Translate

BISNIS ONLINE

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Seksual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Seksual. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2014

Bahaya Pornografi bagi Mental dan Pola Pikir Remaja

Bahaya Pornografi bagi Mental dan Pola Pikir Remaja - Masa remaja sarat dengan berbagai gejolak psikologi. Sedikit saja tersinggung, maka emosinya meledak-ledak dan biasanya tak terkendali. Masa ini juga masa yang sarat fantasia tau khayalan. Antara kekuatan emosi dan khayalan memungkinkan digunakan dalam berbagai hal yang negatif di antaranya pada penyimpangan seksual dan pornografi. Seks itu sendiri pada dasarnya adalah kekuatan. Seks bisa mendorong dan mempengaruhi seseorang untuk berbuat apa saja demi tujuan nafsunya. Seks bisa juga berarti api, sedikit saja tersulut, maka gelombang bara yang dahsyat akan membakar segala apa yang ada. Seseorang yang mulai bermain dengan syahwat (seks) berarti mulai bermain dengan api. Sifat api biasanya membakar dan membesar jika ada respon atau bahan yang layak terbakar. 

Jika kekuatan emosi remaja bersatu dengan kekuatan seks, maka bisa terbayang masa depan mental remaja itu sendiri. Tak heran jika para psikolog sendiri lebih cenderung mengkhawatirkan jika ternyata kekuatan emosi ini berpadu dengan seks. 

Realitas dalam kehidupan modern ternyata telah berbicara banyak mengenai kasus penyimpangan seksual yang dilakukan para remaja. Hampir 75% kejahatan seksual dilakukan para remaja baik usia sekolah maupun mereka yang berada dalam transisi menuju kedewasaan. Dengan demikian, terbuktilah bahwa begitu bahaya jika mental remaja telah terpadu dengan masalah seks. 

Jika masalahnya sedemikian gawat, maka pornografi menjadi sebuah masalah tersendiri bagi peradaban modern. Dunia barat sendiri yang lama memproklamirkan kemajuan, dari segi moral remaja telah dihancurkan oleh kekuatan “free sex” dan pornografinya. Terutama para remajanya, mereka telah dibakar dengan berbagai tayangan erotic bahkan dari semenjak sekolah dasar, lewat berbagai bacaan atau tayangan televise dan radio. Hingga bisa dibayangkan bagaimana kehancuran generasi penerus mereka di masa mendatang. 

Jika diperinci satu persatu, bahaya pornografi ini di antaranya: 

Bahaya Pornografi bagi Mental dan Pola Pikir Remaja
Pertama, memberikan fatamorgana negatif dalam daya khayal remaja yang berakibat mereka tersiksa dari sudut mental. Mengapa mereka mesti tersiksa? Sebab utamanya adalah tidak adanya penyaluran. Sedangkan sebagaimana disebutkan di muka, seks adalah kekuatan. Maka jika kekuatan ini tidak tersalur, bukan hal mustahil terjadi tindakan-tindakan yang keluar dari norma masyarakat dan agama. Yang lebih berbahaya jika fantasi seks ini menjadi sebuah beban mental. Jika ini terjadi, maka mereka menjadi sosok yang terbelakang dari segi mental. Mereka menjadi sosok manusia minder dan merasa terasing dari lingkungan sekitarnya. Akibat dari minder atau keterbelakangan mental ini di antaranya, (1) Memicu tindakan pemuasan seksual dengan diri sendiri yaitu mastrubasi atau onani; (2) Mendorong pemuasan seksual pada sosok yang tak berdaya pada lawan jenis. Hal ini terbukti, gencarnya pornografi dalam berbagai media, di mana-mana bermunculan kasus-kasus pemerkosaan anak kecil dan lebih sadis lagi munculnya berbagai kasus sodomi; dan (3) Memicu hubungan seks ekstramarital atau pemuasan hubungan seksual dengan anggota keluarga sendiri, baik kakak terhadap adik atau sebaliknya. Mengapa hal ini terjadi? Karena seks adalah kekuatan dan jika dorongan telah memuncak, bisa gelap mata sehingga tidak mampu mengidentifikasi siapa yang digauli.

Kedua, mengganggu proses berpikir kreatif. Bagi remaja yang dalam usia sekolah memang seharusnya berpikir tentang studinya dan berusaha meraih prestasi sebaik-baiknya. Tapi bagi remaja yang terobsesi dengan pornografi akan sulit mengkonsentrasikan pikirannya pada belajar mengingat kemampuan daya ingatnya telah tercemari nafsu seksual. 

Ketiga, mendorong rasa ingin tahu lebih jauh hal-hal yang berifat porno. Mereka yang pernah melihat buku atau tayangan porno (blue film), perasaannya sangat bergejolak dan jika terus menerus akan memiliki keinginan atau rasa penasaran untuk melihat lebih “hebat” dari yang pernah ia lihat sebelumnya. Terutama bagi remaja yang tidak dilandasi pendidikan agama, akan lebih jauh lagi melangkah dan bukan hal mustahil pemuasannya pada lawan jenis.

Dan keempat, menimbulkan sifat permisif. Remaja yang sering melihat tayangan porno biasanya lebih agresif menarik lawan jenisnya (baca: gonta-ganti pacar) untuk pemuasan nafsu. Akibatnya mereka telah terbiasa atau membiasakan diri bergandengan tangan, berpelukan, ciuman, dan meraba ke sana sini tanpa merasa berdosa bahkan mungkin akhirnya mereka justru merasa bangga dan merasa bahwa hal itu bagian dari “mode modern”. Sikap seperti inilah yang disebut dengan permisif, serba boleh atau menghalalkan segala cara. 

Demikian uraian singkat tentang bahaya pornografi. Mari kita bersama-sama baik orang tua, sekolah dan pemerintah, selamatkan anak-anak bangsa ini dari hal tersebut. Tentunya dengan pendidikan yang benar tanpa menafikan fitrah atau potensi yang anak-anak kita miliki. Jayalah terus Indonesia-Ku.


Minggu, 08 Juni 2014

Pendidikan Seks pada Anak-Anak dan Remaja

Pendidikan Seks pada Anak-Anak dan Remaja - Berita mengenai kekarasan seksual terhadap anak-anak akhir-akhir ini menjadi berita paling santer di TV bahkan beritanya lebih ramai dari pada berita koalisi politik menjelang pemilihan presiden. Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya tetapi juga terjadi karena adanya kesempatan. Anak-anak begitu rentan menjadi korban kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa para pelaku kejahatan seksual cenderung mengincar anak-anak untuk menjadi korbannya? Ada beberapa alas an yang sering diungkap oleh pelaku kekerasan seksual yang tertangkap oleh pihak berwajib diantaranya adalah orientasi seksual yang menyimpang dari pelaku yakni “pedofilia” atau gairah untuk menyalurkan hasrat seks pada anak-anak (baca juga postingan: Jenis Penyakit Psikoseksual). Yang kedua adalah sering kali pelaku adalah orang-orang yang pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa lalunya.

Wacana mengenai pendidikan seksual pada anak-anak sekolah kembali ramai dibicarakan oleh insane pendidikan di negeri ini, adanya berita kekerasan seksual yang menimpa siswa-siswa sekolah taman kanak-kanak Jakarta Internasional School seolah menyadarkan kembali ingatan kita akan pentingnya pengetahuan mengenai pendidikan seksual kepada anak-anak agar mereka lebih memahami arti pendidikan seks secara lebih komprehensif. Sehingga mereka tidak terjebak dalam kehidupan seks yang salah. Membicarakan masalah seksual di masyarakat kita yang masih memegang teguh etika ketimuran sepertinya menjadi suatu hal yang tabu, apalagi apabila orang tua membicarakan hal-hal yang berbau seks di hadapan anak-anak sering dianggap tidak sopan, tidak tahu adab sehingga jarang sekali orang tua dan anak berkomunikasi dan berbicara mengenai masalah tersebut. 

Rasa tabu dan kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak dalam membicarakan masalah seksual, kadang membuat anak mencari tahu sendiri tentang arti dari seks. Bagi anak-anak remaja yang sedang dalam masa peralihan dan juga mempunyai rasa keingintahuan yang besar terhadap hal-hal yang mereka anggap baru, tentunya timbul penasaran terhadap apa yang namanya seks. Hal ini tidak dapat kita salahkan karena merupakan naluri apalagi remaja yang mulai masuk pada masa pubertas. Keinginan remaja untuk mengetahui tentang arti seks dapat diarahkan oleh orang tua dan guru sehingga mereka tidak melakukan penyimpangan dan juga bisa memperoleh pengetahuan seksual yang gamblang dan jelas serta benar sesuai dengan kaidah pendidikan agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Pendidikan seks perlu diajarkan sejak usia dini kepada anak-anak kita agar mereka tidak mudah terjebak dalam pergaulan bebas dan orientasi mengenai seks yang salah kaprah. Contoh pendidikan seks yang bisa diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini dalam lingkungan keluarga adalah membiasakan tidur dengan kamar terpisah antara anak laki-laki dan anak perempuan, tidak mandi bersama antara anak laki-laki dan anak perempuan tentunya disertai dengan penjelasan-penjelasan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak mengapa hal tersebut harus dilakukan. Guru dan orang tua adalah sosok yang penting serta mempunyai pengaruh yang besar dalam tumbuh kembang anak. Sehingga peran guru dan orang tua sangatlah vital dalam memberikan pendidikan mengenai seks kepada anak-anak (baca juga postingan: Orang tua sebagai Partner Sekolah dalam Membelajarkan Anak). 

Guru sebagai sosok yang digugu dan juga ditiru oleh anak-anak dapat menyampaikan pendidikan seks kepada anak didiknya tentunya dengan bahasa yang edukatif dan juga mudah dipahami oleh anak didiknya. Kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat semua orang bisa mengakses informasi dengan begitu cepat dan tanpa batas, apalagi anak zaman sekarang yang sudah melek teknologi dengan dilengkapi dengan gadget canggih dan modern yang dapat mengakses internet 24 jam. Mereka bisa saja mengakses konten-konten dan juga berbagai artikel mengenai pornografi kapan saja dan di mana saja dengan bebas. Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan pada orang tua, karena dengan melihat dan membaca artikel maka fantasi remaja bisa membahayakan bagi perkembangan mentalnya. Apalagi rasa keingintahuan dan rasa ingin mencoba pada diri remaja yang sedang memasuki masa pubertas sangatlah tinggi sehingga apabila hal ini tidak disalurkan dengan hal-hal yang positif dapat menimbulkan dampak negatif bagi remaja. Misalnya terjadi seks bebas yang berujung pada kehamilan dan aborsi pada remaja puteri akibat pergaulan tersebut.

Orang tua pun harus lebih memperhatikan tingkah laku anak-anaknya ketika di rumah. Jangan sampai orang tua terlena dan membiarkan anak-anaknya tanpa control terhadap alat-alat komunikasi yang dimiliki anak-anaknya. Sesekali orang tua juga perlu mengontrol apa saja yang terdapat pada HP dan gadget anak-anaknya sehingga orang tua tidak kecolongan nantinya.

Bagaimanapun peran dan kontrol orang tua sangalah penting dalam mengawasi tumbuh kembang anak-anaknya yang sedang dalam masa peralihan menuju fase remaja. Pendidikan moral dan agama perlu lebih ditekankan, juga arahan dari orang tua agar anak lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang bernilai posotif bisa menjauhkan anak-anak dari pemikiran-pemikiran negatif dan keinginan untuk mencoba hal-hal yang berbau pornografi sebelum waktunya. Terakhir mari selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi. 






----------- Imron Abkar
(Aktivis Pendidikan tinggal di Tegalglagah  Brebes)

Kamis, 22 Mei 2014

Jenis Penyakit Psikoseksual

Jenis Penyakit Psikoseksual - Fenomena di TK JIS menghentakkan dunia pendidikan. Pendidikan anak usia dini tercoreng gara-gara orang yang seharusnya menyiapkan anak didik agar kelak menjadi anak bangsa yang berguna kenyataannya malah dibekali pengalaman perilaku yang menjijikan seperti binatang. Berita pedofilia di TK JIS ramai dibicarakan orang, muncul berita yang sama yaitu pelecehan seksual di Sumedang oleh EJ 62 tahun dibekuk polisi karena melakukan pelecehan seksual kepada 11 bocah laki-laki dan perempuan berusia 5-7 tahun. Disusul kemudian di Sukabumi yang mencapai 110 lebih.

Kasus-kasus pelecehan seksual pada anak tidak lepas dari fenomena pedofilia. Walaupun tidak semua pelecehan seksual pada anak dilakukan oleh penderita pedofilia. Ada 10 jenis penyakit psikoseksual.

Jenis Penyakit Psikoseksual


Pertama, PEDOFILIA. Kelainan seksual ini ditandai dengan kesulitan menyalurkan seksnya dengan orang dewasa kemudian penyalurkan melibatkan seksual dengan anak-anak, umumnya di bawah usia pra-remaja. Perlakuan awal dengan merayu, memegang kemaluan, kemudian meningkat mengulum kemaluan anak atau sebaliknya dan puncaknya adalah sodomi. Kedua, EKSIBISIONISME. Kelainan seksual yang akan memperoleh kenikmatan dengan kesukaan memperlihatkan organ kelamin pada orang yang dikenal, kepada orang lain yang tidak ingin melihatnya. Kemudian meningkat melakukan “autoeroticism” (praktek seksual merangsang diri sendiri) dengan khayalan, dengan gerakan sambil memperlihatkannya kepada orang lain. Ketiga, FROTTEURISME. Kelainan seksual akan memperoleh kenikmatan dengan menggesek-gesekkan organ kelaminya kepada orang lain yang tidak menginginkannya. Perlakuan awal dengan menempelkan kemaluannya kepada orang lain kemudian meningkat menggesek-gesekkan. Perlakuan ini sering dilakukan pada saat sibuk, di tempat ramai seperti bus atau di tempat yang sesak. Keempat, FETISISME. Kelainan seksual yang mencapai kenikmatan seksual dengan menggunakan objek bukan manusia, paling sering pakaian dalam lawan jenis, menempelkan kemaluannya pada pakaian dalam lawan jenis kemudian meningkat memakainya kemudian menggesek-gesekkannya. Kelima, SEKSUAL MASOKISME. Kelainan seksual yang akan mencapai kenikmatan dari rasa sakit. Gangguan seksual ini melibatkan kesenangan dan kegembiraan yang diperoleh dari rasa sakit pada diri sendiri, baik yang berasal dari orang lain atau dengan diri sendiri. Gangguan ini biasanya terjadi sejak kanak-kanak atau menginjak remaja yang sudah mulai kronis. 

Keenam, SEKSUAL SADIS. Kelainan seksual yang akan mencapai kepuasan seksual dengan menyakiti orang lain. Seksual sadisme bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, baik heteroseksual maupun hubungan homoseksual. Ketujuh, TRANSVESTIC FETISISME. Kelainan seksual ini ditandai dengan kepuasan mengenakan pakaian perempuan oleh laki-laki heteroseksual. Kelainan seksual dimulai pada saat remaja secara diam-diam (tanpa ingin diketahui oleh orang lain), dan kemudian saat beranjak dewasa mulai berpakaian perempuan lengkap dan di depan umum. Kedelapan, VOYEURISM. Kelainan seksual pada laki-laki yang akan mencapai kenikmatan seksual dengan menyaksikan atau mengintip perempuan yang telanjang, membuka baju, atau melakukan seks. Ketika menyaksikan atau mengintip berfantasi melakukan hubungan seks dengan korbannya, tetapi ia tidak benar-benar melakukan itu jarang ada kontak fisik. Kesembilan, BESTIALITAS. Kelainan seksual yang mencapai kenikmatan seksual dengan hewan. Hewan yang jadi objek kepuasan seksual adalah hewan piaraan seperti anjing, domba, atau kambing. Perlakuan awal dengan mengelus-elus hewan, menciumi dan kemudian kontak fisik. Kesepuluh, NECROPHILLA. Kelainan yang menggambarkan perasaan atau perilaku seksual dengan melibatkan mayat. Perlakuan kelainan seksual ini mendapatkan kepuasan seksual dengan mayat yang dilakukan dengan cara meraba-raba organ tertentu, memeluk dengan kegairahan seksual.

Demikianlah uraian tentang jenis-jenis penyait psikoseksual. Kewaspadaan bersama terhadap kejahatan seksual perlu dijalin bersama antara orang tua, sekolah, masyarakat, dan dinas-dinas terkait. Semoga bisa bermanfaat.






----------- Abdul Chamid, S.Pd, Kons
(Ketua Laboratorium ABKIN Kabupaten Tegal)