangan menguak potensi siswa tanpa secara berlebihan memacu mereka sehingga mereka justru merasa khawatir mengalami kegagalan. Dengan menetapkan standar sebuah prestasi yang bisa mereka capai sesuai dengan kemampuan mereka, kemungkinan besar semua siswa dapat meraih kesuksesan dan sekaligus pengakuan terhadap prestasi mereka. Dalam konteks ini, siswa lebih memungkinkan mengalami dorongan untuk menunjukkan yang terbaik yang bisa mereka lakukan, untuk menumbuhkan cinta terhadap pelajaran yang diberikan di sekolah dan juga menumbuhkan rasa senang terhadap sekolah.

Sangat menarik untuk dicermati di sini pendekatan transenden yang digunakan Kesseler (2000: 117-118) untuk meningkatkan prestasi siswa. Dengan mengadopsi skema “Spiritual-Urges”-nya, ia menulis “transendensi ialah upaya melintasi batas-batas kemampuan manusiawi”. Ia kemudian menganjurkan, ketimbang menekankan ekspektasi guru yang notabene dari luar diri siswa, adalah lebih baik mengakui dan mendukung keinginan-keinginan siswa sendiri untuk mengambil langkah yang bisa melampaui prestasi yang biasa mereka capai.

Contoh baik untuk ini adalah apa yang dilakukan oleh A’a Gym di Pesantren Darut Tauhid. Di pesantren ini para santri didorong untuk berkreasi mengembangkan kemampuan masing-masing dengan suatu keyakinan bahwa “Anda akan berhasil selama Anda percaya bahwa Anda akan berhasil, dan yakin bahwa Allah akan membantu”. Demikianlah uraian singkat bagaimana menumbuhkan keyakinan kepada anak didik atau siswa agar semangat belajar dan terus belajar.


Rabu, 21 Mei 2014

Guru Ujung Tombak Pendidikan

Guru Ujung Tombak Pendidikan - Guru merupakan elemen terpenting dalam sebuah system pendidikan. Ia merupakan ujung tombak (baca juga postingan: Guru Idola Siswa). Proses belajar siswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana siswa memandang guru mereka. Kepribadian guru seperti memberikan perhatian, hangat, suportif (memberi semangat), diyakini bisa member motivasi yang pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar siswa. Empati yang tepat seorang guru kepada siswanya membantu perkembangan prestasi akademik mereka secara signifikan. Guru juga perlu membangun citra yang positif tentang dirinya jika ingin agar siswanya member respon dan bisa diajak bekerjasama dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, rasa hormat dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh seorang guru merupakan syarat utama kesuksesan siswa. Sebagaimana halnya orang dewasa, pemenuhan aspek psikologis siswa akan membantu mereka berusaha menunjukkan kemampuan terbaik yang bisa mereka lakukan dan secara otomatis akan meningkatkan prestasi belajar mereka (baca juga postingan: Guru yang Konselor; Sebuah Renungan untuk Guru).

Jackson (1999) mengemukakan bahwa guru yang humanis (baca juga postingan: Fondasi Humanisme dalam Pendidikan) –bertindak sebagai seorang manusia biasa di samping sebagai seorang guru, menaruh rasa hormat dan penghargaan kepada siswa-- merupakan factor yang menentukan persepsi siswa tentang kemampuan guru menciptakan atmosfir yang kondusif untuk belajar. Dalam suasana demikian, siswa merasa leluasa bertanya dan memberikan komentar, mendekati guru untuk melakukan pembicaraan (face to face), dan secara keseluruhan akan membuat ruang kelas menjadi penuh semangat dan antusias. Dengan mengembangkan kemampuan berkomunikasi antar individu dan kepekaan terhadap kebutuhan emosional siswa, berarti guru telah memasuki zona belajar (realm of learning) yang sesungguhnya (Rogers and Renard, 1999). Jika proses pembelajaran di sekolah memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional siswa, maka kemungkinan besar proses belajar akan berjalan dengan lancer dan berhasil.

Guru Ujung Tombak PendidikanPerilaku guru tidak hanya menentukan kesuksesan atau kegagalan sebuah kurikulum, tetapi secara independen juga memiliki pengaruh terhadap efektivitas sekolah. Hasil studi Cole and Chan (1994), menemukan bahwa sifat-sifat personal guru seperti memberikan kepercayaan terhadap siswa, bersedia mendengar apa yang disampaikan siswa dan tidak mendominasi jalannya proses belajar mengajar menjadi sangat menentukan dalam membangun suasana belajar dalam kelas yang kondusif. Lebih lanjut, bahwa kepercayaan menjadi efektif khususnya ketika berhadapan dengan siswa yang memiliki persoalan pribadi. Mendengar secara aktif memungkinkan guru memahami apa yang terjadi di kelas dan pada waktu yang bersamaan mendorong siswa untuk lebih banyak aktif dalam percakapan serta mendorong siswa berani mengungkapkan ide-ide mereka.

Penguasaan guru terhadap bidang studi yang diajarkan merupakan dimensi lain yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap kualitas kelas dan pada gilirannya berpengaruh pula terhadap prestasi mereka. Lebih jauh, persiapan guru, penguasaan diri, kemampuan menyampaikan bahan ajar, pemakaian metode presentasi yang tepat, kemampuan menjawab pertanyaan dan membuat siswa memahami tujuan pengajaran dengan jelas juga merupakan factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar dan pandangan siswa terhadap guru.

Sebaliknya, guru yang dalam pandangan siswa kurang mempersiapkan bahan pelajarannya, kurang mampu mengorganisir pendekatan terhadap kelas dan bahan ajarnya, menyampaikan konsep yang tidak benar serta memakai metode yang tidak tepat, tidak memiliki pengaruh terhadap peningkatan prestasi siswa. Dengan demikian, harapan pendidikan terletak kepada para guru, maju dan mundurnya generasi bangsa ada di tangan kita wahai guru pahlawan tanpa tanda jasa. Marilah kita junjung tinggi profesionalitas dan buang sikap capital dan hedonis. Sukses untuk semua Guru.


Dimensi Lingkungan Belajar yang Efektif

Dimensi Lingkungan Belajar yang Efektif - Kondisi-kondisi tertentu sekolah menentukan performa akademik siswa. Dalam sebuah studi terhadap 50 sekolah dasar yang dilakukan secara acak di London, berhasil mengidentifikasi dua belas karakter sekolah yang memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Sembilan dari dua belas karakter tersebut secara langsung berhubungan dengan siswa dan kelas, konsistensi guru, jadwal pelajaran yang terstruktur, pengajaran yang menantang secara intelektual, lingkungan yang berorientasi kekaryaan, terfokus pada hal terbatas dalam setiap jam pelajaran, komunikasi yang maksimal antara guru dan siswa, menyimpan data individual anak (record keeping), keterlibatan orang tua, dan suasana yang positif.

Rasa senang yang dimiliki siswa terhadap sekolah, ekspektasi yang tinggi, perhatian dan sikap adil dari seorang guru, dan hubungan yang positif antar sesama teman, juga merupakan factor lain lembaga pendidikan yang efektif (Samdal, 1999). Keseluruhan factor-faktor ini merupakan dimensi lembaga pendidikan yang dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Beberapa penelitian yang lain menemukan, tersedianya fasilitas belajar mengajar, bangunan sekolah yang memadai merupakan factor lain yang juga mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Dimensi Lingkungan Belajar yang Efektif

Ini membuktikan bahwa tidak hanya guru sebagai elemen pokok yang memiliki pengaruh yang dominan dalam proses pembelajaran, tetapi juga pemerintah sebagai stakeholder juga memiliki peran yang signifikan dengan meningkatkan sarana dan fasilitas sekolah berikut kurikulum.

Demikian uraian singkat tentang dimensi lingkungan pendidikan yang efektif, semoga kita bisa menjadi lebih tahu bagaimana membelajarkan siswa dengan tepat dan terarah menuju tujuan yang diinginkan.


Selasa, 20 Mei 2014

Seni Mengajar Siswa melalui Kompetensi Pedagogik

Seni Mengajar Siswa melalui Kompetensi Pedagogik - Setiap guru pasti mempunyai pengalaman dalam upaya membimbing siswa-siswanya agar memperoleh ilmu yang didambakan untuk bekal hidupnya kelak. Dengan ilmu tersebut, diharapkan nantinya seorang siswa akan memiliki nilai-nilai yang dapat mengembangkan dirinya. Oleh karena itu, seorang guru seyogyanya memiliki kemampuan untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi proses pembelajaran dan mengembangkan berbagai kemampuan siswanya.

Seorang guru hendaknya mempunyai kemampuan dalam merencanakan suatu proses pembelajaran yang akan disajikan di depan siswanya. Diharapkan setiap guru akan membuat perencanaan dengan baik tentang apa yang akan disampaikan terhadap siswa-siswanya, dengan melihat berbagai factor yang ada, seperti waktu pembelajaran, keadaan psikologi peserta didik, tempat pelaksanaan pembelajaran, dan fasilitas yang tersedia dalam lembaga tempat belajar tersebut. dengan mengetahui seluruh factor dan latar belakang yang ada, guru akan lebih mudah membuat perencanaan pembelajaran yang baik dan akan dapat melalui proses selanjutnya dengan baik pula.

Seni Mengajar Siswa melalui Kompetensi PedagogikSetelah guru membuat perencanaan sebaik mungkin, selanjutnya ia bertugas melaksanakan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang diharapkan adalah proses yang selalu menyesuaikan dengan rencana yang sudah disiapkan. Tentu keliru, ketika guru menyampaikan proses pembelajaran, namun keluar dari perencanaan pembelajaran yang sudah dibuat dengan matang dan baik, yang berdampak pada proses pembelajarannya yang keluar dari ketentuan, tidak menyesuaikan dengan rencana yang dibuat sebelumnya. Ada kemungkinan bagi guru ketika sudah membuat perencanaan maksimal, kemudian ia melaksanakan proses pembelajaran yang berjalan sesuai dengan alur yang dipersiapkan, ia akan dapat membuat suatu proses pembelajaran berlangsung dengan normal bahkan bisa melampaui target yang diharapkan. Jika proses pembelajaran berlangsung dengan aktif, tidak hanya gurunya yang berperan dominan, namun siswa juga aktif mengikuti proses pembelajaran tersebut, memahami setiap butir yang sedang dipelajari, siswa merasa nyaman dalam proses belajar mengajarf dan menyenangkan bagi kedua belah pihak, baik untuk gurunya maupun siswanya. Ini bisa menjadi satu jaminan bahwa pembelajaran bisa dikatakan berhasil.

Selanjutnya, setelah proses pembelajaran berlangsung dengan aktif, penuh dengan inovasi dan kreatifitas, serta menyenangkan. Kemudian guru mengadakan suatu evaluasi untuk mengukur sejauh mana keberhasilan suatu proses pembelajaran. Setelah melakukan evaluasi, kemudian guru menyampaikan hasil evaluasinya tersebut kepada seluruh siswa. Kemudian menyebutkan sampai dimana keberhasilan dan tingkat kegagalannya. Apabila evaluasi yang telah dilangsungkan dengan sungguh-sungguh dan telah disertai dengan nilai-nilai kejujuran menghasilkan sesuatu yang baik, maka bisa dikatakan berhasil. Namun, jika belum, maka hendaknya seorang guruintrospeksi untuk mengadakan evaluasi diri, kemudian dilakukan perbaikan (remidi) kepada siswa, tanpa mengenal lelah dan terus mencari cara yang lebih baik, kreatif, inovatif dalam proses pembelajarannya untuk meraih hasil yang baik dan nyata.

Selain tiga tugas di atas, seorang guru juga mempunyai tanggung jawab terhadap siswanya agar berusaha mengembangkan (mengeksplorasi) kemampuan siswanya. Sehingga kelak diharapkan seorang siswa akan memperoleh ilmu yang bermanfaat dan dapat menggunakan ilmunya itu untuk kepentingan dirinya maupun untuk kepentingan yang lebih luas.

Semoga dengan bekal kompetensi pedagogic tersebut, guru-guru di Indonesia akan mampu mencetak siswa-siswa yang berprestasi, sehingga 20 tahun ke depan akan lahir generasi Indonesia yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, simpatik, mempunyai rasa empati, mumpuni, berilmu pengetahuan, menguasai keterampilan hidup, serta berakhlakul karimah.





---------- Fakhrurroji, S.Pd 
(Guru Sekolah Dasar (SD) Negeri Procot 01)


Minggu, 18 Mei 2014

Kepemimpinan Kolektif, Belajar Kolaboratif dalam Pendidikan

Kepemimpinan Kolektif, Belajar Kolaboratif dalam Pendidikan - Kepemimpinan (leadership) sebagai sebuah proses belajar bersama yang saling menguntungkan yang memungkinkan seluruh elemen sebuah institusi turut ambil bagian dalam membangun sebuah kesepakatan yang mengakomodir tujuan semua. Lambert (1998: 5) menegaskan, bahwa kepemimpinan berhubungan dengan berlajar bersama, dan mengkonstruksi tujuan dan pengetahuan secara kolektif dan kolaboratif.

Dalam maknanya yang luas, kolaborasi berarti keterlibatan seluruh konstituen pendidikan. Ketidakhadiran satu konstituen saja bisa mengakibatkan gagalnya usaha perubahan. Cheng dan Chan (2000) dalam studi mereka tentang pengalaman Hong Kong dalam melaksanakan program SBM (school-based management), menyimpulkan bahwa reformasi pendidikan melalui gerakan SBM merupakan proses yang sangat “complicated” yang melibatkan hubungan-hubungan ekologis antar berbagai konstituen sekolah. Seperti antara kantor pusat dan daerah departemen yang mengurus pendidikan, badan-badan yang mensponsori sekolah, dewan manajemen sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, alumni, organisasi-organisasi professional, dan masyarakat. Kolaborasi yang dimaksud bukan hanya sekedar berarti setiap orang dapat menyelesaikan pekerjaannya. Tetapi yang terpenting adalah semuanya dilakukan dalam suasana kebersamaan dan saling mendukung.

Kepemimpinan Kolektif, Belajar Kolaboratif dalam Pendidikan
Beberapa Negara yang melaksanakan gerakan MBS secara besar-besaran, tetapi tidak memperhatikan perubahan substantif dalam pedagogi dan dalam cara guru bekerjasama dalam menerapkan bahan-bahan pengajaran, mengalami kegagalan. Permasalahan intinya adalah karena ketiadaan perubahan dalam budaya kolaborasi tersebut. sebuah reformasi pendidikan menuntut upaya desain ulang secara mendasar terhadap strategi pengajaran dengan menekankan kolaborasi nyata sesama guru.

Ketika membandingkan antara sekolah yang berhasil dengan sekolah yang bermasalah, yang pertama lebih menekankan nilai-nilai kolektifitas dan kolaborasi, sementara yang kedua tidak. Pada tipe pertama, sekolah melibatkan seluruh konstituennya untuk merumuskan semua kegiatan sekolah dan menjaga komitmen mereka. Sementara pada tipe kedua, terjadi proses alienasi sehingga setiap orang bekerja sendiri-sendiri tanpa koordinasi dan arah yang jelas.

Sebagai sebuah institusi yang terus belajar (learning organizations), sekolah seharusnya membangun pengetahuan, skill, dan budaya pencarian yang tiada henti (constant inquiry) dalam lingkungannya. Dalam masyarakat yang terus belajar, baik kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan anggota masyarakat bertindak sebagai pelajar. Dua prinsip esensial sebuah masyarakat yang belajar adalah bahwa setiap individu memegang tanggung jawab utama untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan belajar mereka, dan bahwa setiap orang bertanggung jawab membantu orang lain mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan mereka dan menawarkan diri mereka sebagai sumber belajar yang fleksibel bagi masyarakat (Reynolds, 1994).

Jika sekolah berkeinginan untuk berinovasi dan mengembangkan performanya, maka ia seharusnya menjadi sebuah masyarakat belajar yang efektif. Seluruh komponen sekolah seharusnya secara bersama belajar bagaimana melaksanakan sesuatu secara berbeda melalui proses desain dan desain ulang berkali-kali. Organisasi yang mampu meningkatkan performa secara continue adalah organisasi yang tidak hanya membangun kondisi organisasi berupa keterlibatan yang tinggi, tetapi juga menerapkan proses pengembangan yang terus menerus untuk memperkenalkan pendekatan-pendekatan teknis dan organisasi yang baru. Lebih jauh, dengan membentuk forum kolaboratif, para guru menemukan jalan kerjasama dalam menyampaikan bahan-bahan pengajaran yang pada gilirannya mengarahkan mereka ke perubahan selanjutnya dalam penyusunan organisasi dan koordinasi untuk mendukung pendekatan baru dalam proses belajar mengajar.

Demikian ulasan tentang kepemimpinan kolektif-belajar kolaboratif dalam pendidikan, semoga bisa bermanfaat.


Membangun Kultur Pendidikan yang Efektif

Membangun Kultur Pendidikan yang Efektif - Para peneliti pendidikan mengakui bahwa sekolah yang efektif secara alami memiliki wajah yang beragam. Uline (1998) misalnya, mengkategorikan kegiatan sekolah yang efektif menjadi dua dimensi, kegiatan yang bersifat ekspresif dan kegiatan yang bersifat instrumental. Kegiatan yang bersifat ekspresif mencakup kepercayaan (trust) dan hubungan yang baik (healthy relationship) di dalam komunitas sekolah. Kepercayaan merupakan pondasi sekolah yang efektif. Kepercayaan juga penting bagi sebuah kerjasama dan komunikasi yang efektif dan merupakan basis hubungan yang produktif. Kegiatan yang bersifat instrumental mencakup suasana yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Seperti komitmen guru dan kemudahannya untuk dihubungi baik oleh siswa maupun sesama personel sekolah,

Dalam redaksi yang berbeda, Creemers (1996), menemukan bahwa sekolah yang efektif berbeda dengan sekolah yang tidak efektif dalam hal berikut; sekolah yang efektif menggunakan waktu dalam belajar secara lebih maksimal, memberikan materi yang terbaru, mendorong siswa untuk praktek secara mandiri, memiliki ekspektasi yang tinggi, menggunakan penguatan (reinforcement) yang positif, sedikitnya gangguan, disiplin yang ketat, suasana yang bersahabat, eksibisi karya siswa, dan kondisi fisik serta tata ruang kelas.

Membangun Kultur Pendidikan yang EfektifDalam studinya tentang lingkungan belajar di Pondok Pesantren, Jamaludin (2000) menemukan elemen lingkungan belejar yang tidak jauh berbeda. Terdapat 14 faktor yang mempengaruhi prestasi belajar santri di Pondok Pesantren. Faktor-faktor tersebut dapat dipadatkan menjadi 8, yaitu; (1) penekanan terhadap belajar; (2) kondisi fisik pesantren; (3) otonomi santri; (4) belajar bersama (cooperative learning); (5) ekspektasi belajar; (6) perhatian dan ekspektasi guru; (7) komunikasi antara guru dan orang tua; dan (8) penghargaan dan kepercayaan yang diberikan oleh guru. 0Setiap lembaga pendidikan, sebagaimana setiap individu dalam sebuah lembaga pendidikan, berbeda satu sama lain. Seperti layaknya manusia, sebuah madrasah atau lembaga memiliki getaran dan jiwa sendiri. Masing-masing mengekspresikan rasa tersendiri yang penting dan berbeda satu sama lainnya. Getaran tersebut berasal dari hubungan interpersonal dalam lingkungan sekolah yang pada gilirannya menciptakan kultur atau budaya sebuah lembaga pendidikan.

Studi tentang sekolah yang efektif membuktikan bahwa kultur atau budaya sebuah sekolah secara fundamental sangat menentukan kualitas sebuah system pendidikan. Pada banyak kasus, kegagalan sejumlah usaha reformasi pendidikan di banyak tempat berkaitan dengan ketiadaan perubahan yang radikal dalam kultur sekolah. Seorang mungkin bertanya, mengapa kultur, dan bukannya struktur? Hal ini karena kultur merupakan jiwa (spirit) sebuah sekolah yang member makna terhadap setiap kegiatan kependidikan sekolah tersebut, dan menjadi jembatan antara aktivitas dan hasilnya. Kultur merupakan sintesa antara etika dan rasionalitas, sebuah keadaan yang mengantarkan kita, minimal secara konseptual, melebihi batas-batas kekurangan manusiawi menuju tingkatan kreativitas, seni, dan intelek yang tinggi. Kultur juga merupakan kendaraan (vehicle) untuk mentransmisikan nilai-nilai pendidikan (Cavabagh dan Dellar, 1998). Jika kultur sebuah sekolah lemah, maka ia tidak kondusif bagi perkembangan sekolah. Sebaliknya, kalau kulturnya kuat maka akan menjadi fasilitator penting bagi pengembangan sekolah. Mengapa demikian? Karena restrukturisasi secara hirarkis saja tidak cukup memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan sekolah. Sebagaimana kompleksnya dunia pendidikan, sebuah usaha reformasi pendidikan menghendaki pendekatan multiperspektif, termasuk perspektif budaya atau kultur.

Secara sosiologis, kultur atau budaya mengacu kepada kebiasaan atau praktek-praktek, karakter-karakter yang merefleksikan kesepakatan-kesepakatan makna, kognisi, symbol, atau pengalaman sebuah kelompok masyarakat. Kultur mencakup cara berpikir, sikap terhadap hidup, dan pola hubungan social antar anggota masyarakat. Ia menyangkut cara seseorang berperilaku, member reaksi atau menyikapi sesuatu. Dalam kata-kata yang sederhana kultur merupakan “cara kita melakukan sesuatu di sini” (the way we do things around here).

Secara estetika, kultur berhubungan dengan suatu usaha tanpa henti untuk mencapai sesuatu yang diidealkan. Untuk menciptakan “realitas” ideal tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Dalam redaksi yang lain, Arnold melihat kultur sebagai pencarian terhadap kesempurnaan dengan maksud mengetahui apa yang menjadi kepentingan orang banyak.

Dari kedua definisi di atas mengandung makna sebuah proses yang terus menerus tanpa berakhir. Dengan demikian, jika kultur merepresentasikan idealitas manusia, maka ia merupakan sesuatu yang dinamis, makhluk progresif, sebuah potensi yang dapat membawa kepada proses belajar yang tak pernah berakhir, “Long life education”. Sekian, semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita.


Sabtu, 17 Mei 2014

Biografi Alexander Graham Bell Pembelajar Otodidak

Biografi Alexander Graham Bell Pembelajar Otodidak - Tak seberapa dapat pendidikan formal, tetapi diajar baik oleh keluarganya dan belajar sendiri, begitulah ihwal Alexander Graham Bell penemu telepon yang dilahirkan tahun 1847 di Edinburg, Skotlandia. Minat Bell memproduksi kembali suara vokal timbul secara wajar karena ayahnya seorang ahli dalam hal fisiologi vokal, memperbaiki pidato dan mengajar orang-orang tuli.

Bell pernah ke Boston, negara bagian Massachusetts tahun 1871. Di sanalah pada tahun 1875 dia membuat percobaan-percobaan yang mengarah pada penemuan telepon. Dia mengumpulkan paten untuk mengokohkan penemuannya di bulan Februari 1876 dan mendapat imbalan beberapa minggu kemudian. (Menarik sekali untuk dicatat bahwa seorang lain bernama Elisha Gray juga mengumpulkan paten penemuan untuk pengokohan mengenai peralatan serupa pada hari yang berbarengan dengan apa yang diperbuat Bell, hanya selisih beberapa jam saja).


Tak lama sesudah patennya diterima, Bell mempertontonkan telepon di pameran 100 tahun kota Philadelphia. Penemuannya menarik perhatian besar publik dan mendapat penghargaan atas hasil karyanya. Tetapi, The Western Union Telegraph Company yang menawarkan uang sebesar $100.000 buat penemuan alat itu mengelak membayarnya. Karena itu, Bell dan kawan-kawannya, di bulan Juli 1877, mendirikan perusahaan sendiri, nenek moyang dari American Telephone and Telegraph Company sekarang. Telepon dengan cepat dan besar-besaran mencapai sukses secara komersial. Sakarang ini AT & T merupakan perusahaan bisnis yang terbesar di dunia.


Biografi Alexander Graham Bell Pembelajar OtodidakBell dan istrinya yang di bulan Maret 1879 memegang 15 persen saham dari perusahaan itu tampaknya tak punya bayangan betapa akan fantastisnya keuntungan yang bakal diterima oleh perusahaan itu. Dalam tempo cuma tujuh bulan, mereka sudah jual sebagian besar saham mereka dengan harga rata-rata $250 per saham. Di bulan Nopember harganya sudah melesat naik jadi $1000 per saham! (Di bulan Maret itu isterinya-lah yang mendesak buru-buru jual karena dia khawatir harga saham tak akan sampai setinggi itu lagi!) Di tahun 1881 dengan gegabah mereka jual lagi sepertiga jumlah sisa saham yang mereka punyai. Meski begitu, toh dalam tahun 1883 mereka sudah bisa peroleh keuntungan seharga sekitar sejuta dolar.

Kendati penemuan telepon sudah mengorbitkan Bell jadi kaya-raya, dia tak pernah berhenti meneruskan penyelidikannya, dan dia berhasil menemukan lagi pelbagai alat yang berguna walau tidak sepenting telepon. Minatnya beraneka ragam, tetapi tujuan utamanya adalah menolong orang tuli. Istrinya sendiri tadinya gadis tuli yang dilatihnya sendiri. Empat anak, dua lelaki dua perempuan keluar berkat perkawinan tetapi keempatnya mati muda. Tahun 1882 Bell jadi warganegara Amerika Serikat dan meninggal tahun 1922.



Jumat, 16 Mei 2014

Biografi Martin Luther Penulis Tenar dan Produktif

Biografi Martin Luther Penulis Tenar dan Produktif - Martin Luther, yang pembangkangannya terhadap Gereja Katolik Roma dan melahirkan gerakan reformasi Protestan lahir di tahun 1483 di kota Eisleben, Jerman. Dia memperoleh pendidikan perguruan tinggi yang cukup baik dan pada suatu saat pernah belajar hukum (tampaknya atas dorongan sang ayah). Tetapi, secara keseluruhan dia tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal melainkan memilih jadi pendeta Augustinian. Di tahun 1512 dia meraih gelar Doktor dalam teologi dari Universitas Wittenberg dan segera sesudah itu terjun aktif dalam fakultas jurusannya.

Ketidakpuasan dan keluhan-keluhan Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma timbul setingkat demi setingkat. Di tahun 1510 dia melakukan perlawatan ke Roma. Sampai di situ dia terbengong-bengong kaget bukan kepalang menyaksikan pemborosan dan kemewahan duniawi para pendeta gereja Katolik. Tetapi, yang paling mendorongnya melancarkan protes adalah terutama segi perbuatan gereja yang berkaitan dengan masalah pengampunan dosa yang dilakukan oleh gereja. Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther menempel poster di pintu gerbang gereja Wittenberg yang berisi "sembilan puluh lima pokok sikap" yang diantaranya melabrak kemewahan hidup gereja secara umum dan kirim tindasan "sembilan puluh lima pokok sikap"-nya itu kepada Uskup Mainz. Selain itu, dicetaknya pula dan disebar luas ke mana-mana.


Biografi Martin Luther Penulis Tenar dan Produktif
Ruang lingkup protes Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma dengan kecepatan luar biasa menjalar dan meluas. Luther meningkatkan serangannya ke jantung masalahnya betul: mengingkari kekuasaan Paus, Dewan Gereja. Martin Luther menegaskan dia cuma tunduk pada tuntunan Injil dan dengan alasan pikiran sehat. Bisa dimengerti, gereja tidak senang dengan pendapat Luther ini. Luther diperintahkan datang menghadap pembesar-pembesar gereja dan sesudah saling dengar pendapat dan adu argumen serta perintah supaya Martin Luther mencampakkan pendapatnya, dia akhirnya dinyatakan "murtad" dan dinyatakan bersalah dan dikucilkan oleh dewan persidangan (1521) dan semua tulisan-tulisannya dinyatakan terlarang dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Mestinya --menurut kebiasaan-- Martin Luther mesti dibakar hangus sampai jadi arang seperti halnya orang yang membakar jerami. Tetapi, pandangan-pandangan Luther sudah tersebar luas dan mempengaruhi orang Jerman serta sebagian kecil bangsawan-bangsawan Jerman. Meski Martin Luther mesti juga pergi sembunyi selama setahun, dukungan terhadap dirinya begitu kuat sehingga dia bisa terlepas dari hukuman-hukuman kriminal yang menimpanya.

Martin Luther seorang penulis tenar dan produktif dan punya pengaruh luas. Salah satu kerja besarnya adalah menterjemahkan Injil kedalam bahasa Jerman. Ini --tentu saja-- membuka pintu bagi tiap orang yang melek huruf mempelajari Injil sendiri tanpa mesti lewat perantara gereja atau pendeta. (Kebetulan, terjemahan yang begitu indah dan sempurna menyebar pengaruh luar biasa terhadap bahasa dan kesusasteraaan Jerman).

Teologi Luther --tentu saja-- mustahil bisa dijabarkan di sini secara ringkas dalam ruang terbatas. Salah satu dari gagasan kuncinya adalah doktrin perlunya keyakinan terhadap kepercayaan semata-mata, suatu gagasan berdasar tulisan-tulisan St. Paul. Luther yakin, manusia menurut kondratnya menjadi suram karena dosa-dosanya dan semata-mata lewat perbuatan dan kerja lebih baik saja yang dapat menyelamatkannya dari kutukan abadi. Penyelamatan hanya datang lewat kepercayaan dan dengan berkat pengampunan Tuhan. Karena itu, menurut Luther, jelaslah sudah bahwa perbuatan gereja menjual pengampunan adalah tidak pada tempatnya dan sia-sia. Dengan begitu sekaligus berarti, pendapat tradisional yang sudah berkarat yang menganggap gereja itu perantara yang tak bisa disingkirkan antara seorang Kristen dengan Tuhan adalah sesungguhnya sesuatu yang sesat. Jika seseorang menganut doktrin Martin Luther, itu artinya hak hidup Gereja Katolik Roma tersapu habis sekali pukul.

Selain itu, dalam hal mempertanyakan peranan hakiki gereja, Luther juga melancarkan protes terhadap pelbagai macam keyakinan dan praktek peribadatan khusus. Misalnya, dia menolak adanya purgatory (keadaan sesudah mati dimana roh memerlukan penyucian lewat penyiksaan sementara), dan dia menolak kemestian membujang buat seorang pendeta. Dia sendiri di tahun 1525 kawin dengan bekas biarawati, punya enam anak. Luther meninggal dunia tahun 1546 di Eisleben tatkala sedang dalam perjalanan mengunjungi kota kelahirannya.

Martin Luther, tentu saja, bukanlah seorang pemikir Protestan pertama. Seabad sebelumnya dia sudah didahului oleh Jan Hus dari Bohemia, dan pada abad ke-14 seorang sarjana Inggris John Wycliffe, malahan di abad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap seorang Protestan pertama. Tetapi, pengaruh para pendahulu Martin Luther itu dalam gerakannya cuma punya daya cakup lokal. Di tahun 1517, ketidakpuasan terhadap gereja Katolik sudah merasuk ke mana-mana. Ucapan-ucapan Martin Luther sudah merupakan kobaran api yang berantai menyebar ke sebagian besar kawasan Eropa. Luther karena itu punya hak yang tak terbantahkan bahwa dialah orang yang bertanggung jawab terhadap sulutan ledakan dinamit pembaharuan.

Konsekuensi yang paling kentara dari gerakan Pembaharuan ini --tentu saja-- terbentuknya pelbagai macam sekte Protestan. Meskipun Protestan cumalah merupakan bagian saja dari kekristenan secara keseluruhan, dan bukan pula merupakan bagian terbesar, tetapi toh penganutnya melampaui jumlah para penganut Buddha bahkan dibanding dengan umumnya agama-agama lain.

Konsekuensi penting dari gerakan Pembaharuan ini adalah menyebar luasnya bentrokan agama bersenjata yang segera menyusul. Beberapa contoh dari perang agama (misalnya Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman yang bermula tahun 1618 dan baru berakhir tahun 1648) sungguh-sungguh suatu peperangan berdarah yang menelan banyak korban. Bahkan selain bentrok senjata, pertentangan politik antara Katolik dan Protestan memegang peranan penting di arena politik Eropa selama beberapa abad mendatang.

Pembaharuan juga memegang peranan yang ruwet namun penting dalam perkembangan intelektual Eropa. Sebelum tahun 1517 cuma ada satu gereja, yakni Gereja Roma Katolik dan tiap pembangkang dan yang punya pendapat lain segera dicap "murtad." Iklim main kemplang macam itu karuan saja tidak memberi kesegaran buat kebebasan berfikir. Sesudah pembaharuan karena pelbagai negeri sudah menerima prinsip-prinsip kebebasan berfikir dalam agama, dengan sendirinya memberi rasa aman dalam ihwal melakukan spekulasi terhadap pelbagai macam permasalahan.

Ada pula pengaruh lain yang layak dicatat, kebanyakan tokoh yang termasuk dalam daftar di buku ini adalah dari Inggris, melebihi tokoh-tokoh dari negeri lainnya. Jerman menyusul sesudah Inggris. Dapatlah dikatakan, daftar tokoh-tokoh ini sangat kentara didominasi oleh mereka yang berasal dari negeri-negeri Protestan baik Eropa Utara maupun Amerika. Jika kita teliti, hanya dua orang dari daftar (Gutenberg dan Charlemagne) hidup sebelum tahun 1517. Sebelum tahun itu, sebagian besar orang-orang yang tercantum dalam daftar buku ini berasal dari dunia lain dan orang-orang yang hidup di negeri yang sekarang terkenal dengan negeri Protestan secara perbandingan memberi sumbangan tak seberapa besar terhadap kebudayaan dan sejarah manusia. Ini terang menandakan betapa gerakan Protestan atau gerakan Pembaharuan bertanggung jawab atas fakta betapa banyaknya orang-orang termasyhur dari daerah ini dalam jangka waktu 450 tahun. Mungkin perkembangan kebebasan intelektual di daerah ini merupakan faktor utama.

Luther tidak samasekali terbebas dari kesalahan-kesalahan. Meskipun dia seorang pemberontak terhadap kekuasaan keagamaan, dia bisa bersikap amat cupet dan tidak lapang dada terhadap mereka yang punya pendapat berbeda dengannya dalam masalah keagamaan. Bisa jadi sikap cupet dan tidak lapang dada Luther ini mengakibatkan peperangan agama di Jerman jauh lebih sengit dan lebih berdarah ketimbang misalnya di Inggris. Lagi pula, Martin Luther teramat gawatnya anti Yahudi, dan tulisan-tulisannya yang amat keterlaluan serta hantam kromo terhadap Yahudi besar kemungkinan merupakan dorongan pembuka jalan buat Hitler berbuat kekejaman-kekejaman di abad ke-20.

Luther acap kali menekankan perlunya kepatuhan kepada kekuasaan pemerintahan sipil yang sah. Besar kemungkinan, latar belakang pokoknya adalah karena penolakannya atas campur tangan gereja terhadap pemerintahan sipil. (Jangan lupa, gerakan Pembaharuan bukanlah semata-mata percekcokan teologis, Sampai tingkat tertentu dia juga merupakan pemberontakan Nasionalis Jerman melawan pengaruh Roma, oleh sebab itu layaklah apabila sebagian gerakannya memperoleh dukungan besar dari beberapa pangeran Jerman). Lepas dari maksud-maksud Luther, pernyataannya di atas mendorong kaum Protestan Jerman menerima sikap absolut dalam hal-hal yang menyangkut politik. Dan dengan cara itu pula tulisan-tulisan Martin Luther turut melapangkan jalan bagi era kekuasaan Hitler.



Kamis, 15 Mei 2014

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Efektif

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Efektif - Setiap sesuatu memiliki ruh atau esensi. Ruh sebuah lembaga pendidikan adalah kualitas proses belajar mengajar yang diciptakan. Sebuah upaya membangun lembaga pendidikan yang efektif, apapun bentuknya, menjadi tak bermakna apabila tidak dibarengi dengan upaya menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi setiap siswa. Dalam dua decade terakhir, wacana tentang lingkungan belajar yang ideal dapat ditemukan dalam diskursus “Sekolah yang Efektif dan Sekolah yang Berkembang” (effectiveness school and school improvement). Ide tentang sekolah yang efektif sebagian muncul sebagai reaksi dan tantangan terhadap tuduhan bahwa madrasah atau sekolah dan guru bukanlah merupakan factor penentu keberhasilan siswa.

Jurnal-jurnal penelitian pendidikan tahun 60-an dan pertengahan 70-an secara umum memuat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan kognitif dan prestasi siswa lebih bergantung kepada kemampuan intelektual bawaan setiap individu siswa dan latar belakang keluarga ketimbang guru dan sekolah tempat mereka belajar. Tetapi studi ulang mendalam terhadap jurnal-jurnal tersebut menunjukkan hal sebaliknya. Hasil-hasil penelitian itu, walaupun didukung oleh studi psikologis dan sosiologis yang kuat, tidaklah berdasarkan data-data empiric dan dalam tataran tertentu sering disalahpahami. Reynolds (1985: 2) mengemukakan, meskipun data-data yang diperoleh tidak mendukung penjelasan-penjelasan tentang peran penting keluarga secara ekskulusif, dan meskipun terdapat bukti-bukti yang bertentangan, hasil-hasil studi dilaporkan sedemikian rupa sehingga tampak sesuai dengan paradigma yang sedang berlaku [1].

Dalam redaksi yang lain Schmuck (1984), memaparkan bahwa variable-variabel yang menggambarkan perbedaan-perbedaan dalam kebijakan sekolah, struktur, norma-norma, proses pendidikan yang terjadi, lingkungan yang memengaruhi, dan program yang dilaksanakan tidak terungkap dalam hasil penelitian tahun 60-an dan pertengahan 70-an tersebut, yang sesungguhnya justru sangat signifikan mempengaruhi prestasi siswa.

Menciptakan Lingkungan Belajar yang EfektifBeberapa hasil penelitian tahun 80-an dan 90-an, sebaliknya. Membuktikan bahwa kondisi-kondisi internal tertentu sebuah lembaga pendidikan benar-benar mempengaruhi prestasi akademik siswa. Kepercayaan (trust) dan hubungan yang sehat (healthy relationship) dalam lingkungan sekolah, misalnya, berpengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa. Sikap guru seperti menunjukkan perhatian, rasa hormat, dan kasih saying kepada siswa, mudah ditemui dan terlibat secara total dalam proses pembelajaran, kesiapan dan kemampuan menyampaikan materi pelajaran merupakan aspek-aspek yang menentukan kesuksesan dan kegagalan siswa. Tak kalah pentingnya, kepala sekolah juga member pengaruh yang tidak langsung tapi menentukan terhadap efektivitas sekolah dan keberhasilan siswa melalui visi, misi, tujuan, dan strategi yang dikembangkan dalam menjalankan roda aktivitas sekolah. Keadilan yang dirasakan siswa dan kepuasan yang mereka rasakan terhadap sekolah juga berpengaruh terhadap prestasi akademik mereka [2].

Secara intrinsic, ide tentang sekolah yang efektif adalah juga merupakan respon terhadap harapan agar sekolah menjadi tempat dimana semua siswa dapat belajar dengan baik. Jauh sebelumnya, John Vaizey (1962) menyerukan pentingnya “persamaan kesempatan” (equality of opportunity) dalam pendidikan. Vaizey melihat bahwa dunia kehilangan tidak sedikit orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi hanya karena system pendidikan yang tidak egaliter dan berpihak kepada sebagian siswa tertentu saja. Ia menolak asumsi bahwa setiap anak dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda (children are born intellectually sheep or goats). Sebaliknya, ia dengan tegas mendukung pandangan bahwa semua anak memiliki tingkat kemampuan intelektual bawaan yang sama, dan bahwa kemampuan lebih merupakan hasil pencarian ketimbang anugerah. Seorang anak bisa menjadi lebih atau kurang cerdas di samping tergantung pada kondisi keluarga dimana ia pertama kali mengawali hidupnya, juga pada lingkungan social dan pendidikan yang ia alami. Di sinilah sebuah system pendidikan, seperti madrasah atau sekolah, diharapkan dapan memainkan peranan penting dalam pembentukan intelektualitas, emosi, dan spiritualitas anak. Sekolah atau madrasah seharusnya menjadi wadah pemupukan kecerdasan setiap siswa, dan di atas segalanya, menjamin agar setiap siswa mendapat kesempatan belajar yang sama dan layak.

Gagasan-gagasan tentang sekolah yang efektif adalah dalam rangka menjawab tantangan di atas. Murphy menegaskan, kontribusi utama dan fundamental ide sekolah yang efektif adalah adanya komitmen agar sekolah menjadi tempat yang kondusif dimana semua anak dapat belajar dengan baik. Perspektif sejarah bahwa sekolah dapat diidentifikasikan secara pasti dari status sosio-ekonomi orang tua siswa ditolak secara tegas. Sejauh ini, termasuk di Negeri ini (Indonesia), pandangan bahwa prestasi seorang anak sangat ditentukan oleh latar belakang sosio-ekonomi orang tuanya masih mengakar cukup kuat. Keadaan ini sedikit banyak menjadi alas an sebuah lembaga pendidikan ketika tidak mampu berbuat banyak terhadap siswa yang berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah.

Sekolah yang efektif, sebaliknya, mengukur keberhasilan siswa tidak dalam kondisi absolute di luar jangkauan sekolah (seperti latar belakang ekonomi atau pendidikan orang tua) tapi dalam hal nilai tambah (value added) yang bisa diberikan sekolah bagi pengembangan kemampuan siswa. Filosofi bahwa keberhasilan akademis yang rendah dan perilaku ganjil siswa secara pasti merupakan masalah individu anak atau keluarganya tidak lagi bisa diterima. Latar belakang ekonomi siswa yang lemah atau “kemampuan bawaan” siswa yang minim tidak lagi relevan dijadikan alasan prestasi siswa yang rendah. Justru di sinilah peran sesungguhnya sebuah lembaga pendidikan, yaitu untuk membuat mereka menjadi manusia cerdas dan baik. Pernyataan ini tentunya tidak bermaksud menafikan peranan kemampuan intrinsic individu siswa serta pengaruh orang tua dala membentuk kualitas moral dan intelektual anak. Justru orang tua merupakan mitra terpenting sekolah dalam membentuk moralitas dan kemampuan intelektual anak. Penelitian-penelitian pendidikan seperti yang dilakukan oleh Cavanagh (2000), Coleman (1998), dan Creemers (1996) menunjukkan bahwa orang tua atau keluarga dan individu siswa merupakan aspek-aspek penting dari keberhasilan siswa, dan karenanya perlu dibangun kerjasama antara guru, orang tua, dan siswa.

Demikian ulasan tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Mudah-mudahan bisa membuat kita semua mengerti bahwa anak sesungguhnya memiliki kemampuan bukan sama sekali tidak memiliki kemampuan. Tugas kita sebagai guru dan orang tualah yang harus menumbuh kembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka agar mereka bisa nyaman dan semangat dalam belajar. Semoga bermanfaat.



Reff: 
[1] Reynolds, D. (1985). Introduction: Ten Years On – A Decade of Research and Activity in School Effective Research Riviewed. In D. Reynolds (ed) “Studying School Effectiveness”. London: The Falmers Press.
[2] Aroga, M.S. (1999). La Verneda-snt Marti: A School Where People Dare to Dream. “Harvard Educational Review”, 69 (3), 320-335.